
"Hei... Kunci mobilku tertinggal di meja makan!" Teriak Lion sebelum pintu benar-benar tertutup.
Di saat pintu itu berhenti tertutup, tangannya langsung menyelinap dan mendorong pintu terbuka lagi. Dia masuk dengan cepat. Membuat Kleine langsung tersadar.
"Ngapain masuk lagi sih?" Ujar Kleine dengan kesal.
"Kunci mobil gue masih di dalam Ayang!" Ujar Lion dengan genit setelah belajar dari tiktok.
Namun Kleine terdiam mendengarnya. Bukan karena terpesona.
Bukan!
Tapi wajahnya yang datar dan mengatakan hal itu dengan satu mata berkedip, aneh sekali!
"Gue bisa ambilin kali. Dan lagi apaan tuh Ayang? Jijik dengernya!" Ujar Kleine dengan malas.
Lion agak kecewa dengan hasilnya. Tidak ada pipi merah dan wajah malu-malu yang muncul di wajah Kleine. Apakah film itu berbohong? Mana ada wanita yang langsung merona karena kata aneh itu!
"Ya udah ambilin gih, gue tunggu di pintu!" Ujar Lion dengan santai dan mulai menempel pada dinding dekat pintu.
"Udah masuk juga! Ambil sendirilah!" Ujar Kleine dengan malas.
"Katanya tadi kamu yang mau ambil?" Tanya Lion menggoda dengan wajah dinginnya.
Kleine yang merinding melihat hal itu langsung berbalik untuk mengambil.
"Iya gue ambil!" Ujarnya.
Lion melihat punggung Kleine. Dia merasa gaya punggung yang tegak dan sombong ini sudah tidak asing lagi. Tapi dia tidak tahu pernah melihatnya dimana. Apa itu wanita berseragam kuning waktu itu?
"Nih!" Ujar Kleine pada Lion yang melamun.
Lion mengemilnya dengan senang dan sengaja menyentuh tangan Kleine.
"Sangat lembut!" Pikirnya.
"Pulang gih!"
Kleine langsung menarik tangannya dengan tidak nyaman. Berada di dekat pria aneh ini membuat Kleine selalu waspada.
Lion mengingat adegan lain pada video pendek yang dia tonton. "Oke deh!" Ujarnya dengan senyum kecil dan mengacak rambut Kleine dengan nakal lalu langsung berlari segera. Tapi dia harus menahan sakit karena kakinya tersandung sesuatu.
Setelah Lion menjauh, Kleine berteriak dengan kesal. "Dasar gak jelas! Ngapain coba ngerusak rambut gue? Huh... Lari aja gak bener!" Umpat Kleine dengan keras yang terdengar oleh Lion sebelum lift tertutup.
Lion tersenyum kecil dan menatap dua tangannya dengan bangga.
Hari ini dia sangat beruntung!
__ADS_1
Seperti yang Davin duga. Firasatnya tidak pernah salah, dia melihat seorang pria tua masuk ke desa di kawal oleh seorang pria kuda yang gagah dan berotot. Semua warga desa berkumpul dan menyambutnya.
Di desa tidak ada mobil yang bisa masuk karena jalan menuju kesini sangat kecil. Hanya bisa menggunakan kendaraan bermotor saja. Davin melihat pria itu memakai seragam seorang pembalap yang akan untuk pemotor.
Bahkan kendaraan bermotor itu hanya bisa berhenti di gerbang desa saja.
Seorang pria tua di desa ini segera berlari dan memeluk pria tua itu. "Yo... Ansa! Sudah lama sekali kita tidak bertemu!" Ujar kakek.
"Orang tua memang aneh ya kak?" Tanya Devan pada Davin. Davin menoleh dan mengangkat alisnya tanda tidak mengerti.
"Bukankah sakit menepuk punggung begitu kencang!" Tunjuknya pada dua orang yang saling menepuk itu.
Davin mengangguk mengerti.
"Ya!" Jawabnya singkat karena dia juga merasa itu aneh.
"Kenal kau baru kesini sekarang?" Tanya kakek itu setelah melepas pelukan mereka.
"Haha... Selama ini aku tidak setenang dirimu. Ada cucu yang harus aku rawat dengan baik!" Ujarnya penuh penyesalan.
"Oooh, apa dia sudah menikah sekarang?" Tanya pria tua itu bersemangat.
Ansa menggeleng. "Sayangnya dia memang masih muda dan belum memikirkan hal itu."
Dia masih tidak tahu bahwa cucunya sedang mengejar gadis. Jika dia tahu mungkin dia tidak akan datang kesini dan menunggu hari pernikahan dulu baru pergi.
"Ayo masuk dulu... Kau pasti lelah setelah berada di motor seharian ini."
"Baiklah...baiklah!"
Dia mengikuti kakek itu dan juga menyapa semua orang dengan senyum ramah. Dia juga membiarkan beberapa pengawal yang mengikutinya untuk membagikan hadiah.
Pria tua itu sangat senang berada di desa itu. Ada sangat banyak orang yang ramah dan anak kecil yang ceria.
"Dia sudah pergi kak, ayo ke ladang untuk membantu ibu memetik sayur!" Ajak Devan pada Davin yang masih menatap pria tua itu dengan linglung.
Kakaknya yang satu ini sangat bersemangat untuk orang tua baru yang datang ke desa. Bukan karena oleh-oleh dari mereka. Tapi kakaknya berharap bisa belajar sesuatu dari mereka. Berbeda sekali dengannya yang tidak suka bercampur dengan pria tua yang membosankan.
Siapa juga yang tertarik berbincang tentang catur, dan minum kopi pahit?
"Ah iya!" Jawab Davin setelah tersadar dari lamunannya.
Mereka berdua berlari ke ladang milik mereka.
"Devan! Davin! Kemana?" Tanya Waria dari atas pohon mangga yang buahnya sangat lebat.
"Ngapain kamu disana?" Tanya Devan setelah menemukan asal suara Waria.
__ADS_1
"Ya petik buah lah!" Jawab Waria dengan malas. "Jawab dulu tadi yang aku tanya!" Ujarnya kemudian.
"Mau ke ladang, bantu ibu petik sayur!"
"Oh, kamu mau gak mangganya?"
"Ini kan pohon mangganya kak Jiji? Emang kamu udah minta?" Tanya Devan yang juga tergoda dengan buah kuning di atas.
"Gampang itu, nanti tinggal bilang aja! Ini kan di desa bukan di kota yang cuti buah semangka bisa masuk penjara bertahun-tahun. Di desa itu kayak SCTV! Satu untuk semua, yuk naik kalau mau. Tenang aja, kak Jiji kan paling sayang sama aku!" Ujarnya.
"Nanti aja deh, aku bantu petik sayur dulu ya!"
"Ya, yaudah nanti buahnya yang udah di petik aku kasih kamu aja ya!"
"Oke, makasih Waria yang cantik!"
"Apaan sih!"
"Jumpa lagi!"
Devan menarik tangan kalanya yang selalu diam saja sejak tadi tanpa berniat untuk ikut percakapan.
"Kak apa pipimu lumpuh?" Tanya Devan dengan asal yang langsung mendapat tatapan ganas dari Davin.
"Hei, aku kan cuma bercanda! Tidak perlu menatapku sampai segitunya juga kan?" Ujarnya dengan cepat karena takut kakaknya mengamuk.
Aura kakaknya ini sangat ganas, sepertinya itu gen berlebihan dari bajingan itu.
Dengan segara mereka sampai di ladang dan melihat ibu mereka yang sedang mencabut rumput.
"Bu, kita datang!" Sapa Devan dengan wajah berseri.
Floye menatap wajah putra-putra miliknya. Dia melihat wajah Devan yang penuh senyuman manis. Lalu pada Davin yang wajahnya terlalu dingin.
"Hei, Kemarilah dan bantu ibu memetik sedikit bawang, tomat yang sudah matang dan juga cabai merahnya."
"Ya Bu!" Jawab keduanya dan langsung mengambil keranjang di gubuk.
"Kakak akan memetik cabai dan aku sisanya!" Ujar Devan cepat membuat pengarahan lalu berlari karena takut kakaknya tidak setuju.
Dia sangat benci memetik cabai karena matanya pernah perih terkena cabai.
Davin tidak protes, dia berjalan ke arah yang berlawanan dan mulai memetik cabai yang sudah merah.
###
🤪🤪🤪
__ADS_1