Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 118


__ADS_3

Adzan shubuh berkumandang membuat salah satu manusia yang bergerumul di dalam selimut menggeliat kecil


Jihan membuka kelopak mata nya secara pelan menetralkan sinar lampu yang masih hidup, lalu menggeliat pelan.


"Shh" ringis Jihan lirih merasa ada yang mengganjal di bagian bawah, mengingat kejadian malam tadi membuat wajah Jihan panas dan merona.


"Emhh" geliat Barra merubah posisi menjadi telentang.


Jihan menatap wajah Barra dari samping yang tertidur pulas, tanpa sadar posisi Barra pun berubah miring menghadap nya karna terlalu asik menatap sang suami.


Barra kembali mendekap Jihan membuat Jihan tersadar dari lamunan nya, kini kepala nya berada di dekat dagu Barra.


Sakit sih tapi.. argh tau lah. Batin Jihan tak ingin mengingat adegan tadi malam yang membuat kamar mereka diisi suara aneh.


Uhuk uhuk


Jihan tiba tiba batuk tanpa sebab, bukan tanpa sebab lebih tepat nya merasa haus karena pertempuran nya tadi malam bersama Barra yang menguras keringat.


Barra pun ikut terbangun dan mata masih setengah terbuka. "Kenapa yank?" tanya Barra tapi Jihan tak bisa menjawab karna batuk yang terus ada.


"Air uhuk uhuk" ucap Jihan di sela batuk nya.


Untung nya Barra sudah menggunakan boxer setelah Jihan tidur setelah pertempuran, kalau tidak mungkin saat itu Jihan akan berteriak.


Barra berlari kecil ke arah pintu kamar niat nya mengambil air di dapur, tapi suara Jihan menghentikkan.

__ADS_1


"Uhuk woy! ngapain ke situ uhuk?" tanya Jihan masih dengan batuk nya, sambil menutupi tubuh nya yang masih polos dan bertatih tatih jalannya menuju


"Kan ngambil air" jawab Barra dengan polos dan muka cengo. Jihan pun berdiri dari ranjang dengan selimut yang melekat.


"Kelamaan" cebik Jihan sembari menuangkan air minum yang berada di meja rias nya yang hanya tersisa setengah.


Barra menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, lalu duduk kembali di ranjang memperhatikan Jihan yang sedang minum.


Setelah batuk Jihan mereda. Jihan memperbaiki selimut yang sedikit melorot dibagian lengan lalu melangkah mendekati Barra.


"Maaf ya yank" cetus Barra dengan menunduk.


"Untuk?" tanya Jihan.


"Gue dah bikin lo jalan kayak pinguin" jawab Barra jujur, dia merasa ini salah nya karna terlalu semangat atau terlalu lama.


"Harusnya gue yang minta maaf" lanjut Jihan membuat Barra mendongak menatap Jihan menunggu ucapan Jihan selanjutnya.


"Karna baru sekarang gue beriin harta yang berharga itu, dan sekarang gue dah sepenuhnya milik lo" Jihan mengucapkan kata demi kata dengan kejujuran dan senyum tulus.


Membuat Barra terharu. Segera Barra membawa tubuh Jihan ke dalam pelukan nya yang tak memakai kaos hanya boxer menutupi Vovo yang entah apa kabar.


Lama kedua nya berpelukan, hingga Jihan merasa ada aneh dengan boxer Barra yang nampak sesak. Tapi saat Jihan hendak melepas pelukan itu Barra dengan sekuat tenaga memeluk erat Jihan.


"Engap by" cicit Jihan merasa kurang menghirup udara karna pelukan erat Barra.

__ADS_1


Barra melonggarkan pelukan nya sedikit, catat! hanya sedikit. Sebenarnya itu hormon laki-laki yang memang akan beraksi saat pagi hari, dan itu hal biasa.


Ingin rasanya Barra meminta lagi pada Jihan, tapi dia juga memiliki hati nurani yang kasihan pada keadaan Jihan yang masih terlihat kesakitan.


"Lo kenapa sih by? lepas dulu ih! gue kan pake selimut jadi panas ini" berontak Jihan merasa hawa panas menjalar di tubuh nya.


Barra melepaskan pelukan itu dan langsung merebahkan diri telengkup di ranjang membuat Jihan mengira Barra menangis karna Jihan berontak.


"Eh maaf deh by, gue kan kepanasan makanya gue berontak tadi" ucap Jihan merasa dirinya bersalah.


"Bu-bukan itu" balas Barra dengan kepala menghadap ke samping agar mendapat oksigen.


"Lah trus?" tanya Jihan ikut berbaring dan menyelimuti tubuh Barra dengan selimut yang sama dan membiarkan tubuh nya polos dalam selimut.


"Vovo bangun lagi" jawab Barra seperti gumaman tapi masih bisa di dengar oleh Jihan.


Jihan tak kaget atau akan menjauh dari Barra. Jihan tersenyum kecil melihat tingkah Barra yang seolah mengatakan 'jangan dulu!'.


"Lakukan lah" cetus Jihan membuat Barra mengangkat kepala nya.


"Lakuin apa?" tanya Barra dengan mode berfikir yang lambat.


Jihan bukan nya menjawab, tangan nya malah dengan nakal bermain di dada bidang walau cukup sulit karna posisi Barra telengkup tapi dia coba agar Barra peka.


Barra pun duduk dari rebahan telengkup nya dan menatap Jihan seolah meminta izin sekali lagi.

__ADS_1


Jihan mengangguk dengan senyum menyakinkan Barra untuk melakukan nya lagi karna Vovo butuh perpus untuk menambah ilmu nya, ilmu membuat kecebong 😭.


Barra tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Jihan, dia juga sudah tak tahan dengan Vovo yang berontak minta keluar dari tempat itu.


__ADS_2