
Keesokan Harinya.
Adzan subuh telah berkumandang dengan nyaring di tiap masjid, dan membangunkan umat umat muslim agar segera melaksanakan sholat dan pekerjaan masing masing.
Jihan baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju berbeda dari tadi malam, dengan handuk kecil milik Barra yang untuk mengerikan rambut berada di leher kiri nya.
Melirik ke kasur yang Barra tempati, terlihat sangat damai dan pulas Barra tertidur, setelah merasa rambut nya agar kering, dia pun segera mengeringkan nya lagi dengan hairdryer.
Selesai mengeringkan rambutnya, Jihan melaksanakan sholat tanpa membangunkan Barra, bukan karena tak peduli tapi karena tak tega.
Disaat Jihan berdoa, Barra nampak menggeliat pelan dan gelisah, bahkan Barra sampai mengeluarkan keringat padahal AC sedang hidup.
Melipat mukena dan menaruh nya di atas sajadah tanpa menaruh ke almari tempat penyimpanan sholat dan mengaji, dia langsung menaiki kasur dengan pelan agar tidak membangunkan Barra.
"Kok keringatan?" gumam Jihan merasa aneh dengan kondisi Barra yang berkeringat, dan aneh nya lagi Barra seperti menggigil.
Menempelkan telapak tangan nya di kening Barra yang basah akibat keringat, detik berikut nya Jihan menarik tangan nya karena panas.
"Gile... panas banget, demam dia" lirih Jihan setelah menyadari bahwa kondisi Barra sedang tidak sehat.
"Barra" panggil Jihan dengan suara lembut, dia mencoba membangunkan Barra dengan tepukan pelan di dada, sangat pelan bahkan seperti elusan yang membuat Barra semakin nyenyak walau demam.
"Hey, bangun dulu bentar yok.. Barra" dengan sabar Jihan mencoba membangunkan Barra, tapi hasilnya tetap nihil.
__ADS_1
Apa harus Jihan membangunkan Barra dengan absurd? atau dengan yang lebih ekstrim? atau... akkhh ya sudah lah, seperti nya Barra tak bisa dibangunkan bila sedang sakit.
Jihan menuruni kasur dengan pelan agar tidak ada goncangan yang pastinya akan membuat Barra tambah gelisah. Keluar dari kamar niat nya mengambil air kompresan di dapur.
Ceklek
Kriett
Brak
Ini sungguh kelakuan barbar Jihan!
Membuka pintu dengan pelan dan ditutup dengan gebrakan, karena kedua tangan nya tak bisa menutup pintu akibat memegang baskom dan jadilah kaki yang membantu.
Menaruh baskom di lantai, niat nya menaruh di meja belajar tapi meja belajar penuh dengan buku, takut terkena buku kan jadi basah buku nya, mau taruh di nakas? tak bisa! ada dua ponsel dan satu ipet bermerek apel milik Barra yang gunanya untuk membuka file dokumen pekerjaan kantor.
Telapak tangan nya kembali memeriksa suhu tubuh Barra, dan masih panas bahkan bertambah panas dari yang awal, itu membuat Jihan dengan sigap mengompres kepala Barra dengan air yang sudah dia sediakan di baskom.
Menatap lekat dan dalam wajah Barra yang masih berkeringat, bibir Barra pun terlihat pucat, apa segitu nya tadi malam dia menolak sampai sampai membuat Barra demam? entahlah.
"Lo jahat Ji.. Vovo bangun setelah liat lonceng perpustakaan punya lo" gumam Barra dengan kepala ke kanan dan ke kiri menggeliat, gumaman itu terdengar oleh Jihan.
"Jadi ini demam karena gagal gitu? wah! Vovo gak pernah bangun ya sampe sampe lo demam dan menggigil gini hum?" balas Jihan dengan suara pelan dan gemas.
__ADS_1
Barra mengangguk dengan mata terpejam, lalu sedikit membuka mata nya walau hanya sedikit, mengedipkan mata nya beberapa kali bahkan kening dan alis nya berkerut karena cahaya lampu.
Jihan menutupi bola lampu yang berada di langit langit dengan tangan kanan nya tepat di atas Barra, agar Barra tidak kesilauan. Menatap Barra dengan senyum kecil.
Tiba tiba saja Barra mengerucutkan bibir nya, cemberut. Lalu memalingkan wajah nya ke samping tak mau menatap Jihan, Jihan mengernyit alis heran kenapa Barra cemberut.
"Kenapa lo malah nolak sih? bahkan tanpa ngomong sepatah dua patah kata gitu, biar gue bisa ngasih tau ke Vovo" semprot Barra dengan bibir tetap cemberut, kesal pada Jihan.
Jihan sempat melongo melihat tingkah Barra yang bila sakit menjadi manja bahkan selalu ingin diperhatikan dan disayangkan, cup cup.
"Gue.. gue huh.. gue belum siap aja" balas Jihan dengan kepala menunduk, dan helaan napas di tengah ucapan nya. Barra melihat itu langsung memeluk Jihan dengan posisi Barra masih berbaring dan Jihan duduk di pinggir kasur samping Barra.
"Gue juga minta maaf ya, karena udah terlalu jauh" ucap Barra disela pelukan nya, dia berkata dengan tulus. Jihan mengangguk dalam pelukan Barra yang suhu tubuh nya masih panas.
"Udah ih lepas..! lo demam Barra" berontak Jihan setelah merasa cukup lama dia dipeluk oleh Barra, napas Barra saja terasa panas saat menerpa wajah Jihan.
Barra melepas pelukan itu karena memang kondisi nya sedang tak bagus, bisa dilihat wajah nya pucat dan tatapan sayu kepada Jihan.
"Hari ini lo ijin dulu ya, sakit gitu" ucap Jihan kembali mengompres kepala Barra untuk kesekian kalinya.
"Ijin apa sakit? kalo ijin tuh kayak ada acara kalo sakit ya sakit" bukan nya menyahuti ucapan Jihan, Barra malah membalas Jihan dengan pertanyaan.
Jihan menghela napas. Apa tiap Barra sakit kelakuan nya jadi gini? cerewet sensitif manja dan gak pengen ditinggal?. Batin Jihan mencibir.
__ADS_1