
Lion mengangguk mengerti, lagipula dia tidak membuat bubur yang benar-benar asin. Dia sebelumnya menggunakan susu sebagai air untuk memasak berasnya. Jadi buburnya tidak akan asin saja, tapi juga manis dan renyah.
Seperti yang di katakan oleh Dewi, saat lion membawa semangkuk bubur dan secangkir air putih. Kleine terus menggeleng dan membuang muka. Lion tetap sabar dan membujuknya dengan penuh perhatian.
"Cobalah sedikit saja, ini sangat enak!" Ujarnya menyerahkan satu sendok yang sudah di dinginkan ke dekat bibir Kleine.
Kleine menggeleng keras kepala, saat ini hidungnya sedang tersumbat. Jika tidak, dia pasti sudah bisa mencium bau harum dari bubur itu.
"Makanlah satu suap saja!" Bujuk Lion dengan senyum tulus yang sangat asing bagi Kleine.
Melihat Kleine yang masih gigih dan tidak mau makan, dia melihat segelas susu di nakas. Tangannya meletakkan sendok itu kembali ke mangkuk bubur. "Kalau begitu habiskan susunya!" Ujar Lion dengan nada rendah yang membuat Kleine merinding takut.
Dia menggeleng keras karena perutnya sudah kembung oleh rasa susu yang hambar itu.
"Kalau begitu makan buburnya!" Ujar Lion memaksa tanpa memperbolehkan Kleine menolak. "Ayo buka mulutmu, pesawat akan mendarat..." Ujarnya seperti sedang membujuk balita untuk makan.
Kleine merasa teraniaya, tapi dia tetap membuka mulutnya dan melahap sendok itu. Lidahnya sedang rusak, dia tidak merasa begitu banyak tentang bubur itu. Tapi, dia tahu bahwa bubur itu tidak asin. Itu manis dan lembut.
Dia menelan bubur itu dengan susah payah.
Lion melihat ada sedikit bubur di pinggir bibir Kleine, dia mengambil tisu di nakas dan mengelap bibir Kleine.
Kleine melihat wajah Lion yang begitu fokus dan perhatian. Walaupun wajah itu tampak rusak, Kleine sangat malu dan jantungnya juga terasa aneh. Detak jantungnya terlalu kencang sehingga dia sangat malu dan takut Lion akan mendengarnya, jadi dia memalingkan wajah tanpa menunggu wajahnya benar-benar memerah.
Lion melihat pipi Kleine yang agak memerah, dia mengerutkan kening dengan bingung. Tangannya meletakkan tisu dan menyentuh kening Kleine. "Apa suhunya naik lagi? Pipimu memerah!" Ujar Lion heran, tapi kening Kleine tidak begitu panas lagi.
Kleine hanya diam dan tidak menanggapi, dia membuka mulutnya lagi untuk mengalihkan perhatian Lion.
"Kau mau lagi?" Tanya Lion dan mengambil sendok lainnya.
Dewi dan Bles yang mengintip ingin sekali bertepuk tangan saat ini. Mereka baru pertama kali melihat wajah Kleine yang merona. Hei, saat sakit dan merona. Itu benar-benar beruntung dan bisa menghilangkan malu.
__ADS_1
Tampak Kleine sadari, dia telah menghabiskan satu mangkuk bubur itu. Lion melihat mangkuk yang telah kosong dan menatap Kleine dengan puas. Sejauh ini memang belum ada yang bisa menolak masakannya. "Minumlah!" Ujarnya dan menyerahkan segelas air putih.
Kleine minum di bawah tuntunan Lion, tangannya menyentuh tangan Lion yang memegang gelas.
Lion merasa sengatan listrik telah menyakiti jantungnya yang terasa semakin kacau. Dia melihat tangan Kleine yang lembut dan halus itu. Di saat lion masih menikmati sentuhan itu, tangan lemah Kleine menarik tangan Lion yang berisi gelas menjauh dari bibir nya.
"Sudah!" Ujar Kleine lemah. Setelah makan dan minum, dia merasa jauh lebih bertenaga.
"Oh..." Ujar Lion sedikit kaget dan menarik gelas itu menjauh. Dia segera berdiri dengan nampan di tangannya. "Kalau begitu istirahat lah dulu dan jangan langsung berbaring. Aku akan pergi dulu, ada temanmu disini. Kau bisa menjatuhkan sesuatu jika ingin memanggil mereka!" Ujarnya santai dan membawa serta gelas berisi susu.
"Orang gila yang pikirannya memang gila!" Gerutu Dewi yang tanpa sengaja lewat di depan kamar itu dan mendengar ucapan dari Lion. Lagipula siapa yang akan mengajarkan orang lain untuk membanting sesuatu jika ingin memanggil orang lain? Dia rasa itu hanya bisa dilakukan oleh CEO yang terlalu stres dengan pekerjaannya!
Lion keluar setelah Dewi selesai menggerutu. Dia melihat Dewi dengan senyum kecil. "Aku akan pulang dulu!" Pamitnya dengan ringan. Dan Dewi hanya mengangguk.
Lion menyerahkan nampan itu ke Dewi, "tidak sempat untuk mencucinya. Semoga dokter itu bisa membantu saya!" Ujarnya dengan formal.
Dewi hanya mengangkat bahunya setelah Lion selesai berbicara. Ya, lagipula dia hanya perlu membuang tugas itu ke Bles. Tidak sulit!
Saat Lion kembali ke rumah sebelah, dia melihat ruangan yang sudah di atur sesuai dengan seleranya.
Dia mengambil segelas air, karena jujur saja bahwa dirinya sangat haus saat ini.
"Baguslah jika kau sudah kembali, kemari dan lihatlah beberapa dokumen ini. Ini adalah proyek penting yang diperlukan minggu ini juga. Jika ada yang salah aku akan meminta mereka untuk memperbaiki nya!" Ujar Geon dengan lambat.
Lion sudah berjalan ke sana dengan segelas air mineral. Dia melihat dokumen yang Geon maksud dari jauh.
Kleine di tinggalkan sendirian di kamarnya yang kosong, dia mendengar panggilan telepon dari luar. Setelah beberapa lama, tidak ada yang mengantarkan telepon miliknya itu ke sini. Kleine merasa bingung, tapi dia berpikir mungkin itu tidak penting karena dai tahu bahwa Bles akan langsung berlari kesini jika itu adalah panggilan yang sangat penting.
Bles memang orang yang mengangkat panggilan itu untuknya. Dia melihat bahwa itu adalah Delora. " Ya?" Jawabnya pelan, dia berjalan ke balkon dengan tenang.
"Bles?" Tanya Delora dengan bingung.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" Tanya Bles balik.
"Apa Kleine sedang bersama mu?" Tanya Delora lagi.
"Dia sakit!" Jawab Bles singkat.
"Apa? Bagaimana bisa? Dimana dia sekarang? Aku akan menjenguknya!" Ujar Delora panik, dia sudah lupa bahwa dia perlu kesehatan Kleine untuk bisa mendapat libur.
"Dia sekarang sedang istirahat, kau bisa menjenguknya besok!"
"Ah, baiklah!"
"Jadi kenapa kau memanggil Kleine?"
"Itu... Tidak begitu penting!"
"Kalau begitu kau bisa membicarakannya lain kali saja,"
"Ya, aku tutup dulu!"
Setelah telepon di tutup, akhirnya Delora ingat tujuan panggilan ini. Dia menepuk keningnya dengan kesal. "Bagaimana aku lupa!" Ujarnya dengan sedih dan penuh keluhan.
Saat ini Delora sangat ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar. Dia berharap besok Kleine sudah sembuh! Hanya doa ini yang bisa dia andalkan.
"Siapa?" Tanya Dewi yang berhasil membuat Bles kaget dan terjungkal ke belakang. Untung ada pembatas, jika tidak Bles tidak tahu apa yang akan dia alami sekarang.
"Kenapa kau muncul di belakang ku?" Tanyanya kesal karena nyawanya baru saja terancam tadi.
"Aku sudah muncul dua menit tiga detik yang lalu!" Jawab Dewi sembari melihat jam tangannya. ""Kau saja yang terlalu tidak peka!" Lanjutnya dengan malas. "Jadi siapa yang menelepon Kleine?" Tanyanya lagi.
"Itu adalah asisten perusahaan Kleine, Delora!" Jawab Bles dengan asal.
__ADS_1
"Oh!" Angguk Dewi kecil dan pergi dengan mulut yang terbuka lebar karena menguap. Tangannya menutup mulut itu dengan lembut.
###