Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Ninety-three


__ADS_3

"Sekarang nona Greens telah membuat serangan balik, jangan banyak bertanya untuk saat ini. Yang ingin aku katakan Sekarang nona Greens telahadalah kalian harus menyerang berita yang di angkat oleh nona Greens agar popularitasnya terus meningkat."


Semua orang tercengang dengan apa yang mereka dengar. Mereka ingin bertanya bukankah nona Greens telah meninggalkan mereka? Lalu sekarang apa ini? Tapi mereka ingat paruh pertama ucapan Delora dan mengunci mulut mereka.


Namun, seseorang masih dengan berani bertanya.


"Bukankah nona Greens bilang dia tidak peduli dengan kita?" Tanya seseorang merasa ini terlalu luar biasa.


Delora menatap pemuda yang begitu pemberani itu. "Itu karena nona Greens sedang membuang sampah secara gratis!" Jawab Delora dengan singkat.


Meskipun itu terkesan memilki makna yang cukup dalam. Tapi, itu sangat mudah di mengerti. Ternyata begitu!


"Tunggu apa lagi! Ayo buka akun kalian dan serang musuh!" Ujar Delora dan semua orang langsung bubar. Mereka lari ke ruangan mereka. Satu orang menghadapi satu telepon genggam dan juga satu komputer.


Kleine melihat akun orang asing yang juga membantunya menaikkan bilah kemajuan. Dia hanya tersenyum dengan tenang.


Davin melihat beberapa kakek tua sedang bermain catur setelah makan siang. Dia lewat di depan mereka dengan sengaja.


"Hei nak! Ayo kemari dan sapa kakek ini!" Ujar kakek Jeri pada Davin.


Davin menoleh dan menatap tiga pria tua itu, dia kenal dengan dua lainnya. Tapi, untuk orang yang baru itu, dia sungguh ingin kenal.


Dia mengangguk dan berjalan menghampiri ketiganya.


"Nah, ini adalah anak pintar yang tadi aku ceritakan! Kau pasti juga akan sangat menyukainya!" Ujar kakek Jeri dan mendorong Davin untuk maju ke tuan tua Bramansa.


"Hallo kakek!" Sapa Davin dengan sedikit senyum.


Tuan tua Bramansa melihat wajah ini dengan teliti. Dia merasa wajah kecil ini agak mirip dengan seseorang. Tapi, sikap dinginnya ini sangat mirip dengan cucu durhaka miliknya.


Jelas saja tuan tua itu marah karena di saat dia akan pergi ke sini, dia bahkan tidak ingin tahu apalagi mengantarnya. Dia sekarang sangat kesal dan cukup terhibur dengan anak yang penurut ini.


"Hei nak, kau panggil aku kakek Ansa saja! Jadi siapa namamu?" Ujarnya dengan senyum ramah.


"Davin!" Davin membalas dengan datar.


"Haha... Jangan marah Ansa! Dia memang sangat dingin, tapi jika sudah akrab maka dia tidak akan dingin lagi!" Ujar kakek Bao dengan ledak tawa karena ukuran tangan Anda tidak di balas oleh Davin.

__ADS_1


Di luar sana mereka adalah orang besar yang bahkan anak kecil sangat beruntung jika bisa mendapat uluran tangan itu. Tapi, disini mereka adalah orang biasa. Mereka tetap kaya, tapi disini juga seluruh orang adalah orang kaya.


Anak-anak disini menganggap mereka sebagai kakek tua yang membosankan. Hanya anak cerdas satu ini yang selalu menganggap mereka guru yang hebat. Itu sebabnya mereka sangat senang bergaul dengan cucu kecil ini. Mereka seperti memiliki cucu penurut milik mereka sendiri.


"Ada apa ini? Mengapa tampak begitu cerah?" Tanya seorang kakek lainnya dari balik pintu rumah sebelah.


Davin menoleh dan langsung berlari ke pelukan pria itu. "Kakek!" Teriaknya dengan penuh semangat.


Bramansa melihat pria tua yang baru saja keluar itu.


Lalu dia akhirnya ingat dimana bocah kecil itu terasa tidak asing. Ini jelas sangat mirip dengan wajah muda pria itu.


Bramansa menatap satu besar dan satu kecil yang berjalan mendekat.


"Anak ini..." Kakek Jeri menggeleng, Davin ingin sangat menyukai Kakek Keno di banding mereka.


"Ya, kita hanya orang asing jika dibandingkan dengan pria tua itu!" Balas kakek Bao juga kecewa.


Bramansa tersenyum, jika dia ingat dengan benar. Tempat ini adalah sebuah persembunyian atau pelarian dari orang kaya yang ingin menjauh dari orang lain.


"Apa anak ini punya ayah?" Tanya Bramansa dengan pelan.


"Aku hanya bertanya!" Ujarlah menjelaskan yang tentu saja tidak di percayai oleh keduanya. Tapi, mereka segera menutup mulut saat tua dan muda itu sudah berada di samping mereka.


Tapi, mereka tetap menyimpan keraguan itu di pikiran mereka untuk mereka tanyakan nanti.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya kakek Keno pada tiga orang di depannya.


"Tidak! Kami hanya memperkenalkan cucu kita ini pada Ansa!" Balas kakek Jeri dengan tenang.


"Ya, tapi davin menjawab pria tua itu dengan sangat dingin!" Ujar Bramansa dengan penuh sesal.


"Dia cucuku, tentu saja dia tidak akan menanggapi pria tua lainnya dengan ramah!" Jawab Keno percaya diri yang di balas senyuman aneh oleh Bramansa yang membuatnya agak bingung.


"Iya, cucumu memang hanya akan hangat pada diriku saja!" Balas Bramansa yang membuat semua orang tua itu merasa aneh.


"Hei, apa yang kau katakan! Ini jelas aku yang mengenalnya lebih dulu!" Ujar kakek Bao tidak terima.

__ADS_1


"Jelas dia memanggilku kakek untuk pertama kalinya!" Kakek jeri tidak mau tertinggal.


"Tapi dia yang memeluk ku dengan panggilan kakek untuk pertama kalinya!" Balas Keno dengan sombong.


Davin hanya mendengarkan dengan tenang. Dia tidak begitu peduli dengan perdebatan orang-orang tua ini. Nyatanya dia tidak tahu mengapa dia begitu ingin lengket dengan kakek Keno.


Tapi, itu mungkin karena kakek Keno yang sangat pandai pemrograman seperti Tante Kleine.


"Sudah sudah... Ayo lanjutkan bermain caturnya lagi!" Ujar Bramansa menengahi.


Devan melihat kakaknya yang sudah berkenalan dengan orang baru dari balik pohon. Dia menghela nafas berat.


Kakaknya ini memang aneh, kenapa lebih suka orang tua daripada bermain dengan mereka?


"Ada apa?" Tanya Waria setelah ikut mengintip seperti Devan.


"Akhh...!" Devan nyaris berteriak kencang jika bukan dia langsung sadar dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia terduduk dengan nafas tidak teratur. Kepala kecilnya mengintip sejenak hanya untuk menyadari bahwa tidak ada yang menoleh ke sini.


Sebenarnya semua pria tua licik itu tahu tentang keberadaan Devan. Tapi, mereka hanya berpura-pura tidak tahu.


Devan menatap waria dengan ngeri. "Kenapa kau bisa disini? Bukankah kau bilang akan pergi dan baru akan ada sore nanti?" Tanya Devan dengan heran.


"Ya, itu membosankan! Jadi aku pulang lebih awal setelah pamit dengan ibu. Aku ke rumahmu! Tapi kau sudah pergi... Jadi aku akan mencari ke taman, siapa yang tahu aku akan melihat kau sedang mengintip sini?" Balas waria dengan suara rendah.


Devan menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kenapa kau mengintip?" Tanya waria dengan bingung.


"Aku ingin melihat kakakku sedang apa saja!" Balas Devan dengan malas.


"Kakakmu ini memang sangat aneh? Hei,... Sudahlah! Bagaimana kalau kita main petak umpet dengan yang lainnya?" Itu seperti sebuah pertanyaan. Tapi tangan waria sudah manarik Devan menjauh dari tempat itu bahkan sebelum Devan mendapat tanggapan.


"Hei! Aku bahkan belum setuju!" Ujar Devan dengan kesal.


"Aku tidak peduli! Ayo kita jemput yang lainnya dulu!" Balas waria dengan santai.


Davin menoleh dan melihat ke arah Devan pergi. Dia mendengar teriakan kecil milik Devan tadi. Tapi, dia berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


###


__ADS_2