
Lion melihat jam tangannya, masih ada satu setengah jam dari waktu yang di sepakati untuk datang ke apartemen Kleine. Lion melihat ke supermarket dan meminta Geon untuk berhenti.
Dia mengambil langkah keluar setelah mobil itu berhenti.
Goen ingin bertanya kemana pria itu akan pergi. Tapi, dia menghentikan niatnya karena Lion telah menyebrang jalan dan menuju ke supermarket.
Geon menggeleng dengan geli, Lion tidak pernah berbelanja sebelumnya. Dia biasanya hanya perlu mengulurkan tangan dan semua Yang dia inginkan akan segar muncul di tangannya. Ini mungkin hari pertama geon melihat Lion berbelanja sendiri barang yang dia inginkan.
Geon ingin mengikuti Lion, tapi dia harus mencari tempat parkir terlebih dahulu.
Kleine tidak tahu bahwa karena telepon tidak penting darinya. Lion telah kehilangan proyek dengan harga miliaran rupiah. Saat ini dia masih menonton film Marsha dengan tawa kecil.
Hidup Kleine memang tidak akan pernah tenang jika handphone miliknya aktif.
"Ya?"
"Aku sangat ingin tahu mengapa Aigiee membohongi kita, apa kau juga ingin tahu?"
"Piscel??? Kau tahu bahwa Aigiee adalah yang tertua di antara kita. Mengapa kau harus memikirkan hal seperti itu? Adalah haknya untuk berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu!"
"Anak ketiga!" Ujar Piscel dengan nada geram.
Dia tahu dari jawaban Kleine bahwa saat ini Kleine sedang marah dengan Aigiee. Dia tidak tahu mengapa Kleine sangat marah dengan Aigiee. Kemarin semuanya tampak baik-baik saja.
Kleine yang mendapatkan julukannya masa kecilnya menjadi serius.
"Ada apa?" Tanya Kleine dengan malas.
"Heh..."
"Kau merahasiakan sesuatu dariku... Jangan berpikir untuk menghakimi orang orang jika kau juga suka berbohong!" Ujar Kleine tenang sebelum Piscel mengucapkan hal lain.
Piscel diam.
Dia seharusnya ingat bahwa Kleine sangat teliti. Dia bahkan bisa sadar seseorang berbohong atau sedang menyembunyikan sesuatu meskipun itu hanya percakapan singkat di telepon.
"Jangan hubungi aku untuk hal yang tidak penting Piscel!" Ujar Kleine ringan dan bersiap akan mematikan sambungan.
__ADS_1
"Tunggu!" Ujar Piscel cepat.
Setelah memastikan bahwa telepon itu masih terhubung, dia menarik nafas lega dan segera bercerita. "Ini terkait masalah delapan tahun lalu..."
Bahkan jika Piscel tidak menyebutkan kecurigaan yang dia rasakan. Kleine tahu betul apa yang saat ini sedang Piscel maksud. Dia meremas tangannya hingga telapak tangannya terluka dan mengeluarkan darah.
Matanya menahan dan penuh amarah. Dia siap untuk menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
Hanya dia yang tahu bahwa kejadian delapan tahun yang lalu tidak sebatas hilangnya Aigiee. Saat itu, Kleine melihat dengan matanya sendiri. Seorang adik ke empat yang begitu di sayang hancur di depannya.
Itu di saat semua orang lengah dan sedang mencari tahu tentang keberadaan Aigiee. Di saat Kleine sedang stres.
Dan saat itu, adik ke empat tahu sesuatu. Sayangnya sebelum adik ke empat sempat menemui dirinya dan mengatakan sesuatu. Sebuah peluru melesat sangat cepat dan menembak langsung ke mulut adiknya yang tercinta.
Kleine juga sangat menyesali dirinya yang kurang waspada. Kleine menyesali dirinya yang tidak cukup kuat untuk melindungi orang yang dia sayangi. Dan Kleine sangat marah pada harapan yang dia tanam dengan baik.
Dia...
"Kleine kau baik-baik saja?"
"Apa terjadi sesuatu?"
Saat ini Piscel sangat panik. Dia tahu betapa kejadian tahun lalu adalah bagian yang tidak ingin Kleine ingat tapi juga tidak ingin dia lupakan. Perasaan seperti itu sangat menggores hati Kleine.
Piscel sudah menduga hal seperti ini akan terjadi jika dia mengatakan yang sebenarnya.
Adik ke empat mereka adalah seorang laki-laki. Kleine selalu menjadi yang paling memanjakan nya. Saat itu dia baru berumur sepuluh tahun dan sudah sangat cerdas.
Semua orang hanya tahu bahwa dia tertembak saat menjalankan misi. Tapi, tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya tertembak karena datang menemuinya dan ingin memberitahu tentang Aigiee.
Orang di balik tragedi Aigiee adalah seseorang yang sangat kejam. Kleine tidak akan pernah melepaskan dia.
Sudah delapan tahun dia menghilang, dia tidak akan membiarkan jejak kecil ini menghilang. Kleine menghilangkan kesuramannya dan tersenyum jahat.
"Aku tahu!" Ujar Kleine kemudian dan menutup telepon.
Piscel tidak mencegahnya menutup telepon kali ini. Dia tahu bahwa Kleine saat ini sedang butuh waktu tenang. Dia bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Seperti yang Piscel duga. Saat ini Kleine menghancurkan barang barang yang ada di atas meja. Semua jatuh dan hancur berkeping-keping.
"Sekarang ayo bermain!" Ujar Kleine dengan senyum suram.
Meskipun ini hanya kecurigaan saja. Tapi, dia sangat yakin dengan kemampuan nya saat ini dan dia akan menemukan jawaban untuk tragedi delapan tahun silam.
"Adik kecil... Tunggu saja pembalasan dari kakak!" Ujarnya dengan senyum licik.
Dia menarik pisau buah dan menusuk sofa dengan acak seperti sedang melukis sebuah karya seni.
Kleine lupa bahwa hari ini dia akan kedatangan tamu. Dirinya yang saat ini sedang dikendalikan oleh emosi. Kleine terus merusak dan berpikir bahwa sofa itu adalah penembak jitu yang telah merusak mulut adik ke empatnya.
"Aku akan mengambil pita suara miliknya dan memasangkan nya padamu! Haha..." Tawa Kleine yang dingin dan suram itu tidak terdengar sampai keluar. Tapi, aura yang sangat mencekam ini menusuk dan membuat orang yang lewat menjadi kedinginan.
Lion yang berdiri di depan pintu menjadi panik. Dia berpikir tentang apa yang sedang terjadi di dalam. Apakah Kleine dalam bahaya?
Dia mendengar pergerakan di dalam dari pintu. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Hanya aura ini begitu mendominasi dan suram. Apakah Kleine sedang kacau?
Lion mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Kleine saat ini semakin tidak terkendali, kejiwaannya terganggu dan dia tidak bisa tenang. Dia mendengar ketukan di pintu. Tapi, jiwanya yang kelam sedang mengendalikan dirinya. Jiwa yang kejam itu sedang mencoba merebut kesadaran terakhir.
Kleine lelah, pisau itu terjatuh dari tangannya dengan bunyi kecil. Lalu tubuh Kleine ambruk dan dia duduk bersimpuh di depan sofa yang tidak berwujud lagi.
Tangis Kleine pecah, jiwanya kacau dan dia tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Semua kenangan yang terlupa perlahan bangkit satu-persatu membuat dia sangat kesakitan. Dia merasa marah, benci dan sangat dendam. Dia berpikir mengapa harus dia yang mengalami semua ini.
Dia merasa bahwa dia tidak sekuat itu. Dia ingin menyerah, dia tidak ingin selalu berada di tengah antara kegelapan dan cahaya itu. Dia ingin melangkah ke tempat terang itu, tolong bawa dia!!!
Lion panik saat ini, jadi dia mengambil ancang-ancang bergegas maju untuk mendobrak pintu. Lantai ini bukan lantai khusus untuk Kleine. Jadi, akan ada orang yang lewat.
Mereka melihat ada seorang pria yang mencoba mendobrak pintu dan segera melapor ke satpam.
"Ada apa ini?" Tanya satpam pada Lion yang masih mendobrak pintu dengan panik.
###
__ADS_1