
"Jihan Barra, mau bakso malang gak?" tanya Bunda Lifah setelah mengetuk pintu kamar yang sebenarnya tak di kunci.
Jihan dan Barra saling pandang sejenak. "Mau Bund" jawab Jihan sedikit berteriak dan diokekan oleh Bunda Lifah.
Setelah itu tak terdengar suara lagi, mungkin Bunda Lifah turun untuk mengambil dua mangkok bakso malang yang dijual oleh penjual nya yang lewat.
"Lanjut?" tawar Barra menatap Jihan dengan penuh *****.
"Tunggu sampe bakso malang nya datang" balas Jihan dengan puppy eyes dan hendak turun dari pangkuan Barra.
Barra menghela napas pasrah. Padahal mereka sudah makan tapi entah kenapa perut mereka masih menginginkan sesuatu lagi.
Selama menunggu Bunda Lifah mengantar bakso malang ke kamar, Barra sibuk dengan ponsel Jihan menjelajahi sosial media milik Jihan.
"Dih, gak follow lakik nya" cicit Barra menunjukkan akun sosial media nya yang belum pernah dia posting sama sekali.
"Mana aku tau, coba kamu yang nyari kan bisa dm aku minta follback" balas Jihan tanpa rasa bersalah. Barra yang gemas pun mencubit kedua pipi Jihan pelan tapi Jihan mengaduh dengan manja.
"Gemes nya, bini siapa sih ini?" seru Barra gemas.
"Sakit" cicit Jihan memukul pelan lengan Barra agar Barra melepaskan cubitan nya.
Barra pun melepaskan cubitan itu, dan mengelus pipi Jihan yang baru dia cubit, agak merah tapi itu membuat wajah Jihan makin cantik, kayak authorš¤¢.
"Lagian kamu nya sih, bikin gemes mulu, mana baju nya subhanallah astaghfirullahalaazim" ucap Barra dengan santai, dan mendapat hadiah geplakan kecil dari Jihan tapi berulang ulang.
__ADS_1
"Panas tau gak?" ketus Jihan setelah menggeplak Barra.
Barra meringis. "Gak, kan pake AC masa masih panas sih?" balas Barra membuat Jihan beringsut makin kesal.
"Entar kalo Bunda ngetuk pintu, bukain" ucap Jihan mengalihkan pembicaraan yang malah membuat nya kesal sendiri.
"Kenapa gak kamu aja yang bukain?" tanya Barra dengan malas malasan. Jihan menghela napas dan memutar bola mata jengah.
"Kalo Bunda liat pakaian aku yang kayak wanita malam ini, bisa bisa ceramah satu minggu gak kelar kelar, by" jawab Jihan tanpa sadar memanggil Barra dengan sebutan hubby atau by.
"Kan gak papa, yang liat juga cuma Bunda sama aku juga, aku kan lakik kamu, jadi ya sans aja lah" balas Barra tanpa beban. Huh dasar batubara.
"Kamu gak nurut ya ma aku? oh awas kamu ya! gak ada lonceng loncengan lagi!" ancam Jihan dengan menatap tajam Barra yang masih malas malasan.
"Kok ancaman nya ke lonceng yank? gak ada yang lain kah? kayak gak di kasih uang jajan, sita motor, atau kunci pintu apart di ambil gitu yank" tanya Barra menampilkan wajah sedih.
"Basi ancaman kek gitu, itu ancaman buat anak kecil" balas Jihan dengan ketus dan menatap wajah Barra yang berubah menjadi imut.
"Aaaaa!! ih kamu mah," rengek Barra dengan lucu.
"Jadi jadi kayak anak kecil deh by, kan cuma ambil bakso malang depan pintu kamar bukan langsung ke malang, cuma beberapa meter doang dari ranjang" ucap Jihan membuat Barra tambah merengek dengan puppy eyes.
Kok lakik gue jadi gini? aaaaaa gemoy. Batin Jihan dengan gemas bahkan tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya saking gemas nya dengan Barra.
Barra pun terkekeh. "Iya iya, aku yang ambil kamu nyelep dulu dalam selimut, entar Bunda bisa liat" ucap Barra membuat Jihan tergelak.
__ADS_1
"Nyelep? dikira renang nyelep?" beo Jihan tak paham bahasa baru milik Barra.
"Itu nyelam, bukan nyelep! nyelep itu kek gini" balas Barra langsung menutupi tubuh Jihan dengan selimut dan hanya menampilkan kepala saja.
"Sama aja kok, nyelep sama nyelam" balas Jihan cengengesan.
Barra mengangguk sebagai jawaban, tak ingin memperpanjang masalah dan menjadi perdebatan baru yang akan membuat jari author keriting ting ting.
Beberapa menit setelah itu, akhirnya Bunda Lifah mengetuk pintu kamar Barra, segera Barra turun dari ranjang dan berlari kecil layak nya anak kecil yang membuat Jihan terbahak bahak.
Cklek
Kreit
Suara tawa Jihan masih terdengar membuat Bunda Lifah tersenyum sambil menyerahkan nampan dengan dua mangkok dan dua gelas air putih.
"Makasih Bund" ucap Barra tulus dan diangguki oleh Bunda Lifah sebelum menutup pintu dan mengunci dari dalam setelah Bunda Lifah juga pergi dari kamar suami istri yang dalam masa penuh warna.
"Nih makan, jangan ketawa mulu ih gak baik" ucap Barra hendak menyentil mulut Jihan tapi langsung ditepis oleh Jihan.
"Makanan kesukaan aku ini mah, sttt jangan ganggu" ucap Jihan mengambil salah satu mangkok di dalam nampan yang berada di tangan Barra dan menaruh nya di pangkuan.
"Makan nya jangan ranjang, nanti kuah nya kena ranjang jadi kotor, makan di sofa hayuk" ajak Barra langsung dituruti oleh Jihan tanpa banyak omong.
Keduanya makan bersama diselangi obrolan dan canda tawa kecil. Tanpa ada pengganggu lewat offline maupun online.
__ADS_1