
"Jadi ini toh SMA Merdeka, bagus juga" kagum Adiba setelah dari mobil milik Bu Rindi yang stop di depan gerbang sekolah SMA Merdeka.
"Kalian ga pernah kesini kah sebelum nya?" tanya Bu Rindi mendekati Jihan dan Adiba yang masih berdiri menatap bangunan sekolah yang tinggi dan terlihat mewah walau sederhana.
Kedua nya yang ditanya hanya menggeleng jujur tanpa menatap Bu Rindi.
"Hampir sama kayak SMA Dharma Bakti kan?" tanya Bu Rindi lagi dan dijawab anggukan sekali oleh Jihan.
"Yaiyalah Bu, hampir sama kan pemilik nya juga sama orang nya, hadeuh ibu ni gimana sih, masa pemilik sekolah aja ga tau" jelas Adiba sewot.
Jihan dan Bu Rindi memutar bola mata jengah dengan jawaban yang diberikan oleh Adiba, di tengah perbincangan mereka seorang satpam datang dengan tergopoh-gopoh.
"Selamat siang Bu Rindi, ada yang bisa saya bantu?" sahut satpam itu mengenali Bu Rindi, Bu Rindi memang sering ke SMA Merdeka untuk rapat.
"Ini pak, tadi malam Pak Yanto menghubungi saya, dia minta tolong sama saya buat bawa dua murid dari SMA Dharma Bakti di kelas yang saya ajar untuk menjadi juri di kegiatan mereka dalam kelas, nah saya membawa mereka berdua.." jelas Bu Rindi panjang lebar dan diangguki paham oleh satpam itu.
"Tapi saya engga bisa antar mereka berdua ke kelas 12 ipa 1, karena ada urusan di kantor walikota sebentar" lanjut Bu Rindi membuat Jihan dan Adiba saling pandang.
"Setdah, Bu Rindi ngapain ke kantor walikota?" bisik Adiba kepada Jihan dengan pelan agar tidak di dengar oleh Bu Rindi dan satpam di hadapan mereka. Jihan bukannya menjawab malah mengisyaratkan Adiba agar diam dengan telunjuk di tempel ke bibir nya sendiri.
__ADS_1
"Oh ya sudah Bu, biar saya saja yang mengantar mereka ke kelas 12 ipa 1," ucap satpam dengan sopan.
"Iya pak, terimakasih banyak ya pak, maaf karena sudah merepotkan bapak" balas Bu Rindi berterimakasih kepada satpam.
"Iya Bu, tak apa" sahut satpam mengangguk.
Bu Rindi pun masuk ke dalam mobil pribadi nya dan melajukan mobil menjauh dari kawasan SMA Merdeka..
"Mari nona nona, saya antar ke kelas 12 ipa 1" ajak satpam dengan sopan kepada dua murid nakal dari SMA Dharma Bakti.
Adiba mengangguk datar sedangkan Jihan tak memberi respon, mata nya terfokus pada sebuah warung sebelah kanan yang tempat parkir nya di penuhi oleh motor motor sport.
Mata Jihan tak sengaja menangkap botol minuman kaca berwarna hitam berserakan dimana-mana dekat tempat sampah samping warkop Mpok Mina.
What?! alkohol kah itu? Barra ga minum kan?. Batin Jihan berniat mendekati tempat dimana botol kaca itu berserakan.
"Ji! mau kemana lo? kelas 12 ipa 1 di dalam bukan di warkop" panggil Adiba bersedikap dada di tengah pagar gerbang yang baru dibuka setengah oleh satpam.
Langkah Jihan terhenti lalu menghela napas mencoba menepis pikiran kotor nya agar bisa lebih fokus dengan tujuan awal nya ke SMA Merdeka.
__ADS_1
Mungkin cowok brengs*k yang kemarin. Batin Jihan menerka dengan menyalahkan cowok yang malam tadi membuat lengan nya bengkak.
"Iya iya, gue galfok" seru Jihan membalikkan badannya medekati Adiba yang sudah melanjutkan jalan nya masuk ke dalam kawasan SMA Merdeka dengan memperhatikan tiap sudut.
Pikiran Jihan selama perjalanan hanya terfokus pada banyak nya botol yang berserakan di samping warkop Mpok Mina yang dijadikan Bscamp oleh gangster Barra.
Brukk
Hingga Jihan tak sadar menabrak sebuah bahu kekar berotot entah milik siapa, yang membuat nya langsung tersadar dari lamunan dan menatap bahu kekar.
"Maaf" cicit Jihan tanpa menatap si pemilik bahu kekar itu.
Tak ada balasan dari ucapan Jihan membuat Jihan akhir nya menatap pemilik bahu kekar dengan sedikit mendongak karena tinggi Jihan hanya se bahu cowok itu.
Deg
Cowok itu tersenyum tipis dengan tatapan lembut yang terpancar pada wajah Jihan yang tiba tiba tegang.
"Barra?" syok Jihan dengan tegang.
__ADS_1