
Kantin Rumah Sakit.
Barra dan Pak Satya duduk berhadapan di salah satu meja kantin pojok, dengan botol mineral di hadapan masing masing.
"Den Barra mau ngomong apa sama bapak?" tanya Pak Satya tak nyaman karena tak ada suara yang keluar dari mulut Barra.
"Ya. Pak, bisa saya minta tolong sama bapak buat kasih informasi tentang Jihan selama di sekolah, maksudnya kayak dia dekat dengan siapa atau dia digangguin oleh siapa gitu, bisa kah pak?" pinta Barra panjang lebar.
Pak Satya mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Barra, lalu beliau mangut mangut tanda paham.
"Iya Den, insyaallah selama non Jihan di sekolah akan bapak kasih tau apapun yang berhubungan dengan non Jihan. Tapi den, bapak gak bisa terlalu mengawasi karena bapak hanya satpam depan gerbang sekolah" sahut Pak Satya panjang lebar juga.
"Iya pak, gak papa kok. Saya juga mengerti, saya cuma minta tolong bapak awasi pergerakan Jihan dari jauh saja" balas Barra dengan mengangguk dan dibalas Pak Satya dengan anggukan dan senyuman.
"Ya sudah den, kalau begitu bapak pamit pulang dulu ya" pamit Pak Satya diangguki dua kali oleh Barra.
"Terimakasih ya pak" seru Barra sebelum Pak Satya beranjak dari kantin rumah sakit.
"Iya den, sama sama" balas Pak Satya dengan senyum.
__ADS_1
Pak Satya merasa canggung setelah mengetahui identitas asli Barra yang seorang pengusaha muda sukses membuat nya sungkan bila bertemu, tapi Barra selalu mengatakan anggap saya seperti murid yang lain karena saya bukan seorang pengusaha di sekolah.
___
Beberapa saat kemudian.
Dokter yang menangani Jihan telah keluar dengan membawa berita bagus, kini Cia Denis dan Diego berada di ruang yang ditempati oleh Jihan.
Ternyata Jihan kondisi juga kurang sehat, membuat nya pingsan cukup lama, ditambah salah tonjok dan terbentur mobil membuat kondisi nya semakin parah.
Kriett
Pintu ruang itu dibuka dengan pelan, dan terlihat Barra menyembulkan kepala nya untuk memeriksa, kelakuan itu membuat Denis tergelak.
Barra pun masuk ke dalam ruangan itu dengan botol mineral yang isi nya sisa setengah.
Jihan sama sekali tak menghiraukan kehadiran Barra, dia saat itu tanpa sadar malah maju menghalangi Barra yang sedang emosi dengan Diego.
Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tonjokan yang Barra layangkan membuat pipi kiri nya bengkak dan berwarna biru, ditambah kening nya harus di perban.
__ADS_1
Walau dia tau, sebenarnya tonjokan itu Barra berikan untuk Diego, entah kenapa Jihan malah menghalangi dan membuat diri nya yang terkena pukulan itu.
"Ji" lirih Barra berada di samping kiri brangkar yang Jihan tiduri. Sedangkan Cia berada di samping kanan tepat di kursi yang tersedia hanya satu.
"Kata Jihan untuk sementara biar Jihan nginap di rumah gue dulu, dia mau nenangin diri dia dulu" cetus Cia menatap Barra dengan tatapan iba.
Barra menghela napas berat. Gue sebenernya pengen banget nolak ucapan Cia tadi, tapi karena lo mau nenangin diri it's okay, gue akan bersabar. Batin Barra mengalah.
"Oke, tapi lo jagain dia Ci, jangan bikin dia kepikiran sama yang lain dulu" ucap Barra mendapat decihan dari Jihan.
"Iya, itu udah gue pastiin." balas Cia mengangguk pelan sambil melirik Jihan yang nampak tak berniat menatap Barra.
Sebelum Barra pergi, Barra mencoba memegang tangan Jihan tapi belum sampai Jihan sudah mengangkat tangan nya menjauh dari tangan Barra.
Sebenarnya Jihan tak tega melakukan hal ini pada Barra, dia hanya ingin memberi Barra pengertian bahwa menyelesaikan masalah tak harus memakai tangan.
"Bar mau kemana lo?" tanya Denis melihat Barra hendak berbalik badan.
"Pulang lah" jawab Barra tak bersemangat.
__ADS_1
Sebelum benar benar keluar dari ruangan itu, Barra sempat melirik ke arah Diego yang dengan tanpa dosa nya duduk di sofa.
Lo yang buat hubungan gue sama bini gue renggang! tunggu aja lo Diego Syahputra. Batin Barra penuh ancaman.