
Delora menatap kedua orang yang duduk bak raja dan ratu itu dengan emosi yang memuncak. Dia penuh kebencian terhadap nona Greens yang seperti sayuran hijau itu.
Sedangkan Kleine yang merasakan tatapan penuh kebencian dari arah sebelah mengernyit tidak mengerti. Seharusnya Azel tidak mengenalinya begitu mudah bukan?
Dia bisa mengenali Azel karena dia telah melakukan banyak penyelidikan sebelumnya. Tapi, Azel tidak mungkin telah menyelidiki tentang dia juga kan? Seharusnya jikapun dia memang mendapatkan hasil dari penyelidikan, dia tidak akan mengenali wajahnya dengan topeng ini kan?
Kleine masih ragu jika Azel bisa menemukan data tentang dia yang sekarang menjabat menjadi nona Greens ataupun data diri aslinya karena dia sudah dilindungi oleh kakeknya sejak kecil. Semua jejak perjalannya selama masih kecil telah dihapus. Dan semua jejak perjalanannya selama dua tahun ini telah dirinya sendiri yang mengurus dan menghapusnya.
Seharusnya tidak ada celah jika dia sendiri yang melakukan nya bukan?
Jika itu bukan seorang hacker dunia yang paling hebat, Kleine sangat yakin tidak ada yang akan mengetahui identitas dia. Lagipula, Kleine awalnya tinggal di luar negeri, dan dia kembali ke Indonesia hanya beberapa tahun ini saja.
Bakat pemrograman Kleine mungkin terbaik ke tiga di dunia ini. Dia tidak tahu kalau ada orang lain yang bersembunyi. Tapi, dia yakin dia akan yang ketiga jika dibandingkan dengan hacker seluruh dunia.
Melirik Azel yang melemparkan tatapan membunuh padanya. Kleine menyadari bahwa Azel bukan membenci dia karena masa lalu mereka. Tapi itu mungkin karena Azel menyukai pria yang ada disebelahnya ini!
Bukannya merasa semakin kesal dengan Lion. Entah mengapa, Azel merasa sedikit senang sekarang dan menerima pendekatan yang Lion lakukan.
Lion yang selalu memperhatikan Kleine merasa aura gadis itu tidak lagi bermusuhan untuknya. Tapi, sekarang tampak sedikit aneh dan tidak jelas.
Dua orang itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang selalu peduli dengan tatapan orang bodoh disekitar mereka.
Banyak tamu undangan itu menatap dua orang yang duduk seperti raja dan ratu. Sebagian merasa mereka berdua sangat cocok, dan sebagian tidak menyukai kedekatan mereka berdua. Tapi, ada juga yang merasa tebakannya dibenarkan bahwa tuan Lion dan nona Greens sudah saling kenal sebelum perjamuan ini.
Jika tidak, apakah ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi sekarang ini?
Wanita yang tadi ingin mempermalukan Kleine bernama Ghena, dia memakai hiasan wajah yang sangat tebal dan lipstik yang terlalu merona.
Dia menatap semakin benci saat nona Greens tidak berniat menjawab pernyataan dia dan malah membuka telepon pintarnya.
"Apakah nona Greens tidak bisa menjelaskan tentang keaslian giok ini?" Tanya Ghena memancing pandangan dari Kleine. Tapi, gadis itu tampak tidak peduli dan sangat tuli.
__ADS_1
Lion memandang nyonya Ghena yang sangat ingin mempermalukan nona Greens. Hanya melirik sedikit dan dia langsung membuang muka.
Tidak layak! Pikirnya.
Nyonya Greens yang masih diabaikan oleh Kleine ingin terus memojokkan gadis itu, dia pikir dia menang karena Kleine tidak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan.
Tapi, Delora yang berdiri di belakang Kleine bukan tahu lembek yang tidak berguna. Dia tersenyum manis pada nyonya Ghena ini.
"Maaf untuk pengabaian nona kami nyonya!" Ujarnya dengan wajah yang sangat tulus.
Permintaan maaf Delora membuat nyonya Ghena merasa sedikit bangga.
Tapi, di detik berikutnya dia di terbangkan oleh kehampaan setelah mendengar kelanjutan dari perkataan Delora.
"Nona kami ini sedikit berprinsip yang aneh. Seperti kata orang, seberapa berisik orang pintar, jika ada satu fakta mereka juga akan diam. Dan begitu juga, sebanyak apapun fakta, jika dibicarakan dengan orang bodoh hasilnya hanya akan satu yaitu percuma." Dia mengambil sedikit nafas sebelum kembali berkata, "untuk itu nona mengatakan dia tidak suka meladeni orang yang tidak mempercayainya. Hak setiap orang untuk percaya dan hak nona kami juga untuk tidak menjawab!"
Wajah nyonya Ghena patah saat ini, apakah asisten itu berani menghinanya! Meskipun Delora adalah bos di depan layar perusahaan K.E entertainment, tapi dia hanya boneka dari nona Greens yang pangkatnya lebih rendah darinya. Tapi, dia dengan berani menghina dia yang jelas-jelas lebih kaya darinya!
Saat dia berbalik, dia melihat wajah suaminya yang sangat galak.
"Ah, saya harap nona Greens dapat memaafkan kelalaian istri saya yang tidak memiliki pandangan kedepan ini!" Ujarnya mencoba menjilat Greens dan Delora.
Nyonya Ghena ingin berteriak dan memprotes ucapan suaminya. Tapi, suaminya tidak memberi dia kesempatan dan menatap wanita itu ganas. Seakan dia akan membunuhnya jika wanita itu terus mengeluarkan satu katapun.
Menelan keberanian terakhir yang tersisa. Dia hanya bisa diam.
"Kalau begitu saya akan pamit undur diri dulu nona. Tuan Jhon saya minta maaf karena hanya bisa hadir sebentar karena saat ini saya ada beberapa urusan yang harus segera diatasi."
Tuan Jhon hanya mengangguk dengan ringan. Sedangkan Kleine sendiri tidak berniat untuk melihat dia orang itu.
Dia membungkuk sebagai tanda pemintaan maafnya. Lalu, segera menarik istrinya pergi menjauhi keramaian.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu pergi dengan sangat lancar menyisahkan semua orang dengan tanda tanya. Seburuk apapun masalahnya seharusnya tidak pergi begitu tergesa-gesa kan?
Tapi bukan itu intinya, karena penasaran mereka terhadap batu akik itu masih belum terjawab!
Mereka memandang batu yang masih di pegang tuan Jhon dengan bingung. Lalu pandangan mereka pada nona Greens yang sangat tenang memainkan handphone yang lebih menarik daripada pertanyaan yang menusuk pikiran semua orang.
"Kenapa tempat ini sangat sepi?" Tanya suara tua yang membelah kerumunan.
Ketiga kakinya maju secara bergantian. Dan mendekati tuan Jhon. Lalu matanya berbinar saat dia melihat apa yang sedang di pegang oleh pria itu. Dengan kakinya yang rapuh, dia bergerak sedikit cepat membuat asisten di sampingnya cemas.
"Hati-hati tuan!" Ujarnya dengan panik dan membantu memegang lengan pria tua itu yang memegang tongkat kayu antik.
Pria tua itu tidak peduli dengan kepanikan asistennya. Dia menyingkirkan tangan asisten itu dan meraih batu akik yang saat ini di pegang oleh tuan Jhon. Dia mengamatinya dengan hati-hati. Tangannya bahkan bergetar saat memegangnya.
"Katakan kepadaku dimana kau batu giok pirus Persia ini!" Perintah tuan tua itu pada tuan Jhon yang masih menatap tangannya yang kosong dengan bingung.
Semua orang juga terkejut dengan pertanyaan pria tua itu lalu mereka lagi-lagi melirik Kleine yang masih cuek dan abai itu.
Tuan Jhon tidak menjawab pertanyaan tuan tua itu dan melirik tangannya yang kosong lalu ke tangan tua tuan yang memegang giok itu dengan sangat perhatian.
"Katakan siapa yang memberikan ini?" Minta tuan tua itu dengan tongkatnya yang sudah sedikit memukul betis tuan Jhon.
Rasa sakit dari kakinya membuat tuan Jhon tersadar dari linglungnya dan langsung menatap Kleine yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.
Lebih jauh lagi, Lion yang berada disampingnya sedang memainkan laptop dan tampak sangat serius. Kedua orang itu seperti sedang berada di ruangan yang kosong. Seakan mereka hanya dinding yang tidak hidup.
Tuan tua juga melirik dua orang yang sepi di tengah keramaian ini. Dia melihat sosok di belakang wanita berbaju hijau. Lalu, dia dengan bersemangat bergerak mau yang membuat jantung asisten itu kembali di pompa.
###
Up bonus untuk hari kemenangan bagi yang merayakan hari raya idul Fitri.
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin🙏