Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 102


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian.


Hanya tinggal menghitung jam, murid kelas 12 akan melangsungkan ujian nasional yang paling menentukan apakah mereka akan lulus dan mendapat kertas ijazah atau harus tinggal kelas.


Malam hari sebelum ujian besok dimulai, Jihan begitu giat belajar sedangkan Barra hanya memainkan game di ponsel nya tanpa minat pada buku yang menumpuk di meja belajar.


Jihan membaca tiap halaman tanpa mengingat, kalau mengingat terlalu lama dan membuat otak nya bleng, selebihnya pun ada Jihan lewati karena merasa lelah.


"Yank, minta tolong boleh?" tanya Barra membuat Jihan menoleh sekilas lalu berbalik lagi membaca buku dan menyahuti pertanyaan Barra dengan deheman singkat.


"Ambilin berkas kantor yang dibawah laci meja" titah Barra dengan mata fokus pada hp yang dia miring kan ke kiri dan bermain dalam garena.


"Kok malah berkas kerjaan sih? besok ujian udah mulai loh, masa lo gak belajar" balas Jihan berbalik tanpa menuruti perintah Barra.


"Ujian itu mah gampang, ambilin aja dulu yank" jawab Barra dengan enteng dengan mata masih setia pada ponsel.


"Anji*g gak ada yang mau ngerivave gue beneran ahh suk!" umpat Barra membanting ponsel nya ke kasur dengan emosi karena para tim garena nya tak ada yang berada di dekat nya sama sekali.


"Padahal dikit lagi booyah, bangs*t!" umpat Barra terus keluar dengan sendiri, inilah manusia gamers bila kalah marah marah tak jelas tapi bila menang jingkrak nya tak tau tempat.


Jihan hanya mengamati apa yang Barra lakukan dengan tatapan datar. Semakin lama bersama Barra semakin pula terlihat sifat asli nya, Barra yang pelupa dengan sesuatu atau mudah emosi membuat Jihan harus lebih ekstra.


Clips


Bunyi pulpen Jihan, pulpen tekan yang awal sudah keluar dia masukkan lagi dan beranjak dari kursi belajar sedikit berolahraga agar pinggang nya tidak kaku.


"Auww auww.. sakit" ringis Barra merasa telinga sebelah panas dan merah akibat jeweran dari Jihan.


"Kata kata mutiara nya dikurangin ngab, sehari cuma bisa dihitung pake satu tangan kalo lebih satu tangan dapet hukuman" ucap Jihan sambil menjewer telinga Barra.

__ADS_1


Barra menatap iba ke arah Jihan.


Flashback On.


Beberapa hari yang lalu, Barra dan Jihan berada di balkon apartemen mereka dengan dua gelas coklat hangat di meja bulat tengah tengah balkon.


Dengan angin malam yang sepoi sepoi membuat kedua nya betah berlama lama di balkon apartemen dan duduk di lesehan padahal dibelakang mereka dua buah kursi kayu dengan ada nya meja bulat di tengah tapi kenapa mereka malah duduk lesehan di lantai yang dingin.


Kedua nya sedang fokus dengan ponsel yang miring, sesekali terdengar suara tembakan sahut menyahut dari ponsel Jihan dan ponsel Barra.


"Penggal pala nya hahaha" tawa Jihan puas mengheadshot musuh dengan sekali tembakan, kedua nya main bareng sebagai tim di clash squad random atau bisa disingkat cs random.


"Heh! cewek gak boleh ngomong kotor ih, tarik lagi kata kata nya tadi" balas Barra menasehati Jihan sambil menggerakkan kedua jari jempol nya ke sana ke mari bermain di layar ponsel.


"Biarin lagian ya gak sekasar amat juga kali wleee" jawab Jihan menjulurkan lidah mengejek pada Barra karena Barra adalah orang pertama yang mati dan hanya bisa menonton tim nya bermain.


"Gini aja deh, gimana kalo kita challenge tapi challenge ini untuk selamanya, mau gak?" tawar Barra membuat Jihan melirik sekilas lalu fokus pada ponsel lagi.


"Iya, challenge nya mudah kok.. cuma gini, kita boleh toxic shari cuma hitung satu tangan nah-" jelas Barra langsung dipotong Jihan.


"Tunggu tunggu, satu tangan maksudnya?" potong Jihan menaruh ponsel nya di paha kanan nya, dia juga sudah mati dan hanya tersisa one by one di dalam garena cs random.


"Satu tangan itu ada berapa jari?" tanya Barra dengan sabar dan diawali helaan napas pelan.


"Lima" jawab Jihan dengan polos.


"Nah berarti, kita cuma boleh toxic sehari lima kata doang yang boleh keluar itu kata mutiara, kalo lebih dari lima harus turuti kemauan yang gak ngomong toxic lebih dari lima, gimana?" lanjut Barra menjelaskan sedetail detail nya.


Jihan mencerna beberapa detik lalu mangut mangut paham.

__ADS_1


"Oke deal!!"


Flashback Of.


"Emang gue udah berapa kali ngomong toxic?" fanya Barra telinga nya masih setia di jewer oleh Jihan hanya saja jeweran itu sedikit melonggar.


"Tadi pagi gegara panci di dapur jatuh lo ngomong toxic sekali dah tu, siang tadi gegara ban motor lo kempes lo juga toxic dua kali dah tu, sekitar jam setengah dua lo toxic lagi karena kran air di kamar mandi lepas hum tiga dah tuh, sebelum maghrib tadi gegara denger kabar bahwa SMA DB sama SMA MDK bakal ngadain prom night setelah ujian nah tu dah berapa? empat kan? nah ini tadi lo main game dua kali toxic jadi enam kali dong" jelas Jihan panjang lebar.


Barra menatap cengo Jihan dan sedikit mendongak. "Wahh lo ngitungin ketoxican gue, wahh mantap gue punya bini" puji Barra ada mau nya.


Jihan memutar bola mata malas. "Gak mempan by, sekarang lo harus nurut ma gue" balas Jihan membuat Barra nampak seperti anak kecil yang memajukan bibir nya, cemberut.


"Jangan yang aneh aneh loh yank, aku masih mau hidup" ucap Barra puppy eyes.


Puk


"Sembarangan kalo ngomong! sapa juga yang nyuruh kamu bundir hah?! dih pikiran nya jauh sekali," omel Jihan setelah menimpuk kepala samping Barra dengan tangan yang tak dia gunakan untuk menjewer.


"Sapa tau ya kan, nyuruh masak yang ada kebakaran ni apart, dan gak kesisa sama sekali orang orang di apart" balas Barra tanpa dosa.


"Ini aja deh em.. karna besok ujian nasional dah di mulai, lo gue suruh belajar beberapa menit aja deh yang penting belajar gitu buat materi besok, harua nurut ya by gak boleh nego nego" ucap Jihan membuat Barra pasrah.


Barra mengangguk dengan malas. Membaca adalah salah satu kegiatan yang paling tidak disukai oleh Barra, walau dia sering membaca berkas berkas kantor tapi bukan berarti dia akan membaca dengan detail, dia pasti akan menyuruh Bang Nendra selaku sekretaris nya untuk menjelaskan secara lisan.


Jihan mengambil dua buku paket dan melepaskan jeweran itu nampak telinga Barra merah dan rasa nya uhhh panas🥵.


"Kok dua sih, aaaaayankk" rengek Barra seperti anak kecil yang sangat menginginkan mainan.


"Satu aja, ini satu nya buat gue baca cape juga lama lama duduk di kursi sabi lah duduk di ranjang" balas Jihan membuat Barra sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Cuma beberapa menit ya kan?" tanya Barra dengan memegang salah satu buku paket yang tak terlalu tebal seperti buku paket Jihan.


Jihan mengangguk dan naik ke ranjang, duduk di samping Barra. Dan mulai membaca.


__ADS_2