
Paman itu tidak senang karena telah di ganggu. Dia menatap tangan kurus itu dan menelusuri nya. Yang mengejutkannya itu adalah tangan gadis kecil yang sangat kurus. Tapi kekuatan yang digunakan sangat luar biasa sampai-sampai tangannya tidak bisa bergerak lagi.
Kleine merasa adegan ini agak familiar. Ya, ini sama persis dengan adegan dia yang menyelamatkan Jefri dari pemukulan masa.
"Hei gadis kecil, jangan ikut campur. Ini adalah masalah antara saya dengan pencuri ini!" Ujar paman itu dengan sabar.
Kleine merasa adegan ini benar benar sama persis. Pencuri? Oh, dia juga menyelamatkan satu waktu itu!
Kleine memutuskan untuk tidak ikut campur. Dia sangat tertarik untuk menjadi penonton sekarang.
Piscel mengabaikan paman itu, dia menatap lembut pada pemuda itu. "Apa kau tertarik untuk bercerita?" Tanya Piscel santai, tapi ada misteri dibaliknya.
Jika pemuda itu menceritakan yang sebenarnya, maka dia akan membantu. Jika tidak? Tentu saja ayo pergi menjauh dari tempat ini!
Rich meras ma hangat dengan tatapan wanita itu. Sejak tadi dia telah dituduh mencuri tanpa ada kesempatan untuk menolak tuduhan. Bahkan orang yang datang memintanya untuk mengambilkan barang yang tidak dia curi sama sekali.
Dia sudah mencoba untuk mengelak, tapi tidak ada yang mau mendengarkannya. Apalagi untuk mempercayainya.
Saat dia diberikan kesempatan untuk berbicara, tentu saja dia tidak akan membuangnya begitu saja.
Dia mulai bercerita dengan jujur. Awalnya Rich akan mengantarkan pesanan seperti biasa. Tapi, tiba-tiba paman pemilik toko beras itu kehilangan uang yang dia letakkan di laci meja.
Lalu, seorang kuli panggul seperti dia datang dan menuduhnya yang mengambil uang itu. Rich mengatakan bahwa bukan dia. Tapi, orang itu bersikeras bahwa Rich lah yang mengambilnya. Mereka bahkan dengan paksa merebut tas Rich dan menggeledahnya.
Dan mereka memang menemukan uang lebih dari satu juta di dalam tas Rich. Tapi, Rich, dengan tegas mengatakan bahwa itu adalah uang yang baru saja dia dapatkan dari gajinya di perusahaan tempat dia bekerja. Tapi tidak ada yang percaya apa yang dikatakan oleh Rich.
"Apa nama perusahaan tempatmu bekerja?" Tanya Piscel dengan sabar.
"Itu..." Rich ragu untuk menyebutkannya.
"Heh, kau hanya mengarang cerita! Mana mungkin kau akan bekerja disini jika kau sudah bekerja di perusahaan?" Ujar penuduh memaki Rich.
"Aku tidak berbohong! Aku benar-benar bekerja di perusahaan besar!" Ujar Rich tidak terima dengan makian dari orang itu.
"Oh, kalu begitu sebutkan! Mengapa kau harus ragu? Lagipula apa ada perusahaan yang akan memperkerjakan seorang anak SMA?" Balas penuduh itu dengan sombong.
Piscel melihat Rich dan menilai, apa yang dikatakan oleh penuduh itu memang ada benarnya.
"Apa yang dia katakan benar juga, apa kau berbohong?" Tanya Piscel mulai sedikit ragu dengan semua ucapan Rich.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong! Aku adalah artis kecil di K.E entertainment!" Jawab Rich lugas dan menyesal setelah menyebutkan itu.
Semua orang meragukan apa yang Rich sebutkan. Hanya Piscel yang melirik ke arah Kleine dengan penuh arti. Kleine hanya mengangkat bahunya dengan acuh. Lagipula dia hanya bos dibalik layar yang sangat jarang bertemu dengan karyawan. Apalagi dengan artis yang dia pekerjakan
Piscel menatap ke arah Rich sekali lagi, "Apa kau yakin tidak berbohong?" Tanyanya memastikan.
Menatap semua orang meragukannya begitu dalam, Rich hanya bisa mengangguk dengan pasti.
"Heh... Berhentilah berbohong! Mana mungkin perusahaan sebesar itu akan memperkerjakan orang sepertimu!" Ujar penuduh, "Kau tahu semakin banyak kau berbohong semakin sakit jatuhnya nanti!" Lanjutnya dengan sarkasme.
"Aku tidak berbohong!" Bantah Rich dengan teguh.
"Hei nak, bukti sudah di depan mata! Akui saja," ujar seorang warga.
"Ya, jika kau mengaku setidaknya hukumanmu akan lebih ringan!"
Pemilik toko sebenarnya ragu jika Rich yang melakukan itu. Tapi, Memang benar bahwa bukti memang sudah ada di depan mata.
"Nak, katakan yang sejujurnya pada paman. Apa kau pencurinya?" Tanya paman itu sekali lagi.
Melihat semua orang tidak mempercayainya dan meragukan dia. Rich bahkan ragu dengan dirinya sendiri. Jika bukan karena pagi ini dia mendapat gaji dari dari manajer sebagai penghasilan dia karena telah menjadi pemeran figuran dibeberapa film sebelumnya. Mungkin dia sudah mengaku bahwa dia telah mencurinya.
Melihat tatapan putus asa dari Rich, Kleine tidak tahan. Hati nuraninya ternyata belum sekeras batu.
"Hallo, jalan xx!" Ujar Kleine setelah telepon tersambung.
Delora yang baru mengangkat telepon dan belum sempat mengatakan apa pun:"..."
Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dan wanita sialan itu langsung memintanya pergi begitu saja. Tapi, Delora hanya bisa dengan enggan menyingkirkan berbagai file itu.
"Nona, anda akan pergi kemana?" Tanya sekertaris itu padanya yang baru keluar dari ruangan.
"Seorang teman biadab meneleponku untuk menjemputnya!" Ujar Delora dengan wajah kesal.
"Eih? Bagaimana jika saya saja yang menjemputnya nona?" Tanya sekertaris itu karena dia merasa Delora tidak senang menjemput temannya.
"Tidak perlu," tolak Delora dengan santai dan terus berjalan kedepan. "Oh, jangan lupa untuk mengatur ulang jadwal hari ini!" Lanjutnya sebelum hilang didalam lift.
Mobil putih Delora dengan cepat.
__ADS_1
"Akhirnya kau menyesal juga telah berbohong kan? Tunggu apa lagi, ayo tangkap dia dan bawa dia ke kantor polisi!" Ujar penuduh itu penuh semangat.
"Apanya yang perlu begitu terburu-buru?" Tanya Kleine tenang, kakinya yang jenjang melangkah ke depan.
"Paman, ada berapa banyak uang yang hilang?" Tanya Kleine santai yang langsung mengejutkan pemilik toko itu.
Ya, tentu saja mengapa dia mengabaikan hal ini!
Dia mengecek lagi laci mejanya dan menatap Rich agak bersalah.
Lalu menatap uang di map kuning yang berisi satu juta empat ratus lima puluh ribu rupiah di tangannya.
Dia melihat laci yang kosong. Meskipun laci itu tidak berisi terlalu banyak uang. Tapi, benar!
Ada uang recehan sebelumnya. Bahkan ada juga uang 2000, 5000, 10.000 dan uang 20.000. tidak hanya uang 50.000 atau 100.000 saja.
Sedangkan uang yang ada di tas Rich hanya pecahan ratusan ribu dan lima puluh ribu saja. Tidak ada pecahan lain. Dan uang lima puluh ribunya hanya satu, sedangkan dari yang dia ingat ada lebih dari lima lembar!
Pemilik toko itu menatap penuduh!
"Ini berbeda dari uang di laci!" Ujar laman itu pada Kleine.
Kleine mengangguk mengerti. Lalu dia berjalan mendekati penuduh yang hendak melarikan diri. Di setiap langkah dia mengatakan tentang hukum negara.
"Memfitnah seseorang sama saja dengan melanggar pasal 311 ayat 1 KUHP dimana bisa di penjara selama-lamanya empat tahun masa kurungan. Mencemarkan nama baik orang lain telah melanggar pasal 310 ayat 1 KUHP." Ujar Kleine dengan senyum sinis yang berhasil menakuti orang itu.
Saat orang itu hendak berbalik dan melarikan diri. Kleine mengangkat kaki langsungnya. Dan...
Brak!!!
Penuduh itu jatuh dengan mengenaskan.
###
Tersenyum itu ibadah. Tapi jangan salah tempat oke? Misalnya kalau lagi di pemakaman orang, gak boleh banget kalau kamu tersenyum terus. Entar dikira kamu senang lagi.
Dah lah, gak tahu lagi ngomong apa!
Hiraukan sajalah ini😌
__ADS_1