
Merasa sedikit bosan dengan melihat bursa saham yang penuh grafik, Kleine menoleh ke arah jendela. Dia berdiri dan berjalan untuk mengintip ke tetangga sebelah lagi. Teringat akan bau harum yang menggoda tadi pagi, Kleine Marasa dia perlu mendekati pria tadi.
Tapi Kleine tidak suka terlalu dekat dengan lawan jenis? Jadi harus bagaimana?
Dia sedikit alergi jika ada lawan jenis yang mendekatinya karena ada suatu pengalaman buruk yang tidak bisa dia ceritakan sekarang.
***
Siang berlalu dengan cepat menuju kota sore. Senja meliputi seluruh permukaan negara ini membawa keindahan yang layak dikagumi mata.
Delora dengan gaun hitam yang profesional diantar oleh seorang sopir menuju kompleks pondok indah. Tangannya terus berkutat dengan file yang ada di laptop yang selalu ia bawa kemanapun dia pergi.
"Nona ini sudah sampai!" Ujar sopirnya saat mobil itu telah berhenti dengan mantap di gerbang pondok indah.
Delora mendongak, "oh! Aku akan turun, kau bisa kembali setelah ini!" Balasnya ramah dan membereskan barang-barang serta tasnya untuk dibawa keluar.
Setelah mobil Honda putih itu pergi, Delora berjalan mendekat ke pos penjaga gerbang.
"Malam paman!" Sapanya pada paman penjaga yang sedang minum kopi.
Penjaga itu menoleh, "eh non Delora! Malam juga non," balasnya dengan senyum yang lebih ramah dari senyum Delora sendiri.
"Boleh masuk pak?" Tanya Delora menunjuk gerbang yang tertutup rapat.
Penjaga itu juga menoleh kearah yang Delora tunjuk. "Oh, non mau ke rumah non Kleine ya? Boleh kok non, ayo saya bukain pintunya non!" Ujarnya dan berjalan keluar dari pos lalu membawa kunci untuk membukakan gerbang untuk Delora.
Karena Delora tidak membawa mobil, penjaga itu hanya membuka pintu samping saja.
"Makasih pak, saya duluan ya kalau gitu!" Ujar Delora sebelum berbalik dan berjalan menuju ke bagian dalam kompleks.
Lampu di setiap rumah tidak menyala, hanya sebagian kecil saja. Untunglah lampu jalan kompleks ini sangat banyak, jadi jalanan tidak gelap.
Semua penghuni kompleks ini adalah orang kaya dan sibuk, itu sebabnya hanya sebagian rumah saja yang menyala.
Berbeda dengan kompleks lain yang mungkin sudah sepi di sore menjelang malam ini. Kompleks ini justru tampak sedikit ceria karena ada beberapa orang yang akan joging.
__ADS_1
Karena deadline mereka sangat penuh, mereka tidak punya waktu untuk berolahraga di pagi hari. Jadi, mereka hanya bisa meluangkan waktu di sore hari. Itupun tidak lama karena setalah delapan malam biasanya mereka sudah harus meeting dengan klien ataupun lembur. Kehidupan sebagai orang kaya yang benar-benar kaya itu sangat melelahkan.
Karena bagian rumah Kleine ada di tempat paling dalam kompleks, Delora sudah menghabiskan waktu satu jam penuh untuk berjalan ke sana. Sepertinya Delora harus meminta Kleine untuk mengusulkan mobil sewa di kompleks agar dia tidak perlu berjalan setiap kali dia akan menjemput Kleine.
Suara langkah kaki yang berirama santai mengikuti dibelakangnya. Delora tidak takut karena dia tahu seberapa amannya kompleks ini. Meskipun terlihat sepi, pada kenyataannya ada banyak penjaga yang mengawasi tempat ini di setiap seratus meter.
Dia menoleh untuk melihat siapa yang nasibnya sama sialnya dengan dia.
Geon tidak menyangka di malam hari seperti ini akan ada seorang gadis bergaun hitam formal yang berjalan senasib dengan dirinya. Jadi, saat dia gadis itu menoleh, Geon berinsiatif untuk menyapanya.
"Hai!"
Delora melihat seorang pria dengan jas hitam rapi. Dia hanya mengangguk saat pria itu menyapanya dan berbalik untuk melanjutkan jalannya.
Geon yang hanya mendapat anggukan menjadi canggung sendiri. Karena Delora sangat cantik dan berjalan sendirian saja. Geon sebagai pria baik merasa perlu untuk melindungi gadis itu.
Jadi dia berlari untuk mensejajarkan barisannya dengan Delora.
"Hai, namaku Geon! Boleh aku tahu namamu?" Tanyanya ramah dan mengulurkan tangan kanannya didepan Delora.
"Delora," jawab Delora singkat dan menerima uluran tangan Geon.
Lalu Delora melepaskannya cepat dan kembali berjalan lurus ke depan.
"Hei, tunggu aku!" Teriak Geon setelah bangun dari linglungnya akibat senyum ramah Delora yang begitu manis.
Setelah barisannya kembali sejajar, "kenapa kau berjalan sendirian ditengah malam begini? Apa tidak takut akan ada yang menganggu?" Tanyanya dengan ramah pada Delora yang tidak terlalu menyambut dia itu.
Tanpa menoleh Delora menjawab, "ini adalah pondok indah, kompleks teraman yang ada di Indonesia."
Geon mengangguk mengerti, dia seperti pernah mendengar betapa amannya kompleks ini. Tapi, untuk seorang gadis berpakaian begitu terbuka berjalan ditengah malam sendirian. Dia tidak tahu bahwa kompleks ini akan seaman itu. Tidak pernah terpikir olehnya.
Setelah itu, disepanjang jalan Geon akan terus bertanya. Dan Delora akan menjawab dengan cepat dan singkat. Bukan Delora sombong atau apapun itu, hanya saja dia sudah punya seorang pacar yang sedang bekerja di luar negeri sekarang. Tentu saja dia harus menjaga dirinya dan perasannya agar terus bertahan pada orang yang jauh di ujung kulon sana.
"Sudah sampai!" Ujar Delora, dia berhenti dan berniat pamit dengan ucapan itu pada Geon.
__ADS_1
Geon melihat rumah di belakang tubuh Delora.
"Ini rumah tuanmu? Hei, kita sepertinya bertetangga!" Serunya bersemangat.
Delora menoleh pada rumah hijau yang sangat gemilang di belakangnya dan mengangguk ringan sebagai tanda persetujuan. Dia juga sudah menebak sejak saat Geon yang tidak juga berhenti setalah sekian lama. Kompleks ini sudah lama Delora kunjungi, jadi dia tahu betul tempatnya. Semakin dalam artinya tidak ada lagi rumah lain setelah itu.
Di kompleks ini ada tiga rumah yang paling dalam dan paling mahal. Itu juga merupakan penutup kompleks.
"Sampai jumpa!" Pamitnya singkat lalu berbalik dengan wajah datar dan menekan tombol disebelah gerbang.
Pintu gerbang itu terbuka setelah Delora mengetuk beberapa tombol saja. Geon melihat Delora masuk, dan pintu itu tertutup lagi. Barulah setelah itu dia melanjutkan perjalanannya.
Saat Geon masuk, Lion menatapnya dari pintu rumah dengan mata menyelidik.
"Siapa?" Tanyanya dingin. Geon yang sudah terbiasa dengan pertanyaan singkat itu lengasung mengerti apa yang dia maksud. Jadi, dia langsung membalas," itu adalah sekertaris dari rumah hijau yang ada disebelah."
Lion hanya menoleh singkat pada apa yang Geon tunjuk. Lalu, dengan sombong berbalik untuk masuk ke dalam rumah.
Melihat rumah hijau itu membuat dia mengingat tatapan tadi siang dan juga keterikatan yang membuat dia ingin masuk ke rumah itu sendiri.
"Selidiki pemilik rumah itu!" Perintahnya setelah berhenti sejenak, lalu dia kembali berjalan masuk.
Geon ingin bertanya mengapa Lion meminta dia untuk menyelidiki altar belakang tetangga mereka. Tapi, dia belum sempat menjual mulutnya sat pintu itu tertutup dengan sendirinya.
Dia segera berlari untuk masuk dan mengejar Lion.
Delora juga tidak jauh berbeda dengan Goen nasibnya.
Entah itu adalah kerugian mereka sehingga memiliki tuan yang bertelinga gajah, atau justru sebaliknya?
"Siapa tadi?" Tanya Kleine menyelidik, dia bahkan menatap Delora dengan senyum menggoda.
"Jangan berpikir macam-macam, aku masih setia dengan dia yang disana!" Jawab Delora cepat, lalu dia melanjutkan. "Itu adalah asisten tetangga barumu."
Kline mengangguk dan berkata oh singkat. Lalu dia masuk dan mengabaikan Delora yang masih berdiri di teras rumah.
__ADS_1