Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seventeen


__ADS_3

Yang tertawa belum tentu yang bahagia. Yang menangis juga tidak selalu yang menderita.


Dunia ini semuanya suka bersandiwara. Ada yang lemah selalu berpura-pura kuat. Ada yang kuat, berpura-pura lemah.


Itu sebabnya kita perlu mata kita untuk menjadi jelih dalam melihat.


Karena kadang, ada sosok yang terus tertawa namun selalu tertekan yang butuh kamu ungkap rahasianya untuk kamu hibur.


Dan kadang, kamu juga perlu menjadi sedikit pintar. Agar tidak tertipu oleh tipu muslihat orang yang bersandiwara itu.


***


"Akhhh..." Azel berteriak dan terus menghindari pipinya yang dicubit oleh bibinya itu.


"Sudah, kau ini sudah berumur masih saja kekanakan!" Ujar kakek tua itu merasa kasihan melihat cucu kesayangannya menderita.


Bibi Azel adalah keponakan tuan tua Galio, atau kakek Azel saat ini.


Namanya adalah Carlie, dia berumur empat puluh satu tahun sekarang. Awalnya dia sudah menikah, tapi karena tidak bisa punya anak. Suaminya berselingkuh dan dia memutuskan untuk menjadi lajang saja.


Karena orang tua Carlie sudah tidak ada, tuan tua Galio memutuskan agar Carlie tinggal di rumah besar Carlie saja.


Karena tidak memiliki anak, dia sudah menganggap Azel sebagai anaknya sendiri. Awalnya dia mencoba untuk mengangkat Azel menjadi anaknya.


Tapi, setelah memikirkan identitas dia sendiri di keluarga Carlie. Dia menjadi ragu karena jika dia mengangkat Azel di bawah namanya. Maka Carlie tidak akan punya kesempatan mewarisi perusahaan Carlie.


Keluarga Carlie sangat luas, ada banyak anak kandung tuan tua Carlie. Dan sebagian adalah anak pria. Sedangkan, Azel sendiri adalah cucu perempuan anak perempuan tuan tua. Belum lagi dia sendiri adalah perempuan yang sudah sangat sulit untuk bersaing dengan cucu lain yang lebih berkualitas.


"Ah, Azel marah sama bibi!" Ujar Azel cemberut dan membuang muka setelah kedua pipinya tidak lagi dicubit Carlie.


"Oh, maafkan bibi! Jangan marah lagi ya, bibi membawakan kamu oleh-oleh yang pasti akan kamu suka. Apa kamu mau melihatnya?" Bujuk Carlie pada Azel.


Lalu, dai berteriak keras memangil sopirnya untuk membawa barang-barang yang ada di bagasi.


"Lihat, ini, ini dan ini untukmu! Apakah kamu suka?" Ujar Carlie mendorong beberapa kantong kertas ke pelukan Azel.


"Wah, sangat banyak!!!" Teriak Azel girang. Wajahnya yang merah benar-benar sangat imut.


Dia membuka satu persatu tas itu.

__ADS_1


"Wahhh,... Bukankah ini tas LV yang terbaru dan sangat mahal itu?" Teriak Azel sangat riang.


Selagi Azel terus membuka oleh-olehnya. Carlie juga memberikan hadiah untuk tuan tua Galio.


"Ini bukankah gaun Gucci yang terbatas itu? Ah! Bibi terimakasih, Azel sangat senang," wajah Azel berbinar dan memeluk semua barang mahal yang diberikan oleh Carlie.


Carlie hanya mengangguk dan tersenyum manis.


***


"Ini..."


"Kenapa?" Tanya Kleine dengan malas menatap pemuda yang meminta bantuannya itu.


"Tidak!" Ujar pemuda itu cepat dan menggeleng dengan keras.


Berdiri didepan mereka adalah sebua kafe yang hendak Kleine kunjungi sebelumnya.


"Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" Ajak Kleine pada pemuda itu yang masih membeku.


Pemuda itu berjalan mengikuti Kleine dengan ragu. Apakah dia benar-benar meminta bantuan pada orang yang tepat?


Kafe itu sangat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa dan juga beberapa orang yang sedang bekerja sama.


"Duduklah!" Perintah Kleine.


"Waiters!" Ujarnya pelan setelah melihat pemuda itu duduk didepannya.


Seorang pelayan wanita datang melihat acungan tangan Kleine. Lalu, dia menyerahkan buku menu dengan sedikit sambutan ramah.


"Aku ingin ini, yang ini dan yang ini," tunjuk Kleine pada buku menu, pelayan itu mengangguk mengerti dan mencatat di buku kecilnya.


"Kau pesanlah!" Perintah Kleine dan memberikan buku menu pada pemuda itu.


Dengan kikuk pemuda itu memesan minuman saja.


Kleine mengangguk pada waiters itu, dan waiters itu pergi setelah menerima pesanan.


Dengan malas Kleine menguarkan handphone dari sakunya.

__ADS_1


"Bicaralah, apa yang bisa kau tawarkan jika aku membantumu? Seperti yang aku katakan, bahwa aku bukan orang baik," ujar Kleine malas dan menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.


Pemuda itu hendak menjawab, tapi tangan Kleine terangkat untuk menghentikannya bicara.


"Sebelum itu perkenalkan dirimu dengan detail dulu. Lalu jelaskan dengan singkat saja!" Ujar Kleine semakin malas.


Pemuda itu mengangguk mengerti.


"Namaku Jefri, aku adalah seorang hacker. Biasanya aku menjual software untuk menghidupi aku dan adikku. Tapi, belakangan ada orang yang mengetahui identitas dunia nyataku.


Mereka ingin mengambilku untuk dimasukkan ke organisasi mereka. Aku melarikan diri sejauh ini, tapi adikku terluka sampai koma karena menyelamatkan dari para penjahat itu.


Jika kau bisa membantuku membayar biaya rumah sakit agar adikku terus dirawat. Aku bisa menjadi pekerja tetap di perusahaan yang kau pimpin. Kau tidak perlu membayar ku, cukup berikan aku tempat tinggal dan biaya untuk merawat adikku saja..."


"Stop!" Ujar Kleine dengan pelan, tangannya bergerak naik turun untuk mencegah agar Jefri tidak terus mengomel.


Beberapa detik kemudian, seorang pelayan datang membawa pesanan mereka dengan kereta dorong.


Awalnya Jefri bingung kenapa dia dihentikan berbicara. Tapi, saat melihat pelayan yang menyusun pesanan mereka di atas meja, dia menjadi mengerti.


Setelah pelayan itu pergi, Jefri ingin melanjutkan kembali ceritanya. Tapi Kleine menggeleng dan mulai minum jus apel yang dia pesan.


Lalu, dia dengan wajah datar menyantap kue stroberi yang sangat manis.


Jefri sepertinya mengerti. Jadi, dia tidak melanjutkan penjelasan lagi. Dia mulai fokus pada minuman yang dia pesan. Karena dia sebelumnya tidak punya uang. Jefri tidak berani memesan banyak. Dia hanya bisa membeli minuman yang paling murah.


Es teh yang Jefri pesan memang bisa melegakan haus. Tapi, melihat meja yang penuh dengan kue dan makanan penutup lainnya. Jefri menelan ludahnya dengan iri. Dia menyentuh perutnya yang lapar.


Sejak kemarin dokter mengatakan bahwa adiknya harus dipulangkan segera karena terlalu lama tidak membayar uang pengobatan. Jadi, dari semalam Jefri mencoba mencari pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan uang.


Dia tidak punya komputer untuk mencari uang di web hacker. Dia juga tidak berani memasuki web itu sementara karena dia tahu organisasi itu masih mengincarnya.


Kleine yang makan dengan santai melihat setiap gerakan Jefri. Dia mendorong kue kering berbentuk beruang pada Jefri.


"Makanlah!" Ujarnya santai saat melihat tatapan Jefri yang penuh tanda tanya.


Jefri yang mendengar itu langsung senang. Dia langsung melahap kue itu tanpa basa-basi.


Sejak melihat tangan Kleine mencegah warga memukulnya. Jefri merasa yakin dia bisa mendapat perlindungan jika memegang paha Kleine dengan erat.

__ADS_1


Dia juga merasa tekanan di hatinya mulai menghilang jika dia berada dekat dengan Kleine.


Kleine melihat gaya makan Jefri yang sangat tidak senonoh. Dia hanya mengangkat bahunya dengan acuh.


__ADS_2