
Dewi yang di usir oleh Lion tidak protes atau marah sedikitpun. Dia melihat sisi wajah Lion yang cemas dan panik. Melihat kerutan di kening Kleine yang juga mulai mereda setelah digenggam oleh Lion. Dewi memasang wajah yang sangat tertarik.
Dia melihat Bles yang wajahnya masih panik. "Kemarilah!" Ujar Dewi pada Bles.
Bles melihat ke arahnya dengan bingung. "Ada apa?" Tanyanya dengan wajah bodoh.
"Kau belum selesai memasak untukku! Sekarang aku sangat lapar..." Ujar Dewi dengan asal dan sudah berjalan ke luar lebih dulu.
"Tapi... Dia..." Bles melihat dua orang yang saat ini sedang terhubung dari hati. Dia menelan kata-kata yang ingin keluar.
Dia melihat wajah Lion yang penuh perhatian dan juga wajah Kleine yang mulai tenang. Suara kecil Kleine yang gelisah juga sudah tidak ada lagi.
Tangan Lion yang lain mengoleskan minyak angin di sekitar kening Kleine agar Kleine tetap hangat. Tangan lainnya terus menghangatkan tangan Kleine.
Bles dengan sadar diri berjalan mundur tanpa meninggalkan suara.
Saat keluar, dia terkejut karena melihat wajah Dewi yang begitu besar.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Bles dengan geram.
"Melakukan hal yang sama sepertimu!" Jawab Dewi dan juga memanjangkan lehernya untuk mengintip sedikit ke dalam.
"Memangnya dia siapa sih?" Tanya Bles risih karena tidak tahu sebuah rahasia yang menurutnya sangat penting.
"Dia adalah kantong uang yang besar!" Jawab Dewi sembarangan dan menjauh setelah bosan mengintip.
Bles sangat kesal dan berjalan ke dapur dengan kaki yang sengaja di hentakkan kuat ke lantai.
Dewi melihatnya dengan senyum mencemooh, karena dia berpikir sifat kekanak-kanakan Bles tidak pernah hilang.
Lion sangat menyadari kepergian dua orang tadi, dia merasa lebih leluasa karena duanya telah pergi. Dia melihat wajah Kleine yang mulai berkeringat. Dia melepas satu selimut agar Kleine tidak terlalu panas.
Setelah itu dia tetap duduk di samping Kleine dengan kedua tangannya menganggap erat tangan kiri gadis itu.
__ADS_1
Aigiee dengan terpaksa harus pulang ke rumah itu saat malam hari. Dia melihat wajah anak-anak itu yang tampak mulai merindukan dia.
Seharian ini mereka telah di awasi oleh singa yang ganas. Meskipun mereka tidak di gigit ataupun di makan. Tapi, saat kamu di awasi oleh pengintai... Apakah masih bisa duduk dengan tenang?
"Ada apa? Belum tidur?" Tanya Aigiee yang melihat anak-anak itu menatapnya dengan wajah polos.
"Kau pulang?" Tanya anak ketiga dengan gugup.
Aigiee menatap ketiganya dengan malas. "Aku mengambil sesuatu yang tertinggal!" Ujarnya dengan lantang dan melangkah maju membela barisan yang di buat ketiganya.
"Nyonya!" Ujar kepala pelayan dengan pucat.
"Ada apa?" Tanyanya dengan malas pada kepala pelayan yang tampak bermasalah.
"Singa itu belum memakan apapun yang kami beri hari ini. Dia juga meraung dengan marah setelah di arahkan ke tempat tidur yang telah kamu siapkan sesuai permintaan nyonya!" Ujarnya dengan ragu.
Aigiee menaikkan alisnya, "oh ya?" Dia menatap para pelayan lainnya yang berbaris dengan gugup. "Lalu apa hubungan ini dengan ku?" Tanyanya dengan malas dan berjalan ke lantai atas untuk mengambil sesuatu.
"Tunggu!" Anak pertama yang memiliki harga diri itu berteriak dan berlari ke kaki Aigiee dan memeluknya dengan erat. "Tolong jangan pergi!" Ujarnya dengan tangis terisak. "Atau bawa saja dia!" Ujarnya menunjuk pada Cuttie yang mengamati dengan mata tajam dari lantai dua.
"Lepaskan!" Ujarnya dengan dingin.
"Tidak!" Dia menggelengkan kepalanya keras kepala dan pelukan itu semakin erat. Bahkan anak kedua dan ketiga yang kaget melihat kakak mereka memohon telah berlari kesana juga dan memeluk kaki yang lainnnya.
"Kami akan menurut! Kami janji..."ujar ketiganya serempak.
Aigiee melihat tiga kepala ini dengan wajah datar. Meskipun wajahnya tampak tenang dan biasa saja. Aigiee merasa jantungnya telah berdetak sangat cepat. Dia menyentuh dadanya dengan bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Mengapa dia merasa anak-anak ini begitu istimewa?
Aigiee melihat wajah mereka yang mentah ke atas dan melihat dirinya dengan berlian besar di matanya.
Cuttie berjalan menuruni tangga dengan wajah datarnya. Dia melihat Aigiee yang saat ini sedang di kepung oleh ketiganya.
__ADS_1
Ketiganya melihat singa yang berjalan mendekat, lalu berlari ke belakang Aigiee. Mereka merasa bahwa tatapan Aigiee sepertinya sangat ingin memakan mereka.
Aigiee melihat Cuttie yang berjalan mendekatinya, dia yang tadi hanya memasang wajah datar kini telah tersenyum manis. "Oh manis kecilku yang lucu!" Ujarnya dengan gemas dan mencubit kedua pipi Cuttie.
Cuttie juga tidak menjadi tajam lagi, matanya kini telah penuh dengan kasih sayang dan rasa cinta.
"Apa kau merindukan aku?" Tanya Aigiee lagi dan singa besar itu meraung ringan.
Ketiga anak itu berdiri agak jauh dari keduanya. Para pelayan mengamati dengan kaki yang nyaris tidak bisa bertahan lagi. Lalu Aigiee menoleh ke kepala pelayan.
"Lihat ini!" Ujarnya dan menunjukkan tangannya yang sedang mencubit pipi Cuttie.
"Dia sangat suka pipinya di cubit, setiap tiga jam sekali kau harus mencubitnya seperti ini sebanyak dua kali. Ini bisa membantu menenangkan suasana hatinya yang kacau!" Jelas Aigiee, lalu dia menatap kepala pelayan itu lagi. "Apa kau mengerti?" Tanyanya dengan malas.
Kepala pelayan itu tidak tahu harus menjawab apa. Mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengangguk. Siapa yang begitu berani mencubit pipi singa? Bahkan jika orang asing menyentuh kucing saja sudah di cakar, lalu dengan raja hutan ini?
"Kenapa diam saja? Apa kalian tidak mengerti?" Tanya Aigiee dengan nada rendah yang membuat ruangan itu menjadi dingin dan suram.
"Kami mengerti!" Ujar semuanya dengan kompak dan cepat.
Aigiee mengangguk puas dan menatap ketiga anak itu, "jika kalian benar-benar bisa mematuhi perintahku dan tidak nakal lagi, lalu belajar dengan baik. Maka aku bisa membawa singa ini pergi sebelum waktunya!" Ujar Aigiee dengan santai.
Telinga ketiganya langsung terangkat setelah mendengar itu. "Benarkah?" Tanya anak kedua penuh semangat, dia adalah yang paling takut dengan singa itu.
Aigiee hanya mengangguk, "jika kalian mau menuruti semua perintahku, ini adalah hal yang kecil." Dia memiringkan kepalanya dan menatap ketiganya dengan senyum aneh. "Tapi aku sedikit tidak percaya kalian akan menjadi begitu patuh hanya dalam waktu satu hari?" Ujarnya sinis.
Anak-anak yang benar-benar nakal tidak akan berubah dan merendahkan dirinya hanya karena di takuti oleh hal kecil. Dan Aigiee mulai curiga dengan wajah anak-anak yang tampak polos dan tidak tahu apa-apa ini.
Aigiee melihat ke atas, benar saja. Pria gila itu sudah berdiri di depan pintu.
"Sudah aku duga! Kau adalah perancang yang sangat baik..." Ujar Aigiee dengan senyum kesal.
Pria itu berjalan beberapa langkah lebih dekat ke arah Aigiee. Ketiga anak-anak itu tersenyum manis, Aigiee masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sampai semua pandangannya tiba-tiba terarah ke Cuttie yang mengeong kecil dan mulai pingsan.
__ADS_1
###