Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Thirty One


__ADS_3

Makanan penutup datang setelah mereka selesai berbicara. Ada banyak puding lezat yang menggoda untuk disantap.


"Tugas yang aku inginkan darimu adalah merawat Cuttie."


Jefri tersedak ketika mendengar itu, puding yang bulat keluar dari mulutnya dan kembali ke mangkuk yang dia makan. Padahal dia makan dengan sangat santai. Siapa yang tahu akan begitu buruk setelah mendengar ucapan Kleine yang begitu tiba-tiba.


"A,aku?" Tanya Jefri dengan ngeri tangannya menunjuk dadanya sendiri lalu menatap Cuttie yang menatapnya dengan ganas.


Jakunnya naik turun dengan berat.


"Ya, apa kau keberatan?" Tanya Kleine dengan wajah yang sedikit tidak senang.


Bles mendengar dalam diam.


Entah itu pandangan Kleine yang terlalu menakutkan atau wajah hitam Kleine yang membuat Jefri menggeleng tergesa-gesa.


"Tidak, aku tidak!" Jawabnya cepat dan sangat gugup, apalagi pandangan singa itu yang sangat tidak senang dengan dia.


Meskipun Jefri sudah diberitahu oleh Bles sebelumnya bahwa dia mungkin akan berhubungan dengan singa itu dan meskipun dia sudah mencoba menyiapkan dirinya sebaik mungkin, tapi untuk benar-benar mendengar perintah itu. Dia sangat tidak siap!


"Tenang saja, dia tidak segalak namanya! Dia ini sangat imut dan penurut, dia tidak akan mencakar atau menggigitmu!" Jelas Kleine dengan lembut, dia mengelus kepala singa itu dengan sangat lembut.


Saat menghadapi Cuttie, Kleine seperti dua kutub yang berbeda.


Bles dan Jefri mengutuk dalam hati. Bahkan Bles ikut tersedak kali ini setelah dia mendengar perkataan Kleine yang terlalu tidak berpikir itu.


"Segalak namanya apa! Sejak kapan kata Cuttie menjadi begitu galak!" Kutuk keduanya dalam diam.


Merasakan tatapan Jefri dan Bles yang tidak biasa. Dia mengangkat kepalanya dan melihat keduanya dengan tatapan tajam.


Bles dan Jefri sontak membuang muka ke sisi yang berbeda.


"Tugasmu tidak begitu sulit. Kau hanya perlu menemani Cuttie bermain seperti yang tadi aku dan Cuttie lakukan..." Kleine menjelaskan dengan panjang dan lebar dan penuh perhatian.


Sedangkan Jefri saat ini sedang mengingat bagaimana mengerikannya cara bermain Cuttie dan Kleine tadi. Lalu, dua membayangkan jika yang ada di posisi Kleine adalah dia.


Dia yang berlari dengan panik dan di kejar dengan semangat oleh Cuttie.

__ADS_1


Disana tiba-tiba Jefri tersandung dan singa itu berhasil mengepungnya dari atas. Mulutnya terbuka sangat besar dan semakin dekat dengan wajah Jefri.


"Akhh!" Teriak Jefri ketakutan.


Saat dia sadar, Jefri melihat tiga pasang mata menatapnya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Kleine malas karena Jefri memotong penjelasannya yang baik.


"Tidak, tidak apa-apa!" Jawabnya cepat dan langsung mengambil air putih untuk dia teguk.


"Aku akan meminta paman Zen mengurus sekolah untukmu dan juga mengurus agar adikmu dirawat di sini saja agar kau tidak sulit menemuinya nanti," lanjut Kleine menjelaskan.


"Itu tidak perlu!" Balasnya dengan cepat. Dia tidak ingin adiknya ikut terkurung dan tersesat seperti dia sekarang.


"Tidak masalah, ini tidak merepotkan bagiku! Lagipula akan bagus jika setelah adikmu bangun dari koma, itu hanya berarti lebih banyak teman untuk Cuttie. Paman Zen dan yang lainnya tidak bisa menemani Cuttie bermain, itu sebabnya aku perlu orang lain seperti dirimu untuk dijadikan temannya," jelas Kleine dengan rendah hati.


Bles tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memutar matanya berulang kali.


Jefri juga berpikir di dalam hati, "siapa yang tidak ingin merepotkan mu?"


Singa itu mengeong tidak setuju, dia bahkan menggeleng berulang kali tanda tidak suka.


"Hei, jika kamu merindukanku, nanti kamu bisa meminta dia mengantarmu ke tempatku. Sekarang kamu senang?" Tanya Kleine setelah setelah memberikan pengertian Yangs angkat lembut.


Melihat singa itu mengangguk dengan pasrah, Kleine mengangguk puas dan dia langsung meminta paman Zen untuk memandikan Cuttie.


"Kamu mandilah, aku akan kesini lagi lain kali. Jangan nakal, jika kamu nakal lagi aku tidak akan mau menjengukmu!" Ancamnya.


Cuttie hanya bisa mengangguk seperti anjing kecil yang penurut.


Paman Zen datang dan membawa dua pelayan canting di belakanganya untuk memandikan Cuttie.


Setelah kedua pelayan itu pergi, paman Zen berdiri diam menunggu perintah Kleine selanjutnya.


"Paman, tolong bersihkan kamar untuk Jefri. Oh, tolong antar dia membeli baju dan urus sekolah untuk dia. Berikan dia handphone genggam, kartu kredit dan...." Perintah Kleine sangat banyak dan didengarkan dalam diam oleh paman Zen.


Setelah itu, Kleine memberikan perintah lainnya. Saat dia sudah merasa puas, dia menyeret Bles untuk mengantarnya ke pondok indah.

__ADS_1


Paman Zen menunggu di depan pintu bersama dengan Jefri dalam diam mengiringi kepergian dua orang itu.


Mobil yang terparkir di depan gerbang masih aman seperti tidak pernah ada yang mengusiknya.


Saat sampai depan gerbang pondok indah, Kleine berbincang ramah sedikit dengan paman penjaga tentang Bles yang akan mengantarkan pakaian nanti sore. Paman penjaga itu mengangguk dengan sopan.


"Siap non, bisa tenang kalau sama paman nih!" Jawabnya dengan santai.


Disaat yang bersamaan, mobil Porsche hitam lewat.


Lion yang berada di dalam mobil sepertinya telah melihat punggung yang tampak sangat familiar. Tapi saat mobilnya berhenti dan dia menoleh kebelakang, dia tidak menemui adanya punggung seorang wanita di pos penjaga.


Dia berpikir mungkin dia hanya salah lihat saja, jadi mobilnya kembali dia jalankan.


Kleine sendiri yang tidak sengaja terpeleset beberapa menit yang lalu saat ini sedang dibantu oleh paman penjaga untuk berdiri. "Aduh, sakit banget!" Keluh Kleine datar, tampak tidak kesakitan sama sekali yang membuat siapapun yang melihatnya akan ragu jika Kleine sedang kesakitan.


Bahkan paman penjaga sedikit tidak dengan ekspresi itu. Tapi, melihat kaki Kleine yang mulai memerah dan memar, paman penjaga itu yakin jika Kleine memang benar-benar sedang merasakan sakit.


Jadi, dengan baik hati paman penjaga meminjam mobil khusus kompleks ini dan mengantar Kleine ke rumahnya.


"Terimakasih banyak paman!" Ujar Kleine dengan lembut setelah di antar sampai ke depan rumahnya.


"Sama sama non! Kalau gitu paman balik lagi dulu ya non," ujarnya dengan senyum ramah lalu menyetir mobil kembali ke pos penjaga depan.


Kleine berjalan dengan kaki terpincang-pincang.


Lion mendengar suara mobil yang tampak berbeda dari mobil sebelumya. Dia hanya berhenti sejenak untuk berpikir, lalu melanjutkan kegiatannya untuk membuat kopi seduh.


Kleine sendiri sedang mengompres kakinya yang memar dan mulai sedikit membengkak itu. Dia tidak tahu mengapa dia begitu sial sehingga bisa tersandung tiba-tiba dan mengalami memar yang menyakitkan ini.


Apalagi nanti malam dia perlu menggunakan hight hills untuk datang ke perjamuan.


Kleine adalah juara pencak silat yang tidak banyak orang ketahui. Dia bahkan sangat ahli dalam bertempur seperti saat dia berkelahi dengan para pria yang mengganggunya waktu itu. Tapi, luka kali ini benar-benar tidak tertahankan.


Rasanya lebih sakit dari patah tulang setelah bertarung dengan sepuluh orang!


"Apa ini karena aku sudah terlalu lama tidak berolahraga? Tapi sepertinya setiap pagi aku selalu keliling kompleks?" Tanya Kleine dengan heran.

__ADS_1


__ADS_2