
Kleine melihat makanan di atas meja itu dengan sayang, tapi saat melihat perutnya yang sudah sangat buncit dia menggeleng.
Mengerti apa yang sedang menjadi dilema Kleine, Lion berpendapat. "Kau bisa menyimpannya dan menghangatkannya nanti untuk makan malam."
Kleine mendengar ide itu tidak buruk, "Ya sepertinya kau benar!" Jawabnya dan mulai mendorong piringnya menjauh.
Tubuhnya bersender malas di punggung kursi. Tapi, berpikir bahwa makanan yang lezat ini hanya bisa dia makan sekali. Kleine tidak akan menerimanya dengan begitu mudah. Ya, dia harus memikirkan cara.
Lion merasa mode berpikir keras Kleine sangat unik. Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, dan juga kepala yang mendongak ke langit rumah. Itu sangat imut dan cantik.
"Ekhm," batuknya berpura-pura hanya untuk menarik perhatian dari Kleine yang sedang bengong.
Kleine masih berpikir caranya agar terus bisa makan enak ini. Dia berpikir apakah perlu menjadikan Lion sebagai temannya seperti dia memperlakukan Lea? Tapi mengingat mata Lion yang agak aneh setiap kali menatapnya dan tingkah mesum Lion, Kleine menyerah pada ide itu.
"Apa makannya cukup memuaskan selera? Apa itu cukup untuk mengganti rugi atas handphone mu yang telah ku rusak?" Tanya Lion yang seketika memberi ide pada Kleine yang masih sibuk berpikir.
"Rasanya tidak buruk!" Jawab Kleine berpura-pura santai, "tapi mana mungkin itu cukup untuk mengganti kerugian yang di derita handphone milikku. Harganya bahkan tidak akan bisa kau ganti dengan seluruh perusahaan yang sedang kau jalankan!" Ujarnya sombong.
Lion tersenyum seketika mendengar kalimat itu. Sangat sombong dan mendominasi, harga handphone itu akan semahal itu? Sepertinya gadis ini terlalu buruk dalam berbohong.
"Kau yakin?" Tanya Lion meragukan apa yang Kleine katakan.
"Ya tentu saja aku yakin! Itu tidak di beli dengan uang, tapi dengan kasih sayang dari seseorang!" Jawab Kleine cuek.
Kali ini Lion mengerti arti dari telepon itu. Tapi mendengar kata 'seseorang' Lion menjadi tidak senang. Apakah gadis yang dia sukai sudah punya pemilik?
"Siapa?" Tanya Lion dengan nada dingin, tapi Kleine tidak menyadari hal itu. Lagipula Lion selalu dingin dan mendominasi, jadi dia tidak begitu heran. Sepanjang data yang Kleine dapat tentang Lion. Pria itu adalah orang yang berhati dingin.
Itu sebabnya dia lebih suka melihat wajah datar Lion daripada melihat wajah tersenyum pria itu. Itu seperti melihat dua orang yang berbeda.
Kleine yang mendengar pertanyaan itu merasa Lion adalah seorang yang terlalu banyak ikut campur. "Apa hubungannya denganmu?" Tanya Kleine cuek.
Lion seketika sadar. Ya, apa hubungannya dengan dia?
__ADS_1
Saat ini dia bukan siapa-siapa Kleine, dia bahkan tidak berhasil mendapat gelar teman dari Kleine. Hanya orang yang mengganti rugi atas barang yang telah dia rusak? Jadi di sebut hubungan seperti apa itu?
Dengan cepat, Lion memutar otaknya. "He'em, tentu saja untuk memintanya membelikan yang baru untukmu!" Ujar Lion dengan darah pahit. Giginya menggigit lidahnya sendiri dengan kesal karena telah mengatakan itu.
"Oh, kau tidak perlu berpikir terlalu jauh. Sebagai pertimbangan yang dilakukan oleh orang baik. Jadi, kau hanya perlu membuat masakan untukku selama satu bulan penuh, tentu saja hari ini tidak masuk hitungan! Karena kau harus membuatku sarapan, makan siang dan makan malam!" Ujar Kleine dengan rakus.
Tapi Lion tidak berpikir Kleine rakus. Dia justru sangat senang dengan hal itu. Kesempatan satu bulan telah datang, semua hal bisa terjadi dalam satu bulan yang indah ini.
Geon tidak pernah tahu jika tuannya yang sibuk itu akan mengambil tugas sebagai koki khusus. Jika dia tahu, mungkin dia sudah melempar seluruh dokumen di atas meja dengan wajah masam.
"Baiklah!" Jawabnya singkat dan tersenyum kecil, tapi mengingat apa yang Kleine katakan tadi dia langsung kehilangan senyumnya.
"Semudah itu?" Tanya Kleine bingung. Seharusnya Lion melakukan penawaran sehingga dia akan berpura-pura berat hati menurunkannya menjadi sepuluh hari saja yang merupakan rencana awalnya. Tapi, pria ini tidak bertanya lebih lanjut ataupun memprotes.
Rasanya Kleine sedang kehabisan kata-kata untuk saat ini.
Lion tidak menjawab hanya mengangguk saja.
"Apa perusahaan Bramansa sekarang begitu bebas?" Tanya Kleine blak-blakan.
Kleine hanya mengangguk mengerti, lagipula perusahaannya juga begitu. Jadi menurutnya tidak ada yang begitu aneh tentang itu.
Para tuan yang bebas ini tidak pernah memikirkan keadaan asisten mereka yang gila-gilaan karena tekanan dokumen.
"Jika tidak ada yang lain kau bisa pulang!" Ujar Kleine mengusirnya langsung. Lion juga tidak protes, dia berdiri dan membersihkan dirinya.
Kleine mengantar Lion ke pintu, "oh makan malam kali ini tidak perlu! Di mulai dari besok saja." Ujarnya cepat saat melihat Lion yang sudah berjalan sedikit jauh.
Lion berbalik dan mengangguk, "Ya itu juga baik!" Jawabnya santai. Melihat Kleine tidak punya hal lain untuk di katakan, dia berbalik dan hendak melangkah ke arah lift. Sebuah suara kembali membuat dia menghentikan langkahnya. "Oh, sepedaku yang malang. Tolong antarkan ke bengkel dan membawanya kesini saat kau mengantarkan makanan pagi besok."
"Baik!" Jawab Lion tanpa menoleh apalagi berbalik. Kleine juga tidak keberatan. "Kalau begitu sampai jumpa untuk sarapan besok pagi!" Ujar Kleine sedikit bersemangat akan apa yang bisa dia makan besok. Dia membanting pintu dengan kencang setelah masuk.
Bahkan Lion terkejut mendengar bantingan pintu itu dan membuat dia mau tak mau harus melirik pintu yang tampak masih bergetar ketakutan itu.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Dan dalam sekejap, siang telah berganti malam. Lea menatap pintu didepannya lama, lalu dia dengan berani mengutuk pintu itu.
"Kau sangat menganggu!" Ujar Kleine yang membukakan pintu dengan malas.
"Kau yang menyuruhku datang di jam ini!" Balas Lea dan masuk tanpa mendekat persetujuan dari Kleine.
"Kau yang ingin bertemu!" Balas Kleine dan tidak memikirkan ketidaksopanan tamu ini.
Melihat Lea yang duduk di sofa dan makan keripik yang tadi Lion beli untuknya. Kleine tidak senang dan dengan segera merebut kripik itu dari tangan Lea.
"Dasar pelit!" Maki Lea dengan cemberut.
"Terserah!" Jawab Kleine dan mulai menghabiskan sisa kripik yang ada. Lea hanya bisa menular bibirnya dengan pasrah.
Kripik kentang itu memang tersisa satu bungkus saja. Dan dalam hitungan menit, makanan itu sudah habis. "Oh aku masih lapar!" Ujar Kleine memberi kode pada Lea.
Lea mengerti apa yang di maksud oleh Kleine. Lagipula sepertinya pertemanan mereka memang hanya sebatas saudara plastik yang saling memanfaatkan?
Dia berdiri, "baiklah aku akan memasak dulu! Apa kau punya bahannya?" Tanya Lea.
"Aku tidak tahu, tapi seharusnya masih ada bahan yang tersisa dari tadi siang. Oh tolong panaskan juga makanan yang ada di dalam lemari pendingin!" Ujar kleine malas.
"Kau memasak?" Tanya Lea sedikit curiga.
"Tidak!" Jawab Kleine santai, "seseorang yang merusak teleponku datang untuk masak sebagai gantinya!" Ujarnya santai dan menekan remot tv untuk memilih film yang menarik.
Lea ingin bertanya lebih lanjut, tapi memikirkan sesuatu membuat Lea tidak jadi bertanya. Dia berjalan ke dapur dan melihat beberapa bahan memang tersisa.
Masih ada beberapa potong daging sapi dan sayuran. Lea menggulung lengan bajunya dan mulai bergulat dengan dapur.
###
Sebenarnya jiwa mallasku mebtakan untuk tidak update hari ini. Tapi, aku akhirnya tetap memutuskan untuk update untuk kalian.
__ADS_1
Jadi bacalah ketulusan hatiku ini ok🥰
Ekm, agak narsis dikit gakpapa kan?