
Jihan cengengesan menampilkan deretan gigi putih berseri, lengan nya pun sudah tak terlalu sakit dan memar yang awal nya biru sudah hilang, hanya ada nyeri bekas nya saja.
"Canda bang, sensi amat dah heran" cebik Jihan kembali memijat lengan nya agar sakit nya hilang. Barra mendengus kesal.
Ditengah kegiatan yang Jihan lakukan, tiba tiba Jihan mengingat perkataan Barra di bscmp sebelum pulang ke apartemen, yaitu bakar hidup hidup.
Ingin mengatakan sesuatu tapi ragu, takut Barra semakin nekat melakukan yang akan membuat diri nya sendiri menjadi seorang pembunuh.
"Bar" panggil Jihan dengan pelan.
Barra membalas dengan deheman singkat dan tanpa menatap Jihan di samping nya, dia sedang berbalas pesan dengan sekertaris kantor nya, Nendra.
Jihan meletakkan kotak P3K di pinggir bawah sofa agar dia lebih mudah bersender di pundak lebar Barra, lalu ikut menatap ponsel bermerek Vivo di tangan Barra yang dengan lihat nya jari jempol Barra mengetik.
"Kuingin saat ini engkau ada disini... tertawa bersamaku seperti dulu lagi... walau hanya sebentar tuhan tolong kabulkan lah bukan nya diri ini tak terima kenyataan.. hati ini hanya rindu.. segala cara telah kucoba.. agar aku bisa.. tanpa dirimu hooo.. namun semua.. berbeda... sulit ku menghapus kenangan bersamamu.." Suara emas milik Jihan tiba tiba keluar tanpa sadar karena merasa bosan tapi otak nya seperti sedang berkelana merindukan orang rumah, salah satu nya Bunda Lifah.
__ADS_1
Barra menatap sekilas ke samping, lalu mematikan ponsel nya dan menaruh di samping kiri yang kosong, setelah itu Barra mengangkat kepala Jihan yang bersender lesu.
Tatapan Barra lekat pada wajah cantik yang tak bersemangat itu mencari sesuatu yang dia tangkap, rindu pada rumah, kata itu lah yang terlintas di otak Barra.
"Kangen Bunda ya?" tanya Barra lembut dan turun dari sofa untuk bersimpuh di bawah Jihan yang menunduk menutupi kesedihan yang dia rasa sekarang.
Jihan mengangguk samar tanpa menatap Barra, dia sedang mencoba menahan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata bulat nya.
"Pengen ketemu sama Bunda kah?" tanya Barra sekali lagi dan sontak mendapat anggukan cepat Jihan dengan mata berkaca kaca menatap Barra di hadapan nya.
"Maaf ya, selama sebulan ini gue ga bisa bawa lo balik ke rumah buat berkunjung, bahkan untuk ke rumah nenek kakek pun belum pernah gue bawa lo kesana, maaf" ucap Barra tulus mengusap pipi Jihan yang sudah dibasahi air mata.
"Tapi walau begitu, gue masih bisa kok bagi waktu gue buat ngantar lo ke rumah, kapan lo minta gue usahain bisa, gue ga mau dibilang sebagai suami yang kejam karena ga pernah bolehin istri nya untuk ke rumah yang udah besarin istri gue ini" balas Barra dengan lembut.
Jihan berusaha tersenyum walau kecil agar meyakinkan Barra bahwa dia baik baik saja walau hati nya masih bergetar karena penjelasan Barra yang membuat nya meleleh seperti lagu BTS yang judul nya butter ketjeh sekalih😋.
__ADS_1
"Udah jangan nangis lagi oke, smile dong.. yang paling manis" ucap Barra dengan senyum manis yang mengembang agar Jihan ikut tersenyum, dan benar saja Jihan langsung tersenyum manis semanis permen foxs rasa jeruk manis.
___
Sementara di kediaman Bunda Lifah dan Ayah Elan.
Pasangan yang sudah lama bersama dengan kebahagian tanpa masalah yang membuat kedua nya berpisah itu sedang berada di dalam kamar dengan posisi Ayah Elan memeluk Bunda Lifah dari samping.
"Yah, kok sudah sebulan Jihan dan Barra belum pernah ngunjungin kita ya? apa mereka terlalu sibuk sampai lupa ada Bunda yang selalu mereka?" tanya Bunda Lifah dengan suara bergetar saat mengatakan tiap kata.
Benar kata orang, feeling orang tua pasti sama seperti anak, dan ini lah sekarang Bunda Lifah juga merindukan Jihan yang sudah dia besarkan dan dijaga sepenuh hati nya.
"Bunda yang sabar aja ya, kan Bunda tau menantu kesayangan kita itu seorang CEO muda sekaligus pelajar seperti Jihan, pasti dia selalu disibukkan dengan kertas kertas dan kertas seperti Ayah biasa" Ayah Elan mencoba memberi pengertian agar Bunda Lifah tidak terlalu berpikir jauh dan negative tentang Jihan dan menantu nya.
"Iya juga ya, pasti sulit menjadi CEO di usia yang masih 18 tahun dan harus mencari uang agar Jihan dan anak anak mereka kelak" ucap Bunda Lifah membenarkan ucapan Ayah Elan.
__ADS_1
"Dan juga, Jihan pasti tambah sibuk, dia kan sering kerja kelompok dan pasti waktu luang nya hanya sedikit" timpal Ayah Elan.
Bunda Lifah mangut mangut.