Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter One hundred and One


__ADS_3

"Demam ini sepertinya cukup buruk ya, 42°C setelah meminum obat pereda demam dan juga di kompres beberapa kali, aku tidak tahu suhu sebelum ini berapa tinggi?" Ujar Dewi dengan gelengan di kepalanya.


Dia malah dokter yang sangat spesifik, indra penciuman miliknya lebih tajam dari orang lain. Dia bahkan bisa menghitung dengan jelas sudah berapa kali handuk itu di ganti.


Kleine tidak menjawab mereka dan hanya menatap mereka dengan malas. "Sebenarnya aku sangat suka melihat kau yang jelek seperti ini!" Ujar Bles dengan senyum mengejek.


"Berhentilah bercanda!" Tangan Dewi memukul kepala Bles dengan keras.


"Auww..." Bles memegangi kepalanya, "Kau sangat kasar!" Makinya. "Mana ada dokter yang menyakiti orang lain?" Tanyanya dengan cemberut.


"Aku sedang libur saat ini dan aku bukan dokter mu, kita adalah teman. Dan teman bisa memukul tanpa rasa bersalah!" Jawab Dewi dengan tenang dan membantu Kleine berbaring lagi.


"Pemikiran yang sangat tidak baik!" Ujar Bles dengan bibir yang berkerut manja.


Lion mendengarkan perselisihan mereka dan mengerutkan kening tidak senang oleh setiap kata yang keluar dari mulut kotor Bles.


Rafa yang berdiri di belakang Lion lebih mengarah ke terkejut saat ini.


"Itu..." Bisiknya tidak percaya.


Orang yang dia tahan seharusnya bukan orang yang selama ini dia puja kan? Dokter yang bisa menghitung suhu hanya dengan menggunakan tangan tanpa perlu menggunakan termometer.


Rafa saat ini sangat ingin memukul dirinya sendiri. Tapi, apa benar dia dokter itu. Dan apa identitas dari gadis itu, bagaimana dia bisa berhubungan dengan dokter ajaib?


Tidak...tidak!


Itu pasti bukan dokter ajaib.


"Diamlah bodoh! Biarkan dia tidur dan beristirahat." Ujar Dewi dengan ganas menatap Bles yang penuh omelan.


"Ya...ya... Dokter Widuri yang terhormat! Pasien di hari libur mu ini memang sangat penting!" Ujar Bles dengan mulut cerewetnya dan berdiri untuk keluar, "heh ... Aku lapar sekali!" Ujarnya dan melewati tiga orang yang menempel di pintu.


"Kenapa kalian disini?" Tanya Bles dengan alis yang berkerut.


"Apa kalian tahu bahwa kamar seorang gadis tidak boleh di lihat secara sembarangan oleh seorang pria?" Tanyanya dengan acuh.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Geon secara sembarang dan menatap Bles dengan wajah galak.


"Aku adalah teman baiknya! Tentu saja itu berbeda!" Ujarnya dengan bangga menepuk dadanya beberapa kali.


"Kami adalah penolongnya! Tentu saja kami juga berhak!" Alibi Geon dengan percaya diri.

__ADS_1


"Yayaya... Karena kalian telah membantunya, aku akan mengucapkan terimakasih dengan penuh hormat. Lalu katakan saja berapa yang harus aku bayar untuk dokter yang kau sewa dan juga untuk waktu penting kalian. Kemudian hati-hati di jalan!" Ujarnya dengan malas dan mengeluarkan handphonenya.


"Ketik saja langsung disini!" Ujar Bles kemudian.


"Heh, siapa juga yang mau uangmu!" Ujar Geon dengan kesal dan merasa telah dihina karena hal ini.


"Ya, aku berpikir juga kalian tidak akan menerimanya dengan mudah. Lagipula dengan pakaian yang begitu mahal, kurasa kalian bukan orang miskin!" Ujar Bles dengan malas.


"Dia belum makan malam, saat dia bangun tolong buatkan dia bubur hangat yang baik untuk perutnya. Kami akan pergi dulu!" Ujar Lion pelan dan menarik Geon yang ingin memukuli wajah Bles.


"Heh, tentu saja kami tahu. Tidak perlu anda untuk begitu peduli!" Ujar Bles sombong dan melihat kepergian mereka dengan acuh.


"Masaklah, aku lapar!" Ujar Dewi menepuk bahu Bles dan menutup pintu kamar Kleine.


"Kau ini dokter atau pembunuh! Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung!" Maki Bles kesal pada Dewi.


"Terserah..." Ujar Dewi malas dan melihat beberapa orang datang. Itu adalah tukang bersih-bersih dan juga tukang yang membawa sofa yang baru. "Hei... Mereka membantu dengan penuh totalitas!" Ujarnya dengan senyum mengejek.


"Aku tidak tahu mengapa Kleine bisa bersinggungan dengan harimau itu!" Ujarnya lagi dengan senyum aneh.


"Kau kenal dia?" Tanya Bles cepat.


"Lalu siapa mereka?" Tanya Bles lagi, dia berjalan semakin dekat pada Dewi.


"Rahasia!"


Setelah mengatakan itu, Dewi berjalan ke kamar tidur di sebelah. Dia cukup lelah dan ingin tidur untuk saat ini.


Satu pekan ini dia telah bekerja penuh waktu, baru akan beristirahat sore ini setelah pulang kerja. Siapa yang tahu pria tidak tahu malu ini akan menyeretnya dari kasur yang empuk.


***


Aigiee merasa bosan jika tidak melakukan apa-apa. Jadi, dia dengan baik hati membantu Kleine membuat kekacauan di internet. Tapi, disaat dia sedang bersenang-senang. Sebuah panggilan telepon menganggu kesenangannya


Setelah di lihat, ternyata itu adalah suami kontraknya. Dia menekan tombol hijau dan menyeretnya ke tengah.


"Ya?" Ujarnya dengan malas.


"Kau tampaknya tidak melakukan tugasmu?" Tanya pria di ujung sana dengan dingin.


"Anakmu itu terlalu nakal dan membuatku lelah, aku hanya ingin berlibur selama satu pekan saja. Apa masalahnya? Lagipula aku sudah mengirim penjaga terbaik untuknya!" Ujar Aigiee dengan main-main.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, kau harus berada di dekat mereka!"


"Memangnya kau siapa?" Ujar Aigiee dengan cepat memotong ucapan pria itu. "Kau hanya membayarku untuk membuat mereka menghilangkan sifat nakal mereka. Kontrak enam bulan hanya waktu saja. Jika itu selesai lebih cepat, maka kontrak tetap akan berakhir! Jangan lupa isi kontraknya tuan..." Ujar Aigiee dengan gigi geraham yang saling bertabrakan.


Pria di ujung sana hening untuk beberapa detik.


"Urusan di sini akan selesai lebih cepat dari perkiraan. Mungkin bulan depan aku sudah pulang, masalahnya tidak serius sama sekali!" Ujarnya kemudian.


"Apa???" Teriak Aigiee kaget dan berdiri dengan cepat dari kursinya.


"Kenapa? Aku tidak bisa menyaksikan caramu mendidik anak-anak ku?" Tanya pria di ujung sana dengan sarkas.


"Ahhh... Tentu saja kau bisa! Tapi kau tidak boleh lupa bahwa aku tidak di bayar untuk menjadi ibu sambung mereka. Aku di bayar hanya untuk menjadi pelatih mereka agar menjadi jinak. Apa pun yang aku lakukan itu adalah didikan dariku! Jadi, jangan banyak protes lagi untuk ke depannya!"


Setelah mengatakan itu, Aigiee langsung menutup panggilan dan mematikan telepon agar tidak di ganggu lagi oleh pria itu.


"Pria ini!" Ujar Aigiee dengan geram.


Dia tidak menikah dengan pria ini sesuai dengan yang tertera saja. Pria ini menyimpan sesuatu yang bisa membuat dia tunduk kapan saja. Untuk itu, Aigiee bertekad untuk menyelesaikan pendidikan anak nakal itu dalam satu bulan itu.


Siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika mereka tinggal bersama selama enam bulan. Yang ada mereka akan terikat untuk selamanya!


Aigiee tidak tahu apa motif pria ini, tapi dia tidak ingin rahasianya membahayakan orang-orang di sekitarnya.


Ya... Hanya membuat anak-anak nakal itu menjadi penurut! Tidak sulit bukan?


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Piscel pada Bles di telepon.


"Dia tidak begitu baik saat ini, untunglah ada orang yang membantunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada orang lain yang membantu. Karena selain jalanan yang macet, jaraknya juga sangat jauh." Ujar Bles menari tangannya terus memotong bawang.


"Ada orang baik?" Tanya Piscel dengan bingung.


"Ya, Dewi mengenalnya. Tapi aku tidak, aku sudah bertanya. Sayang kau tahu sendiri siapa itu tuan putri Widuri kita ini!" Celoteh Bles yang seperti anak kecil.


Piscel disisi lain mengerutkan kening. Dia tidak tahu siapa orang asing yang baik ini, tapi dia bersyukur atas kemurahan hatinya. Di lain kesempatan, dia pasti akan membalasnya.


"Tidak apa-apa, terimakasih Bles!" Ujar Piscel karena batu di hatinya telah hilang.


"Apa yang kau katakan," ujar Bles dengan kesal. "Itu juga tanggung jawabku!" Lanjutnya kemudian.


###

__ADS_1


__ADS_2