
Barra kembali mengintip ke kamar yang berada di sebelah kiri dengan pelan, celangak celunguk dengan hanya kepala yang masuk takut salah masuk kamar lagi, pikir Barra.
Merasa yakin bahwa itu kamar sang istri, Barra mulai membuka sedikit lebih lebar pintu kamar itu dan berjalan dengan mengendap endap layak nya maling yang hendak mencuri.
Ceklek
Kriett
Barra tersentak kaget saat mendengar suara pintu terbuka tapi dari arah depan, yang arti nya pintu kamar mandi yang berbunyi, dia yakin bahwa itu sang istri karena di ranjang tak terdapat istri cantik yang baru pagi tadi sah menjadi milik nya.
Jihan yang baru saja buang air kecil keluar dengan santai sambil merapikan rambut pendek sebahu hitam nya yang sedikit berantakan, lalu menatap Barra dengan tampang terheran heran.
"Kenapa?" tanya Jihan menatap Barra yang bengong menatap nya.
Barra yang bengong karena melihat Jihan yang begitu cantik tanpa polesan walau dengan mata ngantuk pun tetap cantik, membuat nya tanpa sadar melamun.
"Barra! Lo kenapa sih?" tanya Jihan melangkah maju mendekati Barra, yang sebenarnya berlewat karena Barra belum menutup pintu kamar.
"Cantik" gumam Barra tanpa sadar memperhatikan Jihan yang menutup pintu kamar.
__ADS_1
Jihan tertawa kecil. "Iya, gue emang cantik, emang napa?" sahut Jihan menaik turun kan alis menggoda Barra dengan berkacak pinggang dan mendekat kearah dimana Barra berdiri sekarang.
Barra yang masih belum sadar langsung di tepuk oleh Jihan di area leher, dan akhir nya Barra tertarik dari lamunan dan menatap Jihan dengan tatapan tak bisa dijelaskan.
"Hah, kenapa Ji? Lo ngomong apa tadi?" spontan Barra salah tingkah ketahuan melamun oleh Jihan.
"Yee.. Malah balik nanya, gue nanya loh.. Lo kenapa bengong tadi?" balas Jihan kembali bertanya.
"Ga papa, gue ga napa napa kok.." jawab Barra. Jihan ber oh ria dan melangkah menuju ranjang untuk melanjutkan acara sleeping beauty nya, wakwak.
Barra pun menyusul Jihan ke ranjang dengan jaket hitam yang masih di tubuh nya tanpa ada niatan melepas jaket itu.
"Mau rebahan lah mau apa lagi coba?" jawab Barra menatap Jihan dengan mengernyit alis bingung.
"Rebahan pake jaket gitu? Gagaga! Ganti dulu tu baju" omel Jihan geleng geleng kepala tak terima Barra masih memakai jaket untuk berbaring di ranjang karena pasti akan membuat ranjang berisik.
"Hah? Jaket?" beo Barra berpikir.
Detik berikutnya, Barra cengengesan dengan menggaruk ubun ubun kepala nya yang tidak gatal, Jihan geleng geleng kepala heran dengan tingkah Barra yang berbeda beda.
__ADS_1
___
Pukul 2.10 malam, Jihan dan Barra berbaring berhadapan dengan mata sama sama belum terpejam.
"Ji" panggil Barra untuk kesekian kali nya, padahal tanpa menjawab pun Jihan sudah menatap mata Barra yang enggan terpejam.
"Hm" dehem Jihan akhir nya terdengar di telinga Barra.
"Kamar depan lo ini, kamar siapa?" tanya Barra to the point.
"Kamar depan? Maksud lo kamar ka Diva? Kenapa emang?" tanya Jihan balik. Barra menggaruk belakang telinga gatal.
"Pokoknya siapa kek itu gue ga peduli.. Yang pasti tu kakak lo kalo tidur emang gitu ya? Kayak cacing kepanasan" balas Barra membuat mata Jihan membola karena kaget dengan balasan Barra yang tau tentang tidur aneh Rediva.
"Darimana lo tau, kalo ka Diva tidur nya kek cacing kepanasan?" tanya Jihan penuh curiga. Barra yang tak paham tampang Jihan yang sebal hanya memandang dari dengan menyamping.
"Lo ngeliat ka Diva tidur ya? Aiss! Ka Diva pasti baju nya ke angkat, terus lo bisa liat perut rata nya itu ya kan? Ya kan?" sewot Jihan dengan cemberut.
"Gue ngeliat nya ga sampe situ kok.. Gue.. Gue tadi.. Salah masuk kamar.. Hehehe" jujur Barra dengan cengir kuda menampilkan gigi putih dan bersih tanpa ada lubang atau kerak sisa makanan.
__ADS_1
Jihan yang awal cemberut kini tertawa terbahak bahak mendengar kejujuran Barra yang lupa akan kamar sang istri yang memang paling pojok sebelah kiri.