Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 28


__ADS_3

"Info yang gue dapat, dia anak SMA Dharma Bakti" cetus Denis serius secara tiba tiba, membuat Barra kaget tak bersuara.


Deg


Maksud Denis tu lawan baru gue murid SMA tetangga, SMA punya Om Tion gitu? Wahh.


"Terus ada lagi ga info tentang tu cowok?" tanya Barra seakan ingin mengorek lebih dalam kuping nya eh? Informasi nya, canda kuping wakwak.


"Gue cuma tau aja sih, dia murid baru kayak Jihan sama Adiba" jawab Denis membuat Barra dan Azkan serempak menatap Denis dengan tatapan tanda tanya. Denis yang paham tatapan itu hanya menghela napas kecil.


"Gue dikasih tau Cia, mereka itu anak SMA sebelah, dan murid baru yang datang bersamaan itu ya si tu cowok, Jihan sama Adiba" jelas Denis, memang benar tadi dia pagi menjelang siang setelah berduet bersama Cia dia langsung membawa Cia keluar dari acara dan duduk di taman sepi sebelum datang nya Adiba, tentu nya.


"Mereka sekelas?" tanya Barra dengan mengerut kening marah.


"Jihan, Adiba, Cia, sama si beku satu tu siapa sih.. Si.. E-lsa? Atau Ersa? Ahh! Pokok nya itu lah.. Mereka sekelas, tapi tu cowok beda kelas, setau gue.." jawab Denis mengingat nama Ersa, dia menyebut Ersa sebagai si beku karena memang tak terlalu banyak bicara dan sangat dingin.

__ADS_1


"Nama nya Ersa" cetus Adnan membuat Denis menatap nya tak percaya.


"Tau darimana lo? Gue aja ngajak dia ngomong cuma di sahut angguk doang ato ga hem ham hem gitu doang anjirt" tanya Denis seakan meremehkan Adnan, bagaimana tidak? Adnan sangat jarang ingat dengan nama gadis di sekolah mereka dan kali ini dia bisa mengingat jelas bahkan wajah Ersa pun masih terbayang di otak nya.


"Waktu lo bawa Cia ke surga duniawi awokawoks" jawab Adnan ngasal diakhiri tawa ngakak sendiri. Karena Barra dan Azkan sudah lebih dulu pergi meninggalkan dua manusia cerewet yang tak kan ada habis nya obrolan absurd mereka.


"Belum saat nya gobloc!" umpat Denis menoyor kepala Adnan sebelum menyusul Barra dan Azkan.


"Ih! Kok tinggalin gue sih? Ampun dah" keluh Adnan berkacak pinggang lebay, tapi tetap melangkah mensejajar kan langkah nya dengan Denis.


Barra dan Azkan berjalan dengan kesunyian dan pemikiran masing masing.Kedua nya kalut dalam pikiran hingga tak sadar mereka berdua malah terlewat dari tempat berkerumun dan menjadi tontonan.


"Lah si Vovo (Barra) sama Odi (Azkan) mau kemana? Kok malah lewat sih?" tanya Adnan memanggil Barra dan Azkan dengan sebutan Vovo dan Odi, yang akan membuat masa depan mereka tetap berjaya selama ada nama itu.


"Tau! Pada ke tribun bakso paling" jawab Denis bergidik bahu acuh.

__ADS_1


Plak


Tengkuk belakang Denis digeplak oleh Adnan.


"Heh! Bakso mana ada punya tribun yang ada itu kue bolu" omel Adnan ambigu.


"Ada anjirt! Tuh bola bakso ngegelinding di mainin ma anggota lain" tunjuk Denis pada bola basket yang sedang di dribble oleh anggota gangster lain yang jago dalam hal basketball.


Bugh


Adnan meninju lengan Denis merasa kesal, jengah, esmosi, bercampur menjadi sebuah balon berwarna merah dan,, DUBB.. meletus_-.


"Itu basket Yohan (Denis) bukan bakso!" bola mata Adnan merotasi mengitar planet planet dan tata surya. Denis cengengesan tanpa dosa.


"Trus tadi lo bilang tribun itu cuma ada di kue bolu, maksud lo paan dah Geri (Adnan)?" tanya Denis merasa lain dari yang lain. Adnan bergidik polos tak tahu diri!.

__ADS_1


Denis mencebik bibir kesal, dan pergi menyusul Barra dan Azkan yang duduk di kursi panjang menikmati pentol bakso gerobak yang sedang berjualan di pinggir arena balap.


__ADS_2