Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Twenty Four


__ADS_3

Terkadang kita sering merasa bahwa waktu berlalu terlalu cepat. Dan kadangkala kita juga merasa bahwa waktu berlalu dengan sangat lambat. Seperti sekarang, Jefri merasa tiga puluh menit itu terjadi sangat cepat.


Setelah melewati hutan yang lebat dengan pohon tinggi yang suram. Mereka berhenti didepan sebuah gerbang yang tampak terbengkalai.


Melihatnya membuat Jefri berpikir apakah mereka akan melakukan uji nyali? Dari depan gerbang ini, dia bisa melihat sebuah vila yang penuh tanaman rambat disekitar dinding. Bahkan gerbang rumah ini juga sudah tertutupi oleh banyak tanaman rambat yang tampak kurang terawat.


Belum lagi dengan bau amis yang begitu menusuk hidung ini.


"Hei, bangunlah!" Teriak Bles bersemangat dari pintu luar untuk membangunkan Kleine yang masih tidur dengan nyenyak. Jefri melihat kebelakang setelah mendengar suara Bles yang sangat bersemangat.


Mengapa dia begitu senang melihat tempat yang sangat mengerikan ini? Tanyanya dalam hati dengan takut. Kakinya sedikit bergetar, dia sekali lagi harus memutar otaknya dengan banyak pertanyaan. Tapi, yang menjadi pertanyaan paling utama adalah...


Apakah ini cerita romantis atau horor!


Kleine terbangun dengan ekspresi tidak senang, dia menguap besar yang tertutup oleh tangan kanannya dan tangan kirinya diregangkan keatas sehingga memukul mundur badan Bles kebelakang.


"Bahkan saat bangun tidur pun kau masih punya tenaga untuk mengajakku bertengkar!" Teriak Bles kesal, dia menaikkan lengan baju kanan dan kirinya lalu maju untuk mengajak Kleine bertarung. Tapi, sebelum itu dia membuat kedua tangan Jefri memegang perutnya.


"Jangan cegah aku, jangan cegah aku!" Teriak Bles dan berusaha maju, tapi tangan Jefri terlepas saat dia menuju Kleine membuat dia harus mundur lagi dan menyuruh Jefri untuk tidak melepaskan tangannya.


Lalu dia kembali memasangkan tangan Jefri ke perutnya lagi.


"Lepaskan aku, lepaskan aku, jangan cegah aku untuk memukulnya. Siapa suruh dia begitu menyebalkan!" Akting Bles terus berlanjut dengan sangat membosankan, membuat Kleine tidak bisa menahan dirinya agar tidak menguap sekali lagi.


"Apakah kau sudah selesai?" Tanya Kleine dengan malas. Punggungnya masih bersandar di kursi mobil. Dia tidak punya niat untuk berdiri sedikitpun.


Merasa telah puas, Bles mengangguk. Tapi, Jefri masih terus memegangi perutnya. Membuat keduanya seperti dua kekasih kecil yang sedang bertengkar dan salah satu mencoba untuk mencegah yang lain pergi.


Mereka memang tampak sangat cocok apalagi dengan tinggi Jefri yang memang hanya satu kepala lebih pendek dari Bles. Kleine dengan malas mengeluarkan handphonenya dan mengabadikan momen mereka berdua.


Crek...

__ADS_1


Di foto itu Bles sedang menghadap kebelakang dan memegang tangan Jefri untuk melepaskannya.


Kedua orang itu tidak tahu jika aksi keduanya sedang difoto oleh Kleine. Dan yang lebih mereka tidak tahu adalah, Kleine mengirim foto itu ke grup pertemanan mereka.


Kleine"_"


Saudara-saudara sekalian, lihatlah drama yang sangat menyejukkan ini.


[Jpeg]


Tidak ada yang menanggapi pesan yang Kleine kirim setelah beberapa menit. Kleine dengan kesal menutup teleponnya dan menatap dua orang yang sedang ribut itu.


Kleine dengan malas keluar dari mobil dan berjalan mendekati gerbang. Dia menekan kode khusus dan melakukan pemindaian lensa mata. Setelah itu, gerbang itu bergeser menjadi dua.


Sebuah gambar berantakan tadi ternyata merupakan layar saja. Karena saat di buka, ada pemandangan yang sangat menyegarkan mata.


Bles dan Jefri yang sedang saling saling peluk dengan satu tangan masing-masing ingin memukul wajah lawan, mereka langsung menoleh ketika mendengar suara klik.


Keduanya memisahkan diri dan segera berlari mengikuti Kleine yang sudah memasuki gerbang.


"Hei, tunggu!" Teriak Bles sembari memasang sepatunya yang terlepas karena bergelut dengan Jefri tadi.


Jefri sendiri hanya memakai sendal jepit, dia bisa memasangnya dengan mudah dan segara berlari mengejar Kleine. Saat memasuki gerbang, keduanya dibuat takjub dengan tempat yang begitu indah ini. Ada banyak tanaman yang menyegarkan mata. Di sepanjang gerbang itu ada aliran sungai buatan yang mengelilingi seluruh vila.


Ada banyak kupu-kupu yang hinggap diberbagai jenis bunga yang indah dan harum. Pemandangan itu seperti sebuah surga dunia. Ada juga beberapa kelinci putih bersih yang akan melompat di atas rumput hijau untuk memakan rumput itu sendiri.


Dari gerbang ada jalan yang tersusun dari kerikil putih yang membatasi taman yang indah itu tapi membuat taman itu tampak semakin indah.


Melihat sepatu mereka yang kotor, Bles dan Jefri hari ragu untuk terus berjalan di jalan kerikil putih ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Jika mereka menginjak rumput, itu hanya akan semakin merusak keindahan ini.


"Meskipun aku sudah kesini beberapa kali, tapi aku tetap saja mengagumi tempat ini setiap kali aku datang!" Ujar Bles dengan sangat riang, wajahnya begitu memuja tempat yang sangat menyegarkan ini.

__ADS_1


Jefri merasa tempat ini memang seindah yang dan memang pantas dikagumi setiap kali datang kesini. Ada juga kolam air mancur yang sesekali akan ada ikan kuning yang melompat dengan riang.


Ada ikan yang cukup sial karena ditangkap oleh kucing oranye saat dia melompat.


"Tempat ini seperti sebuah ekosistem," kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Jefri tanpa ia sadari. Dia sendiri juga tidak tahu apakah itu adalah pertanyaan atau sebuah pernyataan.


Kleine terus berjalan kedepan tanpa ada niat menanggapi kedua orang yang sedang tergila-gila itu.


Pintu terbuka saat ada lebih dari sepuluh pelayan perempuan dan seorang pelayan lelaki tua yang membuat barisan untuk menyambut kehadiran Kleine.


"Nona, anda datang?" Tanya pelayan itu saat dia selesai membungkuk didepan Kleine.


Kleine menganggu dan melihat kiri kanan. "Dimana Cuttie?" Tanya Kleine dengan heran. Biasanya Cuttie akan datang setiap kali dia membuka gerbang, tapi kali ini dia tidak datang dan menyambut kehadiran Kleine.


"Kemarin dia mencoba melarikan diri karena terlalu merindukanmu nona, jadi dia juga bertarung dengan banyak pengawal didepan gerbang membuat banyak pengawal itu terluka. Tapi, untunglah Kemi masih berhasil menangkapnya.


Itu sebabnya saya meminta nona kembali kemarin. Sekarang dia sedang kesal dan mengurung diri dikamar. Dia bahkan tidak mau makan apapun sejak kemarin," kepala pelayan itu menjelaskan dengan penuh perhatian, dia merasa sedih untuk Cuttie yang sedang bersedih.


"Tidak apa-apa, kapan bisa kembali dulu saat ini. Aku akan melihatnya dulu dan tolong hantarkan makanannya kepadaku nanti. Oh, jangan lupa untuk menjamu dua orang itu!" Ujar Kleine dan segera berlari cepat ke kamar Cuttie.


Bles dan Jefri juga sampai didepan pintu, tapi seluruh pelayan sudah pergi dan hanya menyisakan kepala pelayan yang menyambut mereka berdua dengan senyum ramah.


"Tuan muda Bles, lama tidak bertemu! Anda terlihat semakin tampan saja," sambut kepala pelayan kepada Bles dengan senyum yang tidak pernah pudar itu.


"Ya, terimakasih atas pujiannya paman Zen, kau juga terlihat semakin muda sekarang!" Sapa Bles kembali.


"Tuan muda Bles bisa saja, kalau boleh tahu tuan muda ini siapa namanya?" Tanya kepala pelayan itu pada Jefri yang menatap percakapan keduanya dengan diam.


"Aku Jefri!" Jawab Jefri singkat.


###

__ADS_1


__ADS_2