
Beberapa orang hanya naik tanpa ada yang turun. Kleine bertemu dengan banyak gadis lainnya yang tampak sangat tergesa-gesa. Tapi, dia sendiri tidak begitu peduli. Tetap menjadi anggun dan berjalan dengan lamban.
Saat sampai di lantai kedua. Kleine menggeleng dengan pasrah.
Di depannya hanya ada lorong sempit seukuran satu orang langsung dan pengap.
Di sepanjang lorong akan ada dinding kaca yang memisahkan lorong dengan tempat latihan. Dalam satu lantai hanya ada enam ruangan.
Tiga di sisi kanan dan tiga lagi di sisi kirinya. Karena pembatasnya adalah dinding kaca. Kleine bisa melihat gadis-gadis kecil yang sedang melompat ataupun berlari.
Bagian kiri Kleine adalah gadis kecil yang masih anak-anak. Dan bagian kanannya adalah para remaja kecil, atau juga gadis SMP. Begitu liciknya para pendiri tempat latihan ini. Bahkan tangga berikutnya berada di ujung lorong ini. Dengan tempat yang sangat sempit ini. Bahkan tidak ada yang bisa saling berpapasan. Semua orang harus mengantri dan sangat tertib.
Kleine tidak peduli dengan jalan yang sempit ini. Dia tetap berjalan dengan lamban, bahkan jika dia diadu dengan siput, mungkin siputlah pemenangnya.
"Ekm... Kakak, bisakah anda lebih cepat? Saya sedikit terburu-buru!" Suara manis seorang gadis mengusik telinga Kleine.
Kleine berbalik dengan lancar tanpa ada kesulitan.
Meskipun tempat ini dibilang hanya muat satu gadis langsing. Tapi, jika badan dimiringkan. Itu benar-benar bisa membuat dua gadis saling berpapasan. Tapi tentu saja tidak semudah itu.
"Kau bisa jalan lebih dulu!" Ujar Kleine dengan tenang.
Gadis itu sedikit lebih gemuk dari gadis lainnya di sini. Bahkan untuk berjalan di lorong ini, itu menjadi sangat penuh. Bagaimana mungkin dia bisa menerobos secara langsung?
Melihat gadis itu masih tidak menanggapi dan tampak memerah dengan kepala tertunduk. Kleine mengeryit, "ada apa?" Tanya Kleine seakan tidak mengerti.
Gadis itu merasa kakak cantik didepannya sedang menghinanya. Dia kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena bentuk fisiknya yang memang membuat dia selalu tertindas.
Meskipun dia tidak begitu gendut di luar. Tapi, di dalam sini adalah hal yang berbeda. Tidak hanya orang disini sangat langsung namun mereka juga sangat cantik dan tinggi.
Jika bukan karena impian dan juga kesempatan yang bagus. Mungkin dia tidak akan pernah bisa masuk ke tempat ini.
__ADS_1
Tapi, sebaik apapun keberuntungan itu. Dia tetaplah dikecewakan oleh titik baliknya.
Tidak ada yang benar-benar putih di dunia ini. Jika anda ingin sukses. Pintunya akan selalu ada, tapi apakah kamu bisa membukanya atau tidak masih bergantung pada dirimu sendiri!
Sudah dua tahun dia belajar di club' ini.
Awalnya badannya sedikit lebih gemuk dari ini. Dia bahkan tidak bisa naik ke lantai berikutnya karena tempat itu lebih sempit lagi. Dia sebelumnya selalu berlatih di lantai satu.
Ya, di lantai pertama memang ada tempat latihan yang di peruntukkan pada pemula. Dan disana dia berlatih di bawah tekanan dan rasa malu.
Karena yang biasanya berlatih disana adalah anak kecil kaya raya yang gemuk. Sedangkan dirinya? Tidak hanya dia sudah SMP kala itu, dia bahkan hanyalah seorang anak miskin yang cukup beruntung.
Tapi, karena telah terbiasa dihina selama dua tahun ini. Dia hanya bisa diam, bukankah diam itu emas? Lagipula dia tidak punya apa-apa untuk membalas penghinaan itu kembali.
Dia hanya bisa bungkam dan bangkit perlahan agar bisa membuat seluruh orang yang pernah menghinanya menjadi bungkam kembali.
Seakan sedikit memahami apa yang menjadi permasalahan gadis itu. Kleine mengangguk mengerti, "aku terlalu Leah untuk berlari, tapi kau bisa berjalan lebih dulu."
Sekarang dia sudah berada di belakang gadis itu. Bahkan gadis itu masih tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya tahu apa yang kakak cantik itu katakan. Dan sekarang, dia bahkan tidak melihat apapun kecuali sebuah bayangan biru putih yang melewati dirinya.
Oh, jangan lupakan angin yang begitu segar dan suara tapakan kaki yang cukup kencang itu.
Orang orang yang fokus pada latihan di dalam ruangan tidak akan mendengar tapakan kaki itu. Tapi, mereka akan mendengar dengan jelas ketukan kuat pada dinding kaca.
Semua orang di ruangan itu menoleh serempak dan melihat sebagian kecil dari hal yang begitu mengagumkan.
Orang di ruangan lain tidak mendengar apapun karena ruangan itu kedap suara. Tapi, ada beberapa gadis yang sedang menoleh ke arah luar saat itu. Mereka bahkan berteriak penuh kekaguman karena telah melihat gerakan itu dari awal sampai akhir.
Sedangkan, gadis itu sendiri berbalik dengan susah payah dan menatap Kleine dengan rumit.
"Apa yang kau lihat, bukankah kau terburu-buru?" Tanya Kleine heran. Dia telah menyeimbangkan tubuhnya sehingga biasa berdiri dengan mantap.
__ADS_1
Gadis itu segera tersadar dari linglungnya. Memandang wajah Kleine yang hanya terlihat setengah. Membungkuk dengan perhatian dan air mata di sudut matanya. "Terimakasih kak!" Ujarnya cepat, lalu berbalik dengan tergesa-gesa.
Untuk pertama kalinya dia merasa telah dihargai dan begitu di hormati.
Sedangkan semua orang yang menatap kagum Kleine dari kedua sisi hanya bisa menatap saja. Mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi. Dari keluarga kaya, tentu saja harus memiliki etiket yang baik.
Belum lagi tempat ini sangat tidak suka kegaduhan. Apalagi potong yang begitu sempit, bukannya berhasil bertemu dengan kakak cantik itu. Mereka mungkin akan terkurung di lorong sempit dengan hukuman berat setelahnya.
Meskipun itu mengagumkan bagi mereka. Itu tidak begitu mengagumkan bagi ahli balet. Kerena gerakan itu salah hal yang sangat biasa.
Kleine sendiri kembali ke dirinya yang santai dan anggun. Di bawah tatapan banyak orang, dia menepuk debu di bahu kirinya dan berjalan dengan lamban.
"Ku rasa tulangku masih cukup lentur!" Ujar Kleine dengan bangga pada dirinya sendiri.
Setelah di usir habis-habisan oleh Kleine. Lion dengan sedikit rasa kecewa harus pergi ke perusahaan. Dia semakin pusing saat melihat banyak berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Selamat pagi tuan!" Ujar Geon dengan senyum ramah yang khas.
Karena tuannya yang baik ini, dia kemarin bahkan tidak punya waktu untuk pulang. Antara rapat dengan kepala departemen, meeting dengan kolega bisnis. Lalu meninjau banyak dokumen untuk di tandatangani oleh Lion.
"Katakan apa jadwalku di siang hari dan malam hari!" Ujar Lion terlalu malas menanggapi Geon dan wajah palsunya itu.
"Oh, pagi ini ada rapat bulanan dengan dewan direksi. Lalu, pukul 12.30 akan ada makan siang dengan pihak A. Di sore hari akan ada pertemuan dengan perusahaan C. Lalu, anda akan makan malam dengan tuan Dalson sebagai pembuka kerja sama. Selanjutnya..."
Sebelum Goen berbicara lebih banyak. Tangan Lion telah terangkat dengan baik. "Baiklah, tunda kegiatan dia jama makan siang dan makan malam untuk satu bulan ke depan!" Ujar Lion dengan tenang dan mengambil langkah untuk duduk di kursi kebesaran miliknya.
"Apa!" Teriak Geon dengan kaget.
###
Ekm... Cie yang nunggu up tiap hariš¤
__ADS_1