
Jihan pergi menggunakan taksi karena tak mau menyusahkan Cia yang harus mengeluarkan mobil dulu dari bagasi yang pasti nya butuh beberapa menit, walau hanya beberapa menit tapi bagi Jihan satu hari, huh lebay.
"Aduh pak, bisa lebih cepat gak? saya tambahin deh ongkos nya, tapi lebih cepat inimah kura-kura makan pisang, lama" cetus Jihan membuat sopir taksi itu menghela napas panjang karena sebenarnya taksi yang dia bawa sudah diatas rata rata.
Tapi yang namanya Jihan malah merasa bahwa bapak sopir itu tidak memiliki keahlian mengendara seperti orang balapan. Efek nonton MotoGP bersama Cia lewat online.
Padahal sudah tentu bila Jihan yang menyetir akan langsung ke rumah sakit, karena Jihan tak bisa mengendarai mobil, motor bisa tapi bukan motor sport seperti Barra.
Beberapa menit kemudian, sopir itu mengantar tepat di depan gedung apartemen yang tinggi menjulang, Jihan hampir saja lupa membayar jika sopir itu tidak memanggil nya.
"Eh non, bayar dulu" teriak sopir taksi itu membuat Jihan berputar arah dengan kaki masih berlari dan menghampiri kaca mobil taksi samping dengan napas ngos ngosan.
"Ham-hampir lupa gue pak, sor-sorry pak, nih huh" ucap Jihan dengan tersenggal senggal sambil memberikan dua lembar uang merah dari kantong, hanya itu yang ada di dalam kantong celana Jihan saat itu, karena Jihan tak berpikir untuk ganti pakaian setelah mendengar ucapan Denis yang mengatakan Barra hendak bun*h diri.
"Gue dah gak punya uang lagi" sahut Jihan sebelum pergi, dia mengira sopir itu akan memanggil nya karena uang nya kurang, tapi..
"Eh non, ini kelebihan" teriak sopir itu membuat Jihan berhenti sejenak dan menoleh ke belakang dengan tatapan tajam.
"Gue kira kurang," gumam Jihan tak bisa di dengar oleh siapapun.
"Ambil aja buat bapak, makasih tadi karena ngebut walau bagi gue belum ngebut banget" ucap Jihan mencebik bibir tapi ucapan terimakasih nya tulus.
Sopir itu nampak menggaruk belakang telinga nya. Jihan pun segera berlari lagi masuk ke dalam apartemen, sebelum Jihan masuk sopir itu berterimakasih dengan berteriak dan ditanggapi oleh Jihan dengan anggukan sekilas tanpa berbalik.
Menaiki lift, ternyata di lift ada dua manusia yang sedang berciuman, tapi tak Jihan hiraukan, pikiran nya sekarang tertuju pada Barra Barra dan Barra.
Suara cecapan dari kedua nya membuat Jihan maju beberapa langkah agar tidak terlalu dekat dengan dua manusia yang tidak tau malu dan tidak sadar ada orang lain.
__ADS_1
Hingga..,
"Sayang, aku udah gak tahan, mem*k aku udah basah sayang" cetus si perempuan dengan vulgar nya tanpa menyadari ada Jihan yang menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata nya.
"Apa harus kita lakukan disini honey?" tanya si laki-laki dengan suara serak serak basah, tapi tetap dengan nada manja nya pada si perempuan.
"Harus, selagi tidak ada orang disini sayang" jawab si perempuan masih tak melihat sekeliling.
"ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI." cetus Jihan dengan lantang membuat dua manusia di belakang terlonjak kaget.
Kemudian Jihan tanpa dosa nya, meniup niup dinding pojok lift seperti menghilangkan hantu yang ada lift.
Dua orang itu tadi, sudah setengah terbuka makanya Jihan menyadarkan keduanya dengan membawa ayat kursi. Langsung menutupi kembali tubuh mereka yang terbuka dengan pakaian masing masing.
"Banyak setan sama iblis ya di lift ini, harus di bacain ayat kursi biar hilang" cetus Jihan bermonolog sendiri tanpa menghiraukan dua manusia itu yang merasa malu.
"Setan yang punya jamur hidup, terus iblis yang punya lubang sumur, ckckck.. sungguh menjijikan!" maki Jihan layaknya bermonolog sendiri, dua orang itu hanya menunduk di pojokan lift tanpa ada niatan menyahuti makian Jihan.
📞 Grecia Tololl is calling..
"Napa si kembaran rose bp call gue?" gumam Jihan masih bisa di dengar dua orang itu.
Jari jempol kanan Jihan menyeret gambar di layar berbentuk telpon dengan warna hijau, dan menempelkan nya ke telinga sambil melihat sekitar.
Grecia Tololl: "Lo dah sampe apart apa belom?"
Jihan: "Udah di lift berhasrat gue"
__ADS_1
Grecia Tololl: "Dih lift berhsarat lo kira lift nya bisa nganu gitu hah?!"
Jihan: "Lah emang bener loh, ada setan sama iblis lagi otw nganu tapi gue ganggu-eh kalian dari kapan disitu?" mata nya melirik dua orang itu dan bersikap seolah baru melihat.
Dua orang itu hanya menunduk dengan berjongkok, lebih tepat nya si perempuan yang berjongkok menutupi wajah nya, sedangkan si laki-laki nampak gugup.
Grecia Tololl: "Siapa cok? setan ma iblis? maksud lo paan dah? ngelag otak gue nih, kalian siapa maksudnya cok?"
Jihan: "Cerewet sekali gue punya pren, dah lah bentar lagi gue mo keluar dari tempat berdosa ini, bisa jadi jamet gue lama lama di alam lain, mending nyusul lakik ke kamar yekan" cerocos Jihan.
Grecia Tololl: "Yang cerewet siapa bangkev?! elu dongo!" Jihan cengengesan.
Pintu lift terbuka dan Jihan langsung keluar dengan telpon masih berbunyi, sebelum itu dia berpamitan dengan dua orang yang masih malu kepergok.
"Saya duluan ya mas mbak, kalo mau lanjut silahkan" pamit Jihan membuat kedua nya bertambah malu berkali kali lipat, bahkan terdengar tawa dari Cia.
Grecia Tololl: "Gak tau malu lo Ji"
Jihan: "Lah kenapa gue? harusnya mereka yang malu kan kepergok gue mau nganu njir di lift"
Grecia Tololl: "Iyain dah, bye gue mo stream after midnight dulu, mo ngeliat bebep sanha"
Jihan: "Salamin buat mas eunwoo yaw" ucap Jihan dengan genit nya mengucapkan salah satu bias author_-.
Grecia Tololl: "Entar gue salamin ke unwo" -unwo: satpam rumah Cia yang memiliki mata genit.
Jihan: "Dih mang unwo kan maksud lo? ogah anjir! bukan tipe gue dia, tipe gue itu macam Barra noh! eh iya dah bye"
__ADS_1
Tut
Jihan mematikan telpon sepihak tanpa mendengar sahutan dari Cia, dan pasti nya Cia mengumpat kesal tapi tak urung dia tetap tersenyum karena Barra sepenuhnya tipe yang dicari Jihan.