
Piscel keluar dari restoran berjalan menuju mobil. Kleine berdiri di samping mobil dengan malas. Dia menunduk dan menutupi wajahnya sepenuhnya di dalam topi.
"Tidak baik menjadi terlalu baik!" Ujar Kleine pada Piscel dengan tenang.
"Aku tidak bisa melihat terlalu banyak orang datang dan memohon padaku untuk membujukmu!" Ujar Piscel santai membuka pintu penumpang disebelah.
Kleine hanya menghina jawaban palsu dari Piscel.
Diantara tiga orang, yaitu Kleine, Piscel dan juga Aigiee. Yang paling kejam adalah Kleine, yang paling ganas adalah Aigiee dan yang paling baik adalah Piscel.
Dia tidak menghentikan Piscel untuk menjadi orang yang baik. Dia hanya takut kebaikan Piscel akan dimanfaatkan oleh orang lain suatu hari nanti.
"Ngomong-ngomong bagaimana kabarnya?" Tanya Piscel tentang kondisi Floye.
Kleine menarik tuas, "Dua anaknya sangat penurut dan dia senang dengan itu!" Jawab Kleine santai.
"Bohong!" Bantah Piscel menemukan ada yang salah dari ucapan Kleine.
"Lalu menurutmu?" Tanya Kleine pada Piscel dan menatap wajah Piscel dengan senyum licik.
"Jika tebakanku benar, wajah anaknya mirip dengan bajingan itu. Dia menjadi semakin sulit melupakan pria itu?" Ujar Piscel yang sangat tepat sasaran.
Kleine tidak menolah, dia fokus kedepan. Tapi dia tetap menjawab.
"Anak-anaknya pintar dan sangat penurut. Tapi semakin baik mereka, dia merasa semakin buruk karena telah membiarkan keduanya besar tanpa seorang ayah."
"Maksudmu dia berniat untuk lepas dari sangkar?"
"Tidak juga! Dia masih ragu, tapi mungkin saja suatu hari nanti!"
Piscel diam, "sebenarnya aku merasa baik untuknya pulang sekarang. Lagipula Karel sudah banyak berubah!" Ujarnya berpikir keras dan mengintip reaksi Kleine.
Kleine tersenyum, "Menurutmu mengapa dia ragu untuk keluar?" Tanya Kleine menjebak Piscel ke sebuah jawaban yang mengejutkan.
Seperti yang diharapakan oleh Kleine, setelah mencerna sejenak. Piscel menatap Kleine dengan rumit. "Maksudmu kau yang telah mengecohnya dengan informasi palsu?" Tanyanya bingung.
"Tidak juga! Aku telah memberi dia informasi yang benar tentang apa yang dilakukan oleh Karel selama ini. Tapi, aku sedikit menambah bumbu pelengkap!" Jawab Kleine dengan seringai jahat.
"Kau sangat kejam!" Maki Piscel.
"Aku tidak akan hidup jika aku tidak kejam!"
"Tapi mengapa kau membuat dia tertahan sampai sekarang?"
__ADS_1
"Karena semakin sulit didapat, maka akan semakin berharga nantinya!"
"Heh... Kau kejam pada orang lain, tapi niatmu memanglah baik!"
Kleine tidak menanggapi kali ini.
Apakah dia berniat baik?
Sepertinya tidak!
Dia hanya ingin semuanya selesai dengan sempurna. Karena dia tidak akan membantu orang yang sama bersembunyi sebanyak dua kali. Dia menghormati dan menjaga pertemanan. Tapi, bukan berarti dia akan melindungi tanpa batas.
Zoey terpaku di tempatnya saat ini. Dia menang sangat marah pada Lea saat ini. Dia merasa telah berada di tempat gelap dan batu muncul di permukaan untuk melihat dunia.
Tapi, ancaman dua wanita itu membuat dia menjadi ragu apakah dia harus marah atau tidak.
Dia berhak marah!
Sayangnya dia berpikir lagi. Dia sangat mencintai Lea, seburuk apapun Lea berbohong padanya. Dia tidak mungkin akan marah dengan lama. Tapi, ibu mertuanya terlalu tidak bisa dia terima.
Sebelum ke sana, awalnya Zoey berpikir bahwa seburuk apapun mertua ataupun kejujuran yang Lea buta. Dia pasti akan menerimanya dengan tenang. Sepertinya dia harus memotong lidahnya sendiri karena hal itu.
Lea bangun dengan mata bengkak, dia melihat itu ada di rumahnya. Dia dengan panik berlari keluar kamar untuk mencari Zoey. Di lantai atas, Zoey tidak ada. Dengan panik dia berlari ke bawah. Dia sangat bersyukur melihat Zoey berdiri di tengah restoran.
Zoey terkejut dan berbalik, dia melihat kepala hitam terbenam di dadanya. Pikiran kacau Zoey langsung tersingkir. Tidak peduli apa, dia adalah orang yang telah dia cintai selama bertahun-tahun. Memang benar dia harusnya tidak marah terlalu jauh.
Lupakan, mati bahas ini dengan kedamaian hati.
***
Jauh dari kekacauan dunia, sebuah desa yang sangat indah terdengar sangat meriah.
Bunyi seruling mengalun indah menyebar di sepanjang jalan.
"Mau gembala kerbau dek?" Tanya seorang wanita paruh baya pada anak kecil berusia empat tahun.
"Iya Bu, kerbaunya lapar nih!" Jawab anak kecil itu dengan ramah.
Namanya Devan, anak kesayangan warga disini. Dengan kerbau yang ditunggangi olehnya, dia berjalan ke pinggir sungai. Dengan ahli dia melompat dan berlari ke bawah pohon beringin.
Serulingnya tidak pernah berhenti, mengalun semakin lembut dan nyaman.
"Berhentilah bodoh! Berisik!" Ujar anak lain yang sedang membaca buku dengan berbagi kode angka yang tidak Devan mengerti.
__ADS_1
"Kak, kau sangat buruk! Bahkan orang lain mebtakan bahwa musikku sangat indah!" Ujarnya dan duduk disampingnya Davin. Meski begitu dia tetap menyimpan serulingnya dengan patuh.
"Kenapa kakak sangat suka membaca hal seperti itu?" Tanya Devan bingung.
"Ini adalah kode komputer! Sangat menyenangkan untuk membacanya! Tante Kleine yang memberikan ini untukku! Dia bilang ketika dia datang lagi dia akan membelikan aku komputer!" Ujar Davin bersemangat.
"Ah, benarkah? Ngomong-ngomong kapan Tante Kleine akan kesini lagi. Aku rindu suara piano dari Tante Kleine!" Ujar Devan juga bersemangat saat membahas Kleine.
Davin tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia juga tidak tahu kapan Kleine akan berkunjung lagi. Periode kunjungan Kleine tidak pernah pasti. Kadang sebulan sekali atau beberapa bulan sekali.
Biasanya Tante Kleine yang baik itu akan membawakan mereka banyak makanan yang bernutrisi untuk mereka. Kadang dia juga akan membawa kepiting raja atau udang raksasa untuk mereka makan. Itu sangat enak. Devan tidak bisa menahan air liurnya yang akan menetes karena mengingat momen itu.
Lion berhadapan dengan Karel.
"Sangat senang bisa bekerja sama lagi dengan anda tuan Lion!" Ujar Karel dengan senyum dingin.
Lion juga tersenyum dingin. Geon dan asisten Karel mengutuk dengan kesal.
Dua orang yang dingin ini sangat penuh misteri. Bisakah tersenyum sedikit lebih baik? Sungguh itu benar-benar lebih baik untuk tidak tersenyum sama sekali. Jika ada anak kecil diantara keduanya, mungkin anak kecil itu sudah menangis sangat keras.
"Karena sudah sepakat, maka saya akan pergi lebih dulu tuan Karel. Hati-hati saat anda pulang nanti!" Ujar Lion dengan pengingat santai.
"Perhatian yang bagus!" Tanggap Karel dan mengabaikan Lion.
Setelah Lion pergi, Karel menatap asisten nya. "Apakah kamu tahu dimana dia sekarang?" Tanyanya dengan tenang.
Asisten itu tahu siapa yang dia maksud tanpa harus bertanya lebih jauh.
"Menurut laporan, dia telah berpergian ke banyak tempat hati ini. Tapi salah satunya adalah gedung balet milik nona Piscel. Kemungkinan saat ini dia sedang bersama nona Piscel."
Karel mengangguk mengerti, "apa dia masih pulang ke pondok indah?" Tanya Karel memastikan.
"Tidak! Sudah dua hari ini dia tidak kesana, menurut laporan dia pulang ke sebuah apartemen di dekat sini!"
"Atur jadwal untuk malam ini, aku memiliki urusan yang harus dilakukan!"
"Baik!"
###
👋👋👋
Yang mau jadi pemeran boleh tuh mau ngusulin jadi apa? mau jadi antagonis? atau pemeran pendamping nih?
__ADS_1