Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Fifty Eight


__ADS_3

Seperti yang di katakan oleh tuan Carlos. Hari ini dia membawa Azel ke rumah sakit dengan buah tangan untuk tuan tua Bramansa.


Melihat pengawalan bangsal yang begitu ketat. Tuan tua Carlos menyapa dua pria bertubuh kekar itu.


"Pagi Keral!" Sapa tuan tua Carlos dengan ramah.


Keral adalah bawahan tuan tua Bramansa yang bertugas melindungi pria tua itu. Keral sudah tinggal lama bersama tuan tua. Awalnya Keral adalah seorang pengawal khusus untuk Agel Bramansa. Agel merupakan anak dari tuan tua Bramansa sekaligus ayah Lion.


Tapi, sejak kepergian tuan Agel. Dia mulai merawat dan menjaga tuan tua itu. Kemarin adalah sebuah kebetulan yang buruk sehingga tuan tua nyaris diculik dan terbunuh. Saat itu dia sedang menyelidiki beberapa kasus yang sangat penting.


Hari ini, saat tuan tua tidur. Dia dengan tegap mengusir Geon untuk mengurus pekerjaan dirinya sendiri. Dan dia mengantikan untuk berjaga disini.


Mengenali siapa yang sedang menyapanya. Keral mengangguk, "tuan Carlos tua terlalu sopan." Dia berkata dengan wajah datar, melirik buah tangan yang dipegang oleh pria tua itu. Dia tahu bahwa pria itu ingin menjenguk tuannya. Tapi, melirik gadis yang berada di belakangnya. Keral sedikit mengeryit dan mengerti apa tujuan utama dari orang ini.


Dia sedikit tidak senang, tapi tidak mau menunjukkan hal itu wajahnya.


"Apakah tuan tua Bramansa di dalam?" Tanya tuan Carlos dan melirik ke pintu bangsal.


Keral mengangguk, "masuklah tuan!" Ujarnya dan membukakan pintu untuk pria itu.


Dia juga ikut masuk bersamanya setelah itu. Akan tidak sopan untuk mencurigai seorang pria tua, tapi juga bahaya jika dia tidak waspada terhadap orang di sekitarnya. Dengan telaten, Keral berdiri di sudut pintu. Azel menatap Keral dengan angkuh, hanya prajurit tua.


Dia heran mengapa ayahnya begitu menghormati pria itu. Tapi, dia sudah mendapat wejangan dari kakeknya untuk tidak menjadi terlalu angkuh dan sombong. Jika dia ingin dikenalkan dengan tuan tuan Bramansa. Maka dia harus menjadi orang yang lembut dan sopan.


Sayangnya Azel terlalu mudah dan di manja. Sebaik apapun dia menutupi sifatnya, matanya tidak bisa menyembunyikan apapun.


Saat ini tuan tua Bramansa sudah bangun. Dia adalah pria tua yang waspada. Bisa terbangun untuk berbagai alasan yang tidak pasti.


Melihat teman lamanya, dia menyapa dengan senyum. Tapi, melihat Azel yang mengikutinya. Pria tua itu juga bisa mengerti dengan jelas tujuannya berkunjung. Sama seperti bawahan dan tuan, tidak mudah dibohongi.


Dia bersandar dengan sedikit usaha ke kepala bangsal. Lagipula penyakitnya tidak parah. Hanya sakit ketika usia tua oleh fungsi jantung yang sudah mulai tidak normal lagi.

__ADS_1


"Carlos, lama tidak bertemu!" Sapanya dengan sopan.


"Ya, sudah sangat lama dan tubuhmu juga sudah tidak sekuat dulu lagi!" Ujar Carlos dengan senyum yang tak kalah ramahnya. "Aku membawakan buah untukmu!" Ujarnya lagi dan meletakkan buah itu di nakas.


"Seharusnya tidak perlu repot!" Balas tuan tua Bramansa. "Tapi karena sudah diberi, maka aku harus mengucapkan terimakasih kalau begitu!" Ujarnya lagi.


"Ah, tidak repot sama sekali. Hanya datang menjenguk dan sudah seharusnya memberi buah sebagai doa agar cepat sembuh!" Ujar tuan tua Carlos.


Seakan baru melihat gadis yang sejak tadi bersembunyi di belakang tuan tua Carlos. Tuan tua Bramansa bertanya dengan candaan, "Hei, siapa gadis kecil ini? Apa ini anak barumu?"


"Sembarangan! Ini adalah cucuku, satu-satunya cucu perempuan di keluargaku. Sayang, ayo perkenalkan dirimu pada tuan tua Bramansa!" Ujarnya dan menyeret Azel berjalan mendekati bangsal.


"Halo kakek! Namaku Azel!" Ujarnya malu-malu dengan pipi merona.


"Oh, gadis kecil yang sangat imut. Jadi namamu Azel ya? Itu sangat mirip dengan nama anakku. Haiyah,..." Ujar tuan tua yang tampak bersemangat diawal dan langsung sedih dia bagaian akhir kalimatnya.


"Ah, apakah aku membuat kakek sedih?" Tanya Azel dengan sangat polos.


Tuan tua Bramansa menghapus rasa sedihnya. "Tidak, kakek tidak sedih!" Ujarnya dengan lembut.


Lion tidak datang ke perusahaan setelah pulang dari rumah Kleine. Dia langsung pulang ke pondok indah. Tapi, saat dia pulang. Berbagai file yang terkirim dari email memenuhi layar komputernya.


Oke, sebenarnya dia tidak sebebas Kleine. Dia masih harus mengurus dokumen ini. Meninjau dan melakukan banyak hal.


Memijat batang hidungnya dengan lelah, Lion mulai membaca banyak dari dokumen itu.


Malam berlalu dengan cepat saat kita sibuk. Lion merasa perutnya sedikit lapar. Tapi, dia yang menang biasa melupakan perutnya saat bekerja tidak terlalu peduli.


Tapi, kali ini sepertinya sedikit berbeda. Dia merasa harus makan saat lapar. Apalagi ketika dia ingat betapa rakusnya gadis cantik itu makan siang tadi. Lion mau tak mau menjilat bibirnya dengan rakus. Ya, dia harus makan.


Selesai makan malam dari mie instan. Lion membawa kopinya ke balkon dan melirik rumah sebelah yang lampunya tidak menyala dari kemarin malam. Dia bertanya-tanya apakah dia tidak pulang karena sangat tidak ingin identitas nya di ketahui oleh orang lain?

__ADS_1


Tapi, Lion rasa itu hanya pertanyaan retoris. Jawabannya sudah sangat jelas.


Dia menyeruput kopinya dan pinggang rampingnya bertabrakan dengan pagar pembatas.


Katanya bulan hanya satu. Dan selama kami berada di dunia ini. Tidak peduli apapun itu, kamu hanya bisa melihat bulan secara bersama-sama.


"Apakah dia juga sedang menatapmu?" Tanya Lion tanpa sadar. Tidak ada yang tahu siapa yang dia maksud. Mungkin dirinya sendiri tidak tahu siapa yang Lion maksud.


Setelah merasa udara semakin dingin, Lion masuk ke dalam dan mulai mengerjakan tugas perusahaan.


Setalah Lion pergi, seorang gadis keluar dan berdiri di balkon yang lain. Dia menatap bulan yang redup.


"Kau seperti sebuah cctv. Diam diam menyaksikan apa yang terjadi di dunia ini. Saat malam kau menunjukkan keindahanmu. Dan saat siang, kau bersembunyi di balik cahaya matahari. Kepada siapa kau akan memperlihatkan seluruh kisah manusia?


Apa pada generasi setelah kehancuran? Atau untuk melaporkan pada tuan tentang sandiwara kami yang berjalan sesuai takdir? Atau apa?"


Bibir gadis itu terus mengatakan pertanyaan dan pernyataan yang tidak dia mengerti.


Tubuhnya goyah dan jatuh ke lantai. Dia menatap bulan di atas yang tampak malu karena bersembunyi di balik awan hitam.


"Sebenarnya aku tidak tahu mengapa aku hidup? mengapa aku lahir? Dan sampai sekarang itu masih menjadi pertanyaan besar untuk diriku. Mengapa jalan takdir menuntunku ke titik hitam dan putih ini?


Kemana aku harus melangkah? Aku lelah berjuang terus terang di saat duniaku sebenarnya hitam dan menakutkan! Tuhan, aku tidak membenci cerita yang kau susun untukku. Tapi tolong beri aku sedikit petunjuk agar aku tidak terus tersesat!" Ujarnya dengan rapuh.


Dia terus mengeluh, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan.


###


Hai hai semua🥰


Gimana kabarnya hari ini? Baik terus kan? Jum'at berkah nih, jadi jangan lupa berbagi senyum ya!

__ADS_1


Eh gak nyambung tau😔


Gak papa deh, yang penting bahagia😝😝😝


__ADS_2