Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 47


__ADS_3

Drrt drrt


Ringtone salah satu pasutri berdering dan menampil kan nama penelpon yang mengganggu sepasang suami istri yang sedang mencari kehangatan dalam selimut.


"Siapa Bar?" tanya Jihan menopang tubuh dengan lengan dan siku, memperhati kan raut Barra yang nampak serius setelah mengetahui siapa pengganggu nya malam malam begini.


"Azkan" jawab Barra singkat kembali masuk ke dalam selimut dan memeluk Jihan dari samping dengan satu tangan dengan lihai bermain di layar ponsel Vivo keluaran terbaru.


*"Hallo, napa? ganggu tau ga sih lo!"


[...]


"Harus gue gitu?"


[...]


"Gue males turun dari ranjang njirt, lagi kelonan sama Jihan ini lo ganggu.. awss!"


[...]


"Kalo gue bawa Jihan, ga papa kali ya?"


[...]


"Oke oke.. tiga puluh menit nyampe"


Tut*


Jihan terus memperhati kan wajah Barra yang serius tapi sambil menggerutu, dan sempat sempat nya saat Barra sedang bicara dengan Azkan lewat via telpon, Jihan mencubit perut kotak nya sedikit keras.

__ADS_1


"Siap siap! Lo gue bawa ke bscamp" bukan ajakan tapi terdengar seperti perintah yang tak bisa di bantah, saat Jihan hendak bertanya Barra lebih mencela yang membuat nya terdiam.


"Jangan nanya dulu! skip dulu pertanyaan nya! simpen dulu dalam otak, sekarang lo siap siap, gue tunggu sepuluh menit lagi di bawah" cela Barra tegas membuat Jihan mendengus pasrah dan menuruti kemauan Barra.


___


"Ini bscamp lo?" tanya Jihan setelah turun dari motor sport milik Barra dan melepas helm lalu memberi kan nya ke Barra yang langsung di terima oleh Barra.


"Iya, yok masuk!" jawab Barra turun dari motor dan menggenggam tangan Jihan lalu membawa sang istri ke dalam warung Mpok Mina (Eps 1- Prolog) yang sudah ramai dengan kebisingan para anggota Horse Black.


Suasana yang awal ramai dan penuh kebisingan menjadi bisu dan hening setelah kedatangan Barra yang memang aura nya begitu kejam tapi tersirat lembut saat menggenggam tangan Jihan.


Apalagi yang membuat para anggota gangster melongo adalah, Barra yang membawa seorang gadis berhijab berparas cantik dan dingin juga itu tanpa rasa ragu.


Seumur umur baru pertama kali mereka melihat sang ketua gangster membawa gadis, jangan kan membawa ke bscamp, dekat dengan cewek pun bisa di katakan tak pernah.


Jihan tersenyum sekilas setelah melihat ada Mpok Mina si pemilik warung yang di jadi kan bscamp, dia hanya risih saat tau anggota gangster Barra itu hanya ada cowok.


"Temen Buk" jawab Jihan singkat dan sopan.


"Temen tidur Mpok lebih tepat nya" sahut Adnan membuat anggota lain bertambah terkejut.


Mpok Mina pun alih alih sama seperti anggota lain yang terkejut, tapi beliau segera melirik ke jari tangan Jihan dan Barra dan ternyata terdapat cincin sama.


"Istri nya den Barra" seru Mpok Mina dengan antusias.


Jihan nampak tersenyum malu, dan itu membuat para anggota lain nya bersorak senang, walau masih dalam keadaan bingung tapi mereka ikut bahagia.


"Bentar deh non.. Non ga berbadan dua kan?" tanya Mpok Mina hati hati. Dia tak mau nyawa nya melayang saat itu juga jika bertanya tanpa ragu apalagi di depan Barra yang notabene ketua terkejam dari yang terkejam.

__ADS_1


Jihan sempat melirik Barra yang berada di samping nya tetap bersikap tenang dan dingin sambil menyeruput teh es manis buatan Mpok Mina.


Gelengan dan senyuman yang mewakili jawaban Jihan untuk Mpok Mina, Mpok Mina nampak bernapas lega sambil mengelus dada membuat Jihan mengernyit alis.


"Alhamdulillah kalo gitu mah, takut nya tuh den Barra nikah sama non karena.. itu" ucap Mpok Mina begitu hati jati dan suara nya pun pelan tapi tetap bisa di dengar oleh Barra.


"Enggak kok Mpok, istri Barra masih gadis, masih bersegel" sahut Barra membuat para anggota lain tertawa garing bersama Mpok Mina.


"Azkan! mana tu anak?" panggil Barra tak mendapati pemuda yang mengganggu pelukan hangat nya bersama sang iatri di dalam selimut.


"Toilet" jawab Denis singkat sambil memain kan ponsel, entah apa yang dia tatap hingga sangat fokus.


"Ngapain?" tanya Barra.


"Cari pudding" jawab Denis ngasal tanpa menatap Barra yang tengah kesal di buat nya, tak ada yang berani membuat Barra kesal selain para sahabat dan juga istri tercayang nya.


"Yang bener bege! gue tebas juga tu lidah ngomong asal mulu" sungut Barra membuat para anggota lain menelan ludah susah payah, terkadang ancaman Barra bisa saja terjadi bila ada yang membuat nya kesal.


Denis terlihat nampak santai sambil mengambil seputung rokok berniat untuk menghidup kan nya, tapi segera Jihan henti kan dengan deheman dan pura pura batuk.


"Sorry" ucap Denis tak jadi untuk menyala kan seputung rokok dan kembali memasuk kan rokok itu ke dalam kotak segita empat di meja, dia merasa malu karena ketahuan merokok oleh salah satu sahabat Cia. Jihan menanggapi dengan helaan napas lega.


Tak berselang lama, orang yang yang di tunggu tunggu oleh Barra kini sudah datang dengan seputung rokok yang sudah sisa setengah dan asap nya mengepul ke atas dan juga dari hidung dan mulut nya.


"Sorry tadi gue ke toilet, panggilan alam" ucap Azkan duduk di samping Adnan yang sibuk main game di ponsel nya. Yang lain menanggapi dengan anggukan kecil dan menatap Azkan dengan tatapan sulit di arti kan.


Jihan tak pernah menghirup aroma asap rokok sejak kecil dan sekarang harus menghirup nya, yang langsung membuat nya sedikit susah bernapas.


"Gue ke motor aja deh, pengap" bisik Jihan pada Barra. Barra menatap Jihan dengan heran dan kening mengerut.

__ADS_1


Jihan beranjak dari kursi nya, sebelum itu mengecup pipi sebelah Barra di depan para anggota yang membuat suasana semakin riuh.


__ADS_2