Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Forty Five


__ADS_3

Kleine menepuk bahunya untuk menghilangkan debu, lalu dia membungkuk untuk memberi salam yang biasa di pakai oleh para pesilat.


Paman Zen yang melihat bahwa pertempuran itu sudah selesai langsung menghampiri Kleine dan memberikan handuknya. Kleine menerimanya setelah mengucapkan terimakasih dan berjalan menuju meja tempat sarapannya menunggu. Sembari mengelap keningnya yang sedikit berkeringat.


Kleine mengambil susu yang sudah tersedia dan duduk untuk langsung mengeksekusi gelas itu sampai habis.


Ada roti bakar yang masih melekat di tempat pembakarannya. Itu masih mengepul dan baru saja matang. Mungkin memang baru dimasak oleh para pelayan sebelum Kleine menyelesaikan pertarungannya.


"Anda ingin rasa yang mana untuk hari ini nona?" Tanya paman Zen dan mengeluarkan roti itu ke piring dengan pisau selai di tangannya siap untuk mengoleskan selai pada roti bakar yang akan Kleine makan.


"Aku ingin makan roti dengan selai kacang!" Ujar Kleine dengan tidak fokus karena tangannya sedang di siram oleh pelayan.


"Oh, baiklah!" Jawab paman Zen dan mulai mengoleskan selai dengan telaten.


Kleine menoleh kearah tangannya yang sudah bersih dan kering. Pelayan itu juga sudah pergi membawa baskom air kotor dan wadah kosong.


Para pengawal tadi juga sudah bangun dibantu oleh orang lain. Mereka tidak terluka parah, hanya sedikit memar dan bengkak saja yang bisa di obati oleh para pelayan rumah ini tanpa harus memanggil dokter.


"Apa mereka sudah sarapan paman?" Tanya Kleine sembari menunggu roti lapisnya yang masih dalam antrian.


"Mereka sudah sarapan sebelum matahari terbit nona!" Jelas paman Zen tersenyum.


"Oh, kupikir mereka belum sarapan sehingga mereka menjadi begitu lemah. Sepertinya mereka sudah lama tidak melatih diri, paman harus mengambil anggota yang lain dan mengirim mereka untuk berlatih lagi di markas!" Kata Kleine dengan santai.


Paman Zen hanya mengangguk," Ini roti anda nona, saya akan segera melakukan perintah nona."


"Baguslah!" Ujar Kleine sebelum dia mulai menyomot roti lapis yang telah di serahkan oleh paman Zen.


###


Semalam Lion telah menuggu keributan dari rumah sebelah. Tapi, sampai hari sudah terang, Lion tidak mendengar gerakan apapun dari rumah itu. Dia bahkan sampai harus begadang karena sangat ingin tahu lebih dalam tentang nona Greens yang begitu misterius.


Setidaknya dia tahu bahwa orang yang diam-diam mengintainya kemarin adalah orang yang seharusnya tidak berniat jahat padanya bukan?


Geon yang datang untuk menjemput tuannya ke kantor langsung terjungkal karena terkejut. Biasanya tuannya tidak akan seberantakan itu jikapun dia sering begadang. Tapi, pagi ini langsung suram melihat tuannya yang masih memakai piyama hitam dan dua kantong mata yang begitu besar.

__ADS_1


"Ini... Apakah ini masih tuan Lion yang tampan?" Tanya Geon dengan wajah panik dan sedikit ejekan.


"Diam!" Ujar Lion dingin dan berjalan berbalik dari daun pintu, dia menguap dengan tangan menutupi mulut dan duduk di sofa. Matanya tertutup.


"Ambilkan aku kompres untuk mata ini!" Perintahnya dingin.


"Bukankah kau adalah kulkas berjalan? Kenapa tidak menggunakan es dalam dirimu saja untuk mengompresnya?" Tanya Geon berniat untuk bercanda. Tapi, dia selalu lupa bahwa tuannya itu bukan tuan yang bisa diajak bercanda.


"Ku dengar tambang di Afrika sedang kekurangan tenaga kerja?" Ujar Lion santai yang membuat Geon terdiam dan langsung berlari ke dapur.


"Aku akan mengambil kompres dulu!" Pamitnya dengan cepat dan suaranya yang sangat tidak jelas.


Kepergian Geon ke dapur membuat ruang tamu yang sepi itu menjadi sunyi kembali seperti tadi malam. Melihat dua orang yang menarik perhatiannya dan tidak bisa dia kenal dengan baik itu memang rumit.


Semalam Lion ingin melakukan kerja secara gila-gilaan seperti malam-malam yang sering dia lalui. Tapi, malam tadi sangat berbeda, dia yang sedang membaca file akan teringat sebuah rambut yang menarik tangannya untuk menyentuh seperti sebuah magnet.


Lalu, memorinya akan dengan cepat berpindah pada gaun hijau yang begitu memikat dan memiliki daya tarik yang sangat bagus untuk matanya terus memandang. Dia juga teringat betapa malasnya dan tenangnya aura yang dimiliki oleh nona Greens yang selama ini ingin dia kenal.


Dan yang paling tidak terlupakan adalah dia yang telah tertipu oleh kamuflase yang nona Greens lakukan.


Tapi, dia sudah mencari banyak cctv di jalanan dan tidak menemukan hasil apapun. Semua video itu terpotong di waktu khusus membuat dia tidak bisa melacak arah yang benar dan hanya bisa menebak-nebak.


Saat dia mencoba memperbaiki bagian yang terpotong, sebuah virus berhasil masuk ke komputer dan membuat dia menjadi kewalahan untuk mengatasi serangan yang sangat berbahaya itu.


Di komputernya ada banyak data dan dokumen yang penting dan berbagai perusahaan di dalam maupun luar negeri.


Setelah dua jam, Lion akhirnya berhasil membunuh virus yang telah berkembang biak di komputernya. Dia semakin tidak bisa tidur dengan kewalahan yang dia hadapi semalam. Dia terus memikirkan apakah nona Greens bisa membantu dia menemukan orang yang selama ini dia cari.


Tidak peduli apa yang nanti akan diminta oleh nona Greens, Lion pasti akan memberikannya. Karena sudah lama mencari dan masih tidak berhasil menemukannya membuat Lion benar-benar bisa menyerahkan seluruh hartanya.


Tapi, menyentuh jantungnya yang sangat kacau kemarin. Lion ragu apakah dia telah memiliki niat lain untuk mengenal nona Greens?


Saat Geon membawa wajah berisi potongan kecil es. Dia melihat Lion yang nampak tertidur dengan letih.


"Bergadang beberapa malam saja tidak pernah membuat matanya begitu buruk, kenapa sekarang dia menjadi angkat berantakan dan kacau?"bisik Geon dengan bingung.

__ADS_1


Lion mendengarnya di sela-sela mimpi. Tapi, dia mungkin terlalu mengantuk atau mungkin terlalu lelah. Jadi, dia sangat malas untuk menanggapi Geon.


Berbeda dengan Lion yang begitu stres malam tadi. Geon justru sangat bahagia.


Awalnya Geon di ajak bermain bisbol oleh teman SMA-nya di malam hari. Geon yang lelah bekerja seharian dan baru saja pulang dari perjamuan berniat untuk menolak tawaran itu. Tapi, karena di tarik secara paksa. Dia berakhir di mobil dengan wajah kusam dan lelah.


Tapi, setelah dia bertemu dengan Delora, dia merasa senang apalagi setelah bisa mengantar Delora pulang dan tahu alamat apartemen Delora.


Intinya semalam dia bisa tidur dengan begitu nyenyak.


Sembari mengompres mata Lion, geon mengingat kembali wajah malu dan bingung Delora. Dia tidak bisa menahan senyumnya dan sedikit cekikikan yang berhasil membangunkan singa yang sedang tidur.


"Apa yang kau tertawakan?" Ketusnya.


"Tidak!" Jawab Geon spontan.


Lio hanya memutar matanya dan kembali tidur.


Sebelum benar-benar terlelap, "Apa kau melihat sudahkan rumah sebelah pulang?" Tanyanya ringan.


"Aku tidak melihatnya? Ada apa? Apa nona Greens tidak pulang semalam?" Tanya Geon dengan bingung. Pasalnya semalam mereka pulang berdua bukan? Kenapa sekarang bertanya padanya?


Geon tidak mendapat jawaban setelah beberapa menit, saat dia menoleh, hanya mendapati Lion yang sudah terlelap.


"Memang sangat enak menjadi seorang bos besar!" Ujarnya dan mengambilkan selimut dan bantal untuk Lion.


###


Maaf gak bisa up tiga bab ternyata, soalnya kepala Almi pusing banget. Lain kali aja ya, Almi bakal berusaha yang terbaik untuk bisa up lebih banyak dari sebelumnya dan memberi kalian kesenangan.


Mohon maaf🙏


Almi pamit tidur dulu ya:)


Kalian juga jangan lupa tidur🤗 See you♥️

__ADS_1


__ADS_2