
Terkadang kita tidak bisa mengetahui sebuah kebenaran jika kita tidak mengalami sebuah penderitaan.
Titik intinya adalah segala sesuatu itu perlu balasan dan pertukarannya.
Kamu tidak perlu memikirkan apa yang perlu kamu tukar untuk mendapatkan kebenaran. Karena jika kebenaran ingin terungkap, maka dia akan menukar sesuatu yang penting bagimu secara langsung.
Dan yang perlu kamu lakukan hanyalah menerimanya dengan sabar, dan menghadapi semuanya dengan ikhlas.
***
Sudah enam bulan berlalu, perputaran waktu memang begitu cepat dan tidak terasa. Enam bulan yang lalu, Kleine kembali lagi ke rumah ayahnya.
Kembali ke kehidupan yang memang miliknya sendiri. Dia di tarik paksa dan diancam agar mau pulang.
Kenyamanan hidupnya hilang, direnggut kembali oleh takdir. Dan jalan hidupnya yang lama dikembalikan lagi.
Kleine tidak tahu mengapa, tapi semenjak dia pulang Azel selalu mencari masalah dengannya. Dia akan ikut anak lain mengganggunya. Dan selalu mengadukan sesuatu yang tidak-tidak pada ibunya agar Kleine mendapat hukuman.
Semakin hari, semakin banyak jenis hukuman yang akan Kleine dapat. Tubuhnya semakin kurus, kulitnya kembali hitam dan tidak terawat. Dia benar-benar terlalu buruk dan membuat warga desa itu semakin menjauhi dan membencinya.
Apalagi kasus enam bulan lalu, dimana dia telah melarikan diri ke desa sebelah. Seluruh warga desa menganggap Kleine mencemarkan nama baik desa mereka.
Hari Kleine selama enam bulan ini sangat buruk. Dan seperti hari lainnya, hari ini Azel datang dengan teman nakalnya untuk menganggu Kleine yang sedang mencuci di sungai.
"Nih anak pembawa sial menganggu mata banget ya? Selalu aja ada dimana-mana, emang dia itu gak tahu malu ya! Selalu mau ngikutin kita?" Tanya Azel mencoba menghasut dua anak laki-laki nakal di samping kiri kanannya.
Dia menatap Kleine penuh kenangan, jika tidak bisa membuat gadis itu pergi. Dia bisa menyiksanya dan membuat dia merasa mati lebih baik dari hidup. Biarkan dia membuat hidup Kleine seperti di neraka dunia.
"Haiyaaa! Kau sangat benar Zezel! Gadis ini memang selalu mengganggu mata kita!" Ujar seorang anak laki-laki yang sama gendutnya dengan Azel.
"Benar-benar merusak pemandangan sungai yang indah!" Tambah dingin seorang anak laki-laki yang lainnya. Tubuhnya tidak gendut, dan proporsinya sangat pas.
Dia bisa dibilang adalah anak laki-laki yang tampan. Tidak perlu ditanya lagi, dapat diyakini bahwa kelak dia akan menjadi idaman banyak perempuan.
Karena dia adalah orang tampan, dia sangat membenci Kleine yang sangat jelek.
Dia memandangi Kleine dengan jijik setelah itu dia langsung membuang muka. Dia lebih suka melihat Azel yang sedikit berisi namun putih dan cantik, dibanding dengan gadis kurus dan dekil itu.
Kleine menatap mereka dengan wajah datar. Sejak awal dia tidak pernah mencari masalah. Bukankah mencuci itu di sungai?
Lalu siapa yang sebenarnya menganggu pemandangan di sini?
Bukankah lebih baik melihat taman bunga dibanding sungai tempat mencuci?
Jadi, apa salahnya dia mencuci di sungai?
Kleine bingung, tapi dia juga menatap waspada kepada tiga anak nakal itu.
Dia memegang erat pakaian yang akan dicucinya.
Dalam sekali lihat, dia bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh ketiga bocah nakal itu dari mata mereka yang melihatnya dengan licik.
Benar saja, mereka bertiga melangkah lebih dekat kearahnya dan ingin mendorong dia masuk ke sungai.
Kleine ingin melawan dan menghindar, tapi bagaimana bisa seorang gadis kecil yang kurus bisa menghadapi anak yang gendut?
Apalagi dia hanya sendirian dan mereka ada bertiga!
Ini jelas pembullyan yang sangat terbuka!
Tapi, lalu apa?
__ADS_1
Menurutmu akan ada yang membantu Kleine?
Di desa ini?
Sangat mustahil!
Kleine menutup matanya dengan pasrah, jika boleh jujur. Dia sangat benci perasaan ini!
Perasaan teraniaya, terkucilkan, terus-menerus diganggu.
Dan dia paling membenci satu perasan!
Dan itu adalah perasaan dimana dia tidak bisa melawan sedikitpun.
Dia sangat benci dirinya sendiri yang selalu mengalah dan takut amarah ibu tirinya.
Dia benci dirinya yang masih berharap mendapat belas kasih dari ayah kandungnya.
Dia benci dirinya sendiri lebih dari seluruh warga desa membencinya.
Mungkin suatu hari, akan ada hari yang baik.
Dimana dia bisa menerima dirinya apa adanya?
Atau mungkin suatu hari dia akan lebih berani melawan apa yang selama ini dia takuti!
Mungkin!
Mungkin.....
Ya.... Mungkin akan ada suatu hari nanti dan hari itu akan datang!
***
Dia sangat antusias menyambut puluhan tamu berseragam hitam di depan rumahnya.
Namun, meskipun dia sangat antusias, dia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya itu sebaik mungkin!
Sayangnya, dia bukanlah aktris, dan puluhan orang berseragam hitam itu adalah orang hebat. Mereka bisa menebak pikiran Toni hanya dalam sekali lirik saja.
Jaena menatap Toni dengan heran, mengapa Toni bisa begitu bahagia menghadap banyak orang menakutkan ini?
Dia sendiri saja sejak tadi sudah berusaha menahan diri agar tidak terlihat begitu gugup dan takut.
Dalam hatinya Jaena berpikir, siapa yang telah suaminya provokasi.
Dia ingin bertanya pada Toni melalui lirikan mata, tapi Toni mengabaikan dia. Jadi, Jaena hanya bisa duduk diam dengan patuh.
"Hei, kami ingin mengambil cucu tuan kami!" Ujar seorang pemimpin dari pasukan baju hitam itu.
Karena banyak mobil dan orang berseragam hitam itu masuk desa, banyak warga desa menjadi heran.
Sebab, mobil biasa saja sangat jarang datang ke desa mereka. Apalagi ini adalah mobil mewah dan ada lebih dari satu.
Dan yang paling mengejutkan adalah mereka datang ke rumah Toni.
Mereka memandang Toni penuh tanda tanya, tapi tidak ada yang bertanya secara langsung.
Setelah mendengar pernyataan dari salah satu orang berseragam hitam itu, mereka semakin penasaran.
Cucu tuan mereka?
__ADS_1
Siapa tuan mereka?
Apakah itu orang kaya?
Pertanyaan bodoh, jelas itu adalah orang kaya. lihat saja mobilnya dan seragam mereka!
Itu luar biasa untuk memiliki seorang anak kaya di desa tanpa ada satupun yang tahu.
Meskipun warga desa berpikiran terbuka, ada lagi yang berpikiran sempit.
Mereka bahkan mengira Toni telah menculik cucu tuan kaya itu.
Sehingga mereka memandang Toni dengan wajah yang tampak aneh.
Toni sendiri begitu tenang, dia tidak mendengar bisikan para warga desa. Dia dengan mantap mengangguk.
"Oke, kalian bisa tunggu sebentar!"
Setelah mengatakan itu, Toni berbalik tanpa menyuruh mereka duduk atau menampilkan basa-basi lainnya.
Dia mengajak istrinya ke dalam rumah.
"Dengar, kau panggil Kleine untuk segera pulang!" Ujar Toni dan mendorong Jaena agar segera mencari Kleine.
"Tapi, mereka itu siapa? Dan apa yang sebenarnya terjadi disini!" Tanya Jaena tidak mau didorong begitu saja.
Setidaknya beri dia penjelasan yang baik dulu sebelum dia bisa mengikuti kemauan pria itu.
Melihat Jaena yang tampaknya tidak mau berkompromi, Toni dengan terpaksa membisikkan rencananya pada Jaena.
Wanita itu tersenyum bahagia, lalu sedih dan bahagia lagi, dan terus begitu saat mendengar rahasia Toni.
Tapi, dia juga bahagia untuk hal yang Toni rencanakan.
Dia tidak tahu bahwa gadis yang selama ini dia anggap beban akan berguna juga hari ini.
Jadi, setelah mendengar rencana Toni yang baik. Jaena dengan langkah cepat mencari Kleine di sungai.
Sedangkan Toni sendiri berjalan keluar dan mengajak puluhan orang itu untuk duduk di kursi bambu di halaman rumahnya yang sempit.
"Aku sudah menyuruh istriku untuk memanggilnya, tapi sebelum itu, bukankah kita harus membicarakan sesuatu dulu tuan?" Ujar Toni dengan senyum liciknya.
Pria itu yang tadi memulai percakapan tidak mau ikut basa-basi Toni.
Dia dengan sigap mengeluarkan satu koper yang sangat indah. Dengan arsiran perak di masing-masing tepi kotak itu.
Saat di buka, koper itu berisi banyak lembaran kertas merah muda.
Toni meneteskan air liurnya dengan penuh kebahagiaan.
Uang yang begitu banyak!
Semua warga desa melihat uang yang begitu banyak. Mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak meneguk air liur mereka dengan rakus.
Uang sebanyak itu, siapa di desa ini yang pernah mempunyainya?
Orang ini memang sangat kaya!
Mereka bahkan berani mengeluarkan uang di tempat seperti ini dengan sangat santai!
Luar biasa!
__ADS_1