Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 62


__ADS_3

Lama sudah keempat nya duduk manis di warkop Mpok Mina yang mulai berdatangan para bapak bapak yang bisa ditebak hendak ngopi.


"Eh Az! kabur cok! si Wanto (satpam) datang" seru Barra menarik tali tas Azkan hingga membuat si pemilik tas terjungkal hendak jatuh.


"Mana? gak liat gue anjir!" balas Azkan bangun dari kursi nya dan celangak celunguk ke arah pos satpam di SMA Merdeka yang sepi.


"Lagi otw dia gubluc!" umpat Barra berlari ke motor sport nya, berniat kabur, bila sampai tertangkap oleh Pak Wanto bisa bisa gagal rencana bolos nya.


Azkan yang masih mencoba mencari keberadaan Pak Wanto hanya mengikuti Barra dengan menaiki motor sport milik Barra.


"Ngapain lo begok?!" tanya Barra ngegas dengan panik.


"Kan lo bilang kabur" jawab Azkan dengan polos nya, lalu menoleh ke kiri lagi di detik berikutnya mata Azkan membola kaget saat melihat Pak Wanto dengan santai nya berjalan ke warkop Mpok Mina dengan handphone ditangan.


"Ehh.. buruan Bar! cabut keburu gagal nih rencana bolos nya aih!" ucap Azkan dengan menepuk kedua pundak Barra.


"Turun!" titah Barra dengan tampang kesal.


"Lah kok gue disuruh turun njir?! gue gak mau dihukum anjir! mending langsung bolos, udah lahh ayok! keburu Wanto lapor ke Pak Budi pekerti dan kuat iman itu" ngoceh Azkan dengan polos dan panjang lebar.


Sedangkan, Jihan dan Adiba hanya menjadi penonton dari tempat duduk nya, mereka berdua tanpa menyadari ada yang duduk di samping kedua nya, siapa lagi kalau bukan para bapak bapak yang ngopi itu.


"Itu.. Azkan atau Kanza anak ips 2?" tanya Adiba menatap Azkan yang masih mengoceh tanpa henti kepada Barra, sedangkan Jihan hanya bergidik bahu tak tau tanpa diketahui oleh Adiba.


Kanza adalah siswa SMA Dharma Bakti kelas 12 ips 2 yang paling cerewet di antara murid jurusan ips lain di SMA DB, bahkan Adiba saja kalah ngoceh nya haha.


"Ekhem.. eneng berdua murid SMA Merdeka kah?" tanya seorang bapak yang berada di samping Jihan mengalihkan pandangan dua bidadari berhijab itu.


Jihan hampir saja berteriak tapi dia langsung menutup mulut nya dengan tangan kanan nya dan spontan berdiri dari duduk nyaman nya.

__ADS_1


Adiba pun ikut berdiri setelah mengetahui di samping nya ada seorang bapak yang menatap nya layak nya mangsa yang siap di terkam hii.


"Bangkee" umpat Adiba berjalan masuk ke warung kopi Mpok Mina berniat bayar apa yang sudah dia beli.


Sedangkan Jihan hanya mengikuti Adiba, walau dia membayar pasti akan ditolak oleh Mpok Mina, kata Mpok Mina. "Non Jihan kan istri Den Barra, gak papa aja kok. Den Barra sering nolong Mpok, jadi sebagai balas budi nya Mpok gak nerima duit dari Non Jihan sama Den Barra, kalian bisa ambil sepuas nya jajanan disini, tapi jangan sampe abis juga atuh, entar pelanggan Mpok pada gak kebagian hehe" itulah ucapan panjang lebar dari Mpok Mina tiap Jihan ingin membayar, walau Jihan baru datang ke warkop Mpok Mina untuk yang kedua kali nya.


"Jangan ceramah Mpok, Diba gak nerima penolakan" ucap Adiba setelah mengetahui gerak bibir dan tangan Mpok Mina yang hendak menolak duit yang dia taruh di meja kasir warung Mpok Mina.


Adiba segera menarik tangan Jihan yang masih kaget, tapi suara Mpok Mina membuat Adiba berhenti.


"Eh Non Diba, ini kembalian nya" teriak Mpok Mina berdiri sambil mengangkat tiga lembar uang berwarna ungu ke atas.


"Kembalian nya buat Mpok Mina, Diba ikhlas" sahut Adiba berbalik ke belakang dengan tersenyum manis kepada Mpok Mina dan kembali menarik tangan Jihan.


Barra sudah siap dengan motor sport nya menunggu Jihan, mengurus Azkan sedikit sulit saat Azkan sedang dalam mode bingung, tapi saat dalam mode peka dia yang paling hebat.


"Gue sih pake kan tadi pagi gue diantar sama lo (menoyor kepala belakang Barra pelan yang tertutup helm fullface) tapi gak tau Adiba, bebtar gue tanya tu bocah dulu" jawab Jihan dengan kesal.


"Dib, lo pake celana?" tanya Jihan kepada Adiba yang masih kesal karena kelakuan bapak bapak yang menggoda nya.


"Pake!" jawab Adiba ngegas.


"Marah ke gue, freak emang!" cibir Jihan mengangkat sedikit rok nya agar saat naik ke motor sport Barra tak robek.


"Abis kesel gue sama tu bapak bapak, gak ada kerjaan apa sampe sampe godain gue, pasti tu bapak bapak kurang dapat kasih say-"


"Sttt! berisik Diba! naik" Azkan memotong ucapan panjang kali lebar kali tinggi dari Adiba yang masih tak bergerak dari tempat berdiri nya.


"Gue dibonceng gitu?" tanya Adiba menunjuk diri nya dengan telunjuk kanan nya dan menunjuk motor sport berwarna hijau daun yang dinaiki oleh Azkan. Azkan menjawab dengan deheman dan memasang helm fullface pada kepala nya.

__ADS_1


"Helm gue?"


Pertanyaan itu membuat Azkan menghela napas singkat, ternyata menghadapi gadis cerewet lebih sulit dibanding menghadapi sepuluh preman.


"Gue gak punya" jawab Azkan dengan malas.


"Lah terus gimana gue kalo gak pake helm, entar kalo ada razia gimana? ato entar dijalan ada bahaya terus kepala gue gak ada pelindung nya, alamak mati ditempat gue" heboh Adiba membayangkan yang negatif.


Azkan seperti tuli, dia sudah mulai kesal, kalau bukan karena Adiba gadis yang di suka walau dalam diam, sudah bisa dipastikan Azkan lebih memiliki meninggalkan gadis itu.


Ting


Ponsel Azkan berbunyi, segera Azkan merogoh ponsel dari kantong jaket kulit berwarna merah milik nya, lalu melihat look screen yang tertera sebuah pesan dari Barra.


📩 Barrarazithan.


mall dekat kantor gue.


Pesan singkat yang dikirimkan oleh Barra lewat WhatsApp Messenger yang banyak digunakan oleh umat manusia di dunia, dan sangat terkenal.


"Dib, naik!" gertak Azkan mulai panik melihat Pak Wanto yang memicingkan mata nya terhadap nya, rupanya Pak Wanto mencoba mengenali motor dan pengendara nya.


Adiba pun dengan bibir manyun menaiki motor sport milik Azkan seperti Jihan mengangkat sedikit rok nya agar tidak robek, lalu segera Azkan melajukan dengan kecepatan tinggi karena Pak Wanto mulai melangkah mendekat.


Dan karena Azkan melajukan motor nya dengan tinggi membuat Adiba spontan memeluk pinggang Azkan dan melingkarkan tangan nya di perut kotak yang tertutup seragam dan jaket dengan erat.


Pak Wanto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia ingin memanggil pengendara yang baru saja pergi, tapi pengendara itu seperti sengaja.


Saya monster?. Batin Pak Wanto merasa kalau pengendara itu takut dengan nya karena memiliki wajah sangar, bukan sangar tapi karena alis yang tebal dan hitam pekat dengan warna kulit hitam manis membuat Pak Wanto digelari satpam monster di SMA Merdeka.

__ADS_1


__ADS_2