
Seseorang pernah berkata padaku, orang yang kita benci itu adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak bisa kamu hindari dan jauhi. Karena hal itu berarti kamu takut padanya.
Dan seorang musuh yang coba kamu hindari hanya akan menjadi bom waktu pada masa depanmu kelak. Jadi, hadapi dan lawanlah musuhmu agar dia tidak bisa berkutik nantinya!
***
"Kalau begitu ayo pergi!" Ujar Kleine dengan wajah datar, namun matanya tampak sangat bahagia.
Delora menatap Kleine dengan bersemangat setelah mendengar empat kata itu.
"Ah, baiklah kalau begitu aku akan mengurus pakaian yang akan kamu pakai malam ini!" Ujar Delora dengan cepat dan berlari kearah yang berlawanan dengan Kleine.
Dia berusaha untuk bergerak secepat mungkin. Dia tidak mau mendengar suara Kleine yang menyesal nantinya jika dia terlalu lama.
Melihat Delora yang begitu aktif dan bersemangat, Kleine hanya bisa mengangkat kedua bahunya dengan tenang. Berbalik kedepan lagi, dia berjalan dengan punggung tegak.
Setelah beberapa langkah ringan itu, dia melanjutkan kembali lari paginya mengelilingi kompleks perumahan pondok indah ini.
Tubuh Kleine semakin kecil ketika dia dimakan oleh jarak.
Ada mobil Porsche yang datang dari arah Kleine pergi. Mobil hitam itu bergerak cepat dan mantap menuju ketempat paling dalam pondok indah.
"Tempat ini sangat nyaman untuk bersantai selama beberapa hari. Karena ini adalah perumahan yang sangat sulit untuk dibeli oleh orang biasa. Jadi penghuninya sudah pasti tidak begitu menganggu.
Biasanya tempat ini seperti tidak berpenghuni disiang hari. Jadi, sangat bagus untuk tuannya yang mencari ketenangan." Ujar supir itu pada seorang Lion yang duduk di kursi belakang dengan tenang.
Lion tidak menanggapi ucapan asisten khususnya itu. Dia tetap berkutik pada berbagai dokumen yang begitu tebal di pahanya itu.
"Oh, tuan tua bilang besok dia akan berkunjung ketempat ini. Jadi, dia ingin tuan muda menyiapkan makanan yang dibuat khusus untuknya."
Geon melirik tuannya dari kaca, dia penasaran apa tanggapan tuannya setelah dia berbicara.
Tapi, dia harus kecewa, karena Lion tetap tidak menanggapinya.
Karena umur Lion semakin tua, dan dia masih tidak juga ingin dekat dengan gadis manapun. Tuan tua khawatir Lion akan melajang selamanya. Diakhir umurnya, tuan tua takut lion akan hidup sendirian setelah kematiannya.
Itu sebabnya belakangan ini dia selalu mencari masalah dengan Lion. Memperkenalkan banyak gadis cantik dari berbagai jenis dan kalangannya.
Tapi, Lion yang sangat jijik melihat para gadis itu menendang mereka semua pergi dengan tidak berperasaan.
Karena itu juga, Lion memutuskan untuk tinggal terpisah dari tuan tua. Tujuannya tentu saja agar tidak bertemu banyak wanita lagi saat dia pulang dan ingin beristirahat.
__ADS_1
Dia memerintahkan asisten khususnya untuk mencarikan dia sebuah rumah yang nyaman dan tidak akan ada yang bisa mengganggu. Dan disinilah mereka sekarang.
Kompleks ini adalah kompleks mahal yang tidak bisa dibeli meskipun seseorang punya uang. Yang bisa masuk ketempat ini juga harus mendapat izin langsung dari pemilik rumah yang ada didalam kompleks.
Intinya tidak akan ada tamu yang bisa datang seenaknya.
Memikirkan ekspresi tidak senang Lion selama beberapa Minggu ini. Geon sangat tertarik untuk melihatnya lagi. Tapi, sekarang dia tidak bisa melihat ekspresi tidak sabar Lion lagi.
Mobil Porsche hitam itu berhenti didepan gerbang sebuah rumah yang indah.
Ada banyak pohon hijau yang menambah kesan nyaman di depannya.
Gerbang itu bergeser otomatis saat Goen menekan tombol klakson. Setelah seluruh gerbang terbuka, mobil itu kembali maju dengan tenang.
Lima menit berlalu, mobil itu akhirnya berhasil terparkir sempurna didepan rumah bertingkat dua yang disusun indah oleh arsitek khusus.
Delora mendengar bunyi klakson di perumahan yang ada disebelah kanannya. Dia melihat dari balkon ke arah rumah itu.
Sebenarnya dia sangat penasaran siapa penghuni baru yang akan menjadi tetangga tuannya.
Melihat mobil Porsche hitam yang begitu langka. Delora meliriknya dengan mata terbuka lebar. Perumahan pondok indah memang sesuai dengan namanya. Orang-orang yang menghuni didalamnya memang sangat indah!
Dengan wajah kesal dan cemberut, Delora mengangkat telepon yang ada di ruang tamu itu.
"Apa!" Bentak Delora dengan nada keras.
"Kau berani membentakku?" Tanya orang diujung telepon itu.
"Ah, ini! Kupikir itu telepon dari agen tertentu seperti sebelumnya. Maaf, ada apa?" Kali ini Delora menghilangkan wajah kesalnya dan merubahnya menjadi wajah gugup dan sedikit takut.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa hari ini aku akan berkunjung ke perusahaan setelah ini. Jadi, tidak perlu menyiapkan sarapan. Kau hanya perlu menyiapkan bajuku saja!" Ujar Kleine dengan malas.
"Oh, kau ingin ke perusahaan? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Delora tidak percaya.
Waw...
Ini sungguh sebuah kemajuan yang sangat luar biasa.
Sebelum ini, Delora harus memutar otak agar Kleine mau mengecek perusahaan. Tapi, sekarang dia sendiri yang mau datang! Apa dia sakit?
"Ck, iya kau tuli!" Balas Kleine dengan asal.
__ADS_1
Dia menutup telepon segera setelah itu. Delora ingin mengutuk karena telah dibilang tuli oleh Kleine. Tapi tidak berani dan juga teleponnya sudah dimatikan oleh Kleine.
Tapi, mengingat Kleine ingin datang ke perusahaan hari ini. Dia melupakan rasa kesal itu dalam sekejap.
Tidak sia-sia dia berlari dengan cepat menuruni tangga untuk mengangkat telepon tadi. Siapa yang peduli apa bentuk tetangga baru itu. Lagipula sekarang yang penting adalah menyiapkan baju gadis itu.
Delora bersenandung saat dia menyiapkan seragam Kleine dan membersihkan dirinya sendiri dengan rapi.
Sedangkan, di rumah sebelah. Setelah melihat ke dalam rumah itu. Geon merasa rumah itu sangat monoton dan membosankan.
Karena tuannya tidak punya warna lain dalam hidupnya kecuali hitam dan putih.
Oh, tidak!
Ada warna lain yang tuannya tahu, dan itu adalah warna abu-abu. Sangat suram dan menakutkan. Geon membuka tirai ruang kerja Lion.
Dia melihat ke rumah sebelah kiri yang tampak jauh lebih cerah dari rumah tuannya itu.
"Setidaknya hijau muda itu lebih menyegarkan daripada warna putih yang sangat mudah kotor ini!" Ujar Goen tanpa sadar.
Lion mendengar ucapan Geon, awalnya dia tidak peduli. Tapi, setelah sekali lirik. Dia merasa begitu terikat dengan rumah itu. Dia tidak tahu apa yang begitu menarik dari rumah biasa itu.
Namun, dia tidak lama meliriknya. Setelah itu dia duduk di kursi kerjanya dan kembali fokus pada dokumen yang tidak menarik itu.
"Tutup!" Ujar Lion dingin.
Geon mengangkat kedua bahunya dan menutup tirai itu sesuai perintah.
"Baiklah, karena aku sudah menyelesaikan tugasku disini. Jadi, aku akan ke perusahaan dan melihat pekerjaan dulu. Sampai jumpa lagi!" Pamit Geon pada Lion yang tidak pernah mau memperhatikan dia sedikitpun.
Meskipun status Geon adalah asisten khusus Lion. Sebenarnya, dia adalah salah satu teman baik Lion di kampusnya.
Mereka adalah geng yang begitu menarik di kampus pada waktu itu. Lion memang sudah sangat dingin dan cuek sejak dulu. Tapi, dengan bodohnya Geon mau menjadi asisten dari batu es itu.
Padahal Geon bisa manjadi tuan muda yang di hormati jika dia mau. Keluarga Geon adalah orang kaya tingkat menengah di Indonesia. Mereka punya perusahaan makanan yang memiliki banyak cabang di seluruh pulau di Indonesia.
Sayangnya, Geon tidak mau bersaing dengan adiknya dan lebih memilih menjadi budak Lion. Tapi, hal itu tidak pernah membuat Geon menyesal. Dia justru sangat bersyukur bisa mengikuti Lion yang dingin ini.
Setidaknya gajinya lebih besar daripada gaji menjadi bos besar di perusahaan itu. Dan yang paling penting, bonus akhir tahun yang Lion tawarkan terlalu menggoda untuk ditolak!
###
__ADS_1