Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 48


__ADS_3

Di dalam warung bscamp keadaan nya begitu riuh setelah adegan romantis yang Jihan beri kan untuk Barra, sedang kan Barra santai dengan tatapan datar ke depan.


Sorakan riuh hanya bertahan beberapa detik, karena aura mencekam kembali hadir yang pasti di hadir kan oleh Barra, walau Barra tak menatap ke depan melain kan ke samping di mana Jihan berdiri di samping motor sport nya.


"Kalo ada bini gue atau sahabat nya yang lain jangan ada yang berani ngerokok!" ucap Barra menyirat kan sebuah ancaman dalam perkataan nya, para anggota Black Horse menelan ludah kasar mendengar nada dingin yang keluar.


Azkan yang merasa tersindir langsung mematikan rokok nya dan enaruh di asbak bulat yang berisi sisa putung rokok kecil yang berarti sudah habis.


"Sorry, gue ga tau" ucap Azkan tulus tapi tetap singkat.


Barra menghela napas pelan dan mengangguk samar. "Jangan bilang sorry ke gue, karena gue udah terbiasa sama asap rokok walau gue ga pernah ngisap tu rokok, harus nya lo bilang sorry ke Jihan" jelas Barra panjang lebar dengan datar tapi tegas.


"Hm.." deheman kecil Azkan berikan.


"Apa yang mau lo omongin?" tanya Barra to the point, dia juga sempat melihat Jihan yang mulai pegal berdiri terus di samping motor.


"Tentang Arya" jawab Azkan singkat.


Barra menghela napas kasar. "Rugi gue malam malam bawa bini gue keluar dari apart dan bawa ke bscamp cuma mau bicarain tentang Arya, kan bisa besok di sekolah? mana bini gue udah kepegelan tuh, coba aja tadi gue bawa mobil" cerocos Barra panjang lebar.


"Sewot bat dah boss, semenjak lo dah punya bini lo jadi jarang ke bscamp, terus juga gue lihat lihat nih ya lo gemuk kan ya sekarang?" semprot Zico, salah satu anggota Horse Black yang memang memiliki sifat barbar.

__ADS_1


"Hm.. dah ada yang masak di apart, gue juga jarang pulang ke rumah utama.. bahkan selama gue nikah ini gue belum pernah bawa bini gue ke rumah utama" sahut Barra dengan santai.


"Anjrr banget lo boss, berarti bini lo belum pernah ketemu sama kakek nenek lo gitu boss?" tanya Zico penasaran.


"Ga, bini gue dah pernah ketemu sama kakek nenek ya walau itu sebulan lalu tepat di hari akad gue" jelas Barra panjang lebar.


Zico dan yang lain mangut mangut tanda paham.


"Kapan gue bisa ngomong?" tanya Azkan mengalih kan perhatian Barra. Barra menjawab dengan deheman singkat dan dingin.


"Jadi gini.."


Mata Jihan menyipit mencoba memeriksa dari jarak jauh, karena tak jelas kaki Jihan melangkah perlahan ke arah pemuda yang seperti nya memang mabuk.


"Hey! mas!" panggil Jihan tersisa beberapa meter dari pemuda yang mabuk itu.


Pemuda itu samar samar mendengar suara seorang gadis, mendongkak ke atas karena dia sedang berjongkok dan hampir terjatuh ke aspal tapi dia tahan.


"Eh ada cewek cantik" seru pemuda itu berdiri tegak dan hampir terjungkal ke belakang jika tidak tidak di tangkap oleh Jihan.


"Mas kenapa?" tanya Jihan sambil memegang lengan pemuda itu agar pemuda itu bisa berdiri tegak dan tak oleng.

__ADS_1


"Gue bukan mas mas ya! gue masih muda" sungut pemuda itu dengan tatapan sayu dan tubuh nya juga masih oleng walau di pegangi oleh Jihan.


Jihan langsung melepas pegangan itu. Bukan makhrom!. Batin Jihan mengingat status nya sekarang kalau dia istri dari seseorang yang sedang berdiskusi dengan anak buah nya.


"Cewek cantik, ikut gue yok! kita ke hotel" ajak pemuda itu dengan menggengam tangan Jihan.


"Eh eh? paan nih? ga ya! lo itu kek nya mabuk deh, lepasin!" tolak Jihan dengan keras menghenta kan tangan nya yang di genggam oleh pemuda mabuk itu.


"Heh! semua cewek itu sama aja! semua cuma mau harta dan tahta!" bentak pemuda itu kembali mencengkram kuat kengan Jihan hingga Jihan meringis kesakitan.


"Awss! lepasin" sentak Jihan dengan sekuat tenaga tapi cengkraman pemuda itu lebih kuat. Pemuda itu menyeret Jihan dengan tampang marah tapi tetap mabuk.


"Lo kenapa sih? woy! sadar woy!" teriak Jihan mencoba melepas cengkraman itu berniat untuk melari kan diri dari pemuda yang mabuk dan sedang dalam mode marah.


"Ga akan gue lepasin lo sebelum gue dengar suara erotis keluar dari bibir lo yang manis seperti ceri" ucap pemuda itu dengan tatapan ingin menerkam.


Barra! Teriak Jihan dalam batin.


"BANGS*T!! LEPASIN TANGAN BINI GUE!!" teriak seseorang dari belakang Jihan dengan nada menyeram kan dan begitu marah.


Jihan menoleh ke belakang dan bernapas lega, karena Barra ternyata masih mendengar teriakan nya tadi padahal lokasi bscamp dan tempat Jihan berada itu cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2