Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Fifty Three


__ADS_3

Di lantai paling atas, lift itu berhenti dengan mulus. Di depan lift sudah ada seorang bibi paruh baya yang menunggu dengan sabar. Kleine hanya lewat tanpa memperhatikan bibi itu, tapi Lion mengamati bibi itu dengan agak aneh.


Seorang pembersih yang di sewa biasanya sudah selesai berberes hanya dalam tiga jam untuk ukuran apartemen ini. Dan pembersih sewaan biasanya datang di pagi hari. Kenapa dia baru pulang?


Di kamar nomor 422 Kleine mengeluarkan dompetnya, dari yang Lion intip dia bisa melihat banyak jenis kartu di dompet itu.


Dengan santainya Kleine memilih satu dan mencocokkan kartu itu ke tempat membuka kunci. Tapi, dengan memalukannya ternyata Kleine salah mengambil kartu. Sayangnya Kleine tidak punya malu, dia mengambil kartu lainnya dan mencoba satu persatu.


Lion menyaksikan dalam diam. Dia tersenyum dengan halus. Sepertinya ada banyak apartemen ya? Tanyanya licik dalam hati.


Setelah kartu ke sepuluh, akhirnya pintunya bisa terbuka juga. "Ayo masuk!" Ajak Lion melewati pintu lebih Dalu dari Kleine yang membuka pintu.


Kleine menunjuk dirinya sendiri dengan bingung, "apartemen siapa ini?" Tanyanya kesal.


Lion mengabaikannya dan menganggap apartemen itu sebagai miliknya sendiri. Dia melihat dapur dan bergegas kesana dengan segera. Meletakkan barang belanjaan yang cukup berat, mencuci tangannya dan mengeluarkan barang-barang masakan.


Dia menoleh untuk melihat Kleine yang berdiri malas di pintu. "Kau ingin makan apa? Tadi kau sedang tidur, aku lupa bertanya. Jadi aku membeli berbagai bahan," tanyanya sekaligus menjelaskan mengapa dia membeli begitu banyak bahan.


Kleine dengan acuh berbalik, "terserah!" Ujarnya sejenak dan kemudian dia berjalan ke sofa ruang tamu.


Lion tersenyum lembut, dia melihat dapur yang sangat bersih dan sangat rapi ini. Jelas dapur ini tidak pernah digunakan. Dan dia yakin bibi yang tadi dia temui di lift juga baru saja kembali untuk membersihkan apartemen ini atas perintah dadakan dari Kleine.


Karena dia bisa melihat ada beberapa jejak yang tersisa. Lion inisiatif membuka kulkas. Dan seperti yang dia duga, kulkas itu hanya berisi minuman tanpa ada sedikitpun makanan. Lebih lagi, saat dia melihat salah botol minuman itu. Ya, tidak buruk untuk minuman yang sudah kadaluarsa bukan?


Dia tersenyum semakin puas, memilah minuman yang sudah kadaluarsa dan membuangnya ke tempat sampah.


Untunglah dapur itu masih menyediakan bumbu-bumbu dapur, jika tidak Lion harus dengan terpaksa kembali ke market untuk membelinya.


Kleine mengabaikan apa yang dilakukan Lion dibelakang sana. Lagipula dia tidak berniat untuk merahasiakan bahwa ini bukan tempat yang sering dia tinggali. Dia mendekati lemari televisi, membuka salah satu laci dan melihat ada tiga kotak handphone di sana. Dia mengambil satu dan mulai sibuk menukar kartu.


"Untuk sementara ini tidak buruk!" Ujarnya ringan dan mulai membuka jendela game.


Lion yang bersandar di kusen pintu menaikkan alisnya dengan senyum mulus. Sangat dia menggeleng sedikit dan berbalik, sepertinya dia benar-benar jatuh cinta pada gadis ini?


Dia bahkan menganggap setiap gerakan gadis itu lucu dan sangat enak dipandang.

__ADS_1


Suara dering telepon membuat Kleine dengan malas mengangkatnya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan malas.


"Bisa ketemu?" Tanya gadis di ujung sana.


"Hei, kita baru saja bertemu satu jam yang lalu nona. Apa kau merindukan aku secepat itu setelah membiarkan suamimu mengusir aku?" Tanya Kleine dengan nada mengejek. Dia berbaring malas di sofa dan menekan remot televisi.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, aku tidak bisa mengatakan hal ini di telepon. Aku tidak tenang sekarang," jelasnya tergesa-gesa.


"Sekarang tidak bisa, aku sedang berkencan."


"Kau berkencan?" Tanya Lea dengan kaget, "apa dengan tuan muda Lion?" Tebaknya yang sangat tepat sekali.


"Omong kosong! Aku tidak berkencan, dia hanya memasak untuk menganti rugi telepon yang telah dia rusak!" Jawab Kleine cemberut.


"Tapi kau sendiri yang mengatakan itu sebelumnya!" Ujar Lea tak kalah malasnya.


Kleine tidak tahu bahwa percakapan dia dengan telepon telah di dengar oleh seseorang. Awalnya Lion ingin bertanya apakah dia suka pedas atau tidak. Siapa yang tahu dia akan mendengar kata itu dari mulut Kleine sendiri, dia tersenyum sangat manis sekarang.


Kleine merinding mendengar bisikan itu, dia menoleh dan cerobohnya bibirnya bertabrakan dengan bibir Lion yang tadi membisikinya.


Mata keduanya bertemu, Lion juga tertegun untuk ketidaksengajaan yang menyenangkan ini.


"Akhh..." Teriak Kleine kaget dan langsung menjauh dari Lion beberapa centimeter.


"Kau... Ehe.." ujar Kleine dengan nada berat dan menghapus bibirnya berat.


"Kleine ada apa?" Tanya Lea di ujung sana panik mendengar teriakan dari Kleine.


"Kleine?... Kleine?... Apa terjadi sesuatu?" Tanya Lea semakin panik karena Kleine masih tidak menanggapi dia setelah dia beberapa kali memanggil.


Lion tersadar dengan teriakan Kleine yang memekakkan telinga. Tangannya dengan bingung menyentuh bibirnya yang baru saja kehilangan keperawanan.


Lion tersenyum tanpa rasa bersalah, toh bukan dia yang memulai bukan? Dia menaikkan alisnya sebelah.

__ADS_1


"Apa?" Tanyanya dengan godaan.


Kleine ingin memakinya, tapi belum sempat membuka mulut, dia sudah di potong oleh Lion. "Ekh, nona jangan menyalahkan saya yang tidak bersalah ini. Nona sendiri yang mengatakan sedang berkencan dengan saya sebelumnya, dan bahkan anda sendiri yang berbalik dan membuat..." Lion sengaja tidak menyelesaikan ucapannya dan matanya menunduk kearah telepon untuk mengingatkan Kleine bahwa tadi dia sedang menelepon.


Kleine hanya bisa dengan kesal melirik handphonenya dan berjalan ke balkon dengan kesal.


Lion yang melihatnya pergi dengan kesal entah mengapa menjadi sangat senang. Dia bahkan tidak bisa menghilangkan bayang-bayang dari apa yang barusan terjadi. Dengan senyum yang tidak pernah lepas sejak tadi, Lion kembali ke dapur dan membuat masakan. Awalnya dia bertanya apakah Kleine suka pedas atau tidak.


Tapi terlalu banyak hal yang terjadi membuat dia tidak punya waktu untuk bertanya. Lupakan saja, dia bisa membuat hidangan dengan dua rasa. Atau bahkan dia bis membuat saus sambal jika ternyata Kleine sangat menyukai pedas.


"Kleine kau baik-baik saja? Kleine jawab aku dong!" Ujar Lea semakin panik.


Dia sangat takut Kleine akan di celakai oleh Lion.


"Ya!" Jawab Kleine singkat setelah berhasil menyesuaikan emosinya.


"Oh, kau baik-baik saja?" Tanya Lea sedikit lega.


"Ya," jawab Kleine singkat lagi.


"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Lea yang berhasil membuat Kleine terdiam.


Dia seketika ingat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Mengelus bibirnya dengan pelan dan menggeleng dengan cepat. Apa yang dia pikirkan? Kleine mengetuk keningnya dengan kesal.


"Tidak ada, temui aku di apartemen Jingga pada malam hari nanti, aku sibuk! Aku. Akan tutup dulu, sampai jumpa nanti malam!" Ujar Kleine cepat dan langsung menutup telepon setelah selesai berbicara.


###


Ahhhh... menurut kalian itu mereka jadi makan siang gak ya?


Atau Kleine bakal langsung ngusir Lion dari apartemennya?


saksikan lanjutannya besok ya!


Love you💙

__ADS_1


__ADS_2