Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 118


__ADS_3

Beberapa minggu telah terlewati, kini mereka sudah berstatus mahasiswa dan mahasiswi di salah satu kampus.


Mereka memang sepakat untuk kuliah di dalam negeri tapi tak ada rencana untuk satu gedung kampus. Para lelaki sudah tentu mengambil jurusan bisnis dan manajemen, para gadis di jurusan ekonomi, hanya Cia jurusan fashion desain berbeda dari para sahabat nya.


Sudah sebulan setelah mereka masuk kuliah, tak ada perubahan hanya saja Barra lebih posesif lagi dan sangat protektif.


Ting


Sebuah pesan di grup yang berisi delapan anggota itu berbunyi dari ponsel masing masing.


Jihan yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil sembari menunggu Barra pun mendekati ponsel nya yang berada di nakas.


adibasatt


Gaes!! entar kumpul yok


Tak lama kemudian, Azkan pun membalas. Apa mereka janjian, pikir Jihan.


Azkan


Dikafe deket kampus


adibasatt


Nanti sore


Habis ashar, oke babay.

__ADS_1


Tak ada lagi balasan, membuat para pembaca yang lain penasaran dengan Adiba dan Azkan yang seperti nya menyembunyikan sesuatu.


Tak mau pikir panjang dan membuat kepala pusing, Jihan pun segera meletakkan kembali ponsel nya di nakas dan mengeringkan rambut nya lagi dengan hair dryer.


Barra keluar dengan handuk yang melilit di pinggang, dengan satu handuk kecil seperti milik Jihan yang bertengger di kedua pundak nya.


"By, kan handuk nya dah bagi dua, kenapa lo masih sering males ngeringin rambut sih, bikin lantai basah gegara rambut lo tu" tegur Jihan mendekati Barra.


Mereka masih menggunakan logat yang campur, antara lo-gue dan aku-kamu yang kadang ingat kadang lupa.


"Lah dikira kiko bagi dua, kan satu nya beli lagi yank" balas Barra mencibir teguran Jihan diawal, Jihan memutar bola mata malas.


"Duduk!" titah Jihan menyuruh Barra duduk di kursi meja rias nya dan dituruti oleh Barra yang masih belum memakai apapun kecuali handuk yang melilit.


Jihan menggosokkan handuk kecil yang berada di pundak Barra ke rambut hitam Barra sedangkan si pemilik rambut hanya diam menatap Jihan dari bawah.


Membentuk jalan semut di kepala Barra, dan membuat rambut Barra terbelah menjadi dua. Kemudian mundur dua langkah untuk melihat hasil nya.


"Pttth" Jihan tak bisa menahan tawa nya lagi pun langsung terbahak bahak membuat Barra menatap nya heran.


Jihan sampai berjongkok saking lucu nya wajah Barra saat rambut nya di belah dua seperti itu. Apalagi Barra masih belum sadar.


"Lo kenapa sih yank kok ketawa, ada yang lucu kah?" tanya Barra hendak memegang kepala nya tapi langsung ditahan oleh Jihan masih dengan tawa nya.


"Gak, gak ada apa-apa by, beneran haha" jawab Jihan berbohong masih dengan tawa nya, tiap kali melihat wajah Barra dia langsung tertawa makanya dia lebih memilih menunduk.


"Pasti ada yang aneh, kalo gak ngapain kamu ketawa kek orang-" ucap Barra terhenti karna mendapat sorot tajam dan tawa Jihan yang berhenti, walau Jihan berusaha untuk menahan tawa itu lagi.

__ADS_1


"Orang apa?" tanya Jihan menatap fokus pada bibir Barra, dia tak mau melihat mata elang milik suami nya karna bisa dipastikan dia akan tertawa lagi karna mata dekat dengan rambut.


"Gak" Barra dengan wajah takut nya menggeleng melihat sorot tajam tapi bibir yang mengulum seperti hendak tertawa.


Barra pun berbalik badan menghadap cermin membuat Jihan menghilangkan tatapan tajam dan mengganti dengan gelagapan.


"Ayanggg!!" seru Barra merasa aneh karena wajah nya tak cocok dengan rambut belah tengah seperti di anime-anime yang memang cocok.


Mengacak rambut sendiri membuat rambut nya berantakan tapi damege nya kembali dan makin bertambah dengan rambut seperti itu.


Jihan ancang-ancang untuk kabur, tapi sebelum itu terjadi Barra sudah lebih dulu menarik tangan Jihan dan memeluk dari belakang.


"Mau kemana hm?" tanya Barra membuat Jihan meremang, hembusan napas Barra terasa di sekitar leher kiri nya.


"Kenapa rambut aku tadi digituiin hm? mau ngelawak biar readers ikut ketawa gitu? gak mungkin sayang, author kan orang datar mana bisa bikin readers ketawa" lanjut Barra berbisik, .


"Lo harus dihukum" ajak Barra seketika membuat Jihan mengeluarkan puppy eyes dan langsung paham hukuman apa yang pasti akan di beri Barra.


"Mumpung aku belum pake baju" bisik Barra seksual Jihan menggigit bibir bawahnya dengan gugup, jantung nya terasa berdetak kencang.


Entah kenapa jika membahas masalah ranjang, Jihan akan gugup padahal tiap malam Barra selalu minta jatah dan pasti diberikan kecuali memang sedang halangan.


Merasa tak mendapat respon dari Jihan, membuat Barra langsung mengangkat Jihan ala bridal style menuju ranjang.


Jihan hampir berteriak, tapi mulut nya sudah dibungkam oleh bibir suami nya sambil berjalan ke arah ranjang.


Dan melakukan kegiatan itu lagi di pagi menjelas siang dihari minggu itu.

__ADS_1


__ADS_2