
Apartemen.
Jihan berjalan dengan santai ke dapur untuk mengambil sup ayam yang baru dia buat untuk Barra, dia juga sudah diberitahukan oleh Adiba kalau Azkan memberi tahu nya tadi langsung.
Itu membuat Jihan bernapas lega sekaligus kesal, kenapa? karena selama dia berada di apart suara bariton Barra selalu memanggil nama nya.
"Jihannnnnn!" suara itu terdengar lagi tapi dengan nada manja, Jihan merasa aneh dengan Barra, kenapa saat sakit Barra menjadi manja berbeda dengan biasa nya yang dingin.
"Sebentar!" balas sedikit berteriak, Jihan di tangga sambil membawa nampan berisi sup ayam, nasi yang masih mengeluarkan asap, dan air putih.
Dengan pelan Jihan membawa nampan itu ke atas, masuk ke dalam kamar dengan membuka knop pintu dengan siku dan di dorong oleh lengan, karena kedua tangan nya sibuk memegang nampan.
Barra yang bersantai dengan posisi setengah duduk itu menoleh ke arah pintu, lalu meletakkan remot tv di kasur karena dia merasa bosan.
Memperhatikan gerak gerik Jihan yang menaruh nampan di nakas dan bernapas lega lalu tersenyum tipis Barra, dan Barra menatap Jihan heran.
"Kenapa?" tanya Barra merasa heran dengan senyuman Jihan.
"Cobain, enak apa gak rasanya?" bukan nya menjawab pertanyaan Barra, Jihan malah menyuruh Barra untuk mencicipi sup ayam buatan nya sendiri.
Jihan meletakkan nampan di kedua paha nya, niat nya menyuapi Barra. Jihan hari ini banyak sabar dan juga dia ingin menebus kesalahan nya tadi malam yang membuat Vovo bangun.
"Lo buat sup itu sendiri?" tanya Barra menatap sup ayam dengan tatapan lapar. Jihan berdehem sebagai jawaban dan menyuapi Barra secara perlahan.
__ADS_1
"Tiup dulu biar agak dingin" ucap Jihan membuat mulut Barra yang terbuka langsung mingkem dan meniup niup sendok berisi sup dengan nasi itu dengan pelan sambil menatap wajah Jihan.
Setelah dirasa dingin, Barra langsung menarik tangan Jihan agar sendok itu masuk ke dalam mulut nya yang sudah siap di masukkan makanan.
Jihan menatap lekat Barra yang tengah mengunyah nasi berserta kuah sup, detik berikut nya Barra menatap Jihan dengan tatapan sulit diartikan.
"Gak enak ya?" tanya Jihan dengan tampang kecewa. Dia hendak membawa keluar sup ayam serta nasi niat nya ingin membuang, atau akan dia beri pada kucing peliharaan Barra.
Tapi tiba tiba, Barra mengambil mangkok sup ayam itu dan menumpahkan nya ke piring nasi dan memakan nya sendiri dengan lahap.
Jihan tercengang, menatap Barra dengan bingung. Apa biar gue gak sedih dia kayak gini? aduhh. Batin Jihan menatap Barra dalam yang sedang fokus pada makanan nya.
"Ini masakan terenak setelah 11 tahun gak pernah makan masakan seenak ini" puji Barra membuat Jihan sempat tak percaya tapi setelah itu tersenyum manis.
"Ji, boleh nambah lagi gak?" tanya Barra membuyarkan lamunan Jihan, dan menyodorkan piring nasi yang habis tak tersisa. Jihan tertawa kecil melihat tingkah Barra.
"Kalo makan tuh jangan sampe kayak dikejar polisi, jadi belepotan kan" ucap Jihan mengelap bibir bawah Barra yang terdapat sebiji nasi dengan tangan kosong ucapan nya diakhiri terkekeh pelan.
Barra cengir kuda menanggapi ucapan Jihan.
"Gue udah lama gak ngerasain sup ayam, terakhir kali saat.. hari gue ultah ke 7 tahun dan.. hari dimana Mama Papa pergi ninggalin gue" jelas Barra dengan lesu.
Jihan cukup kaget, dia baru tau kebenaran tentang orang tua Barra yang ternyata tiada saat hari jadi Barra yang ke 7 tahun, dan itu pasti menjadi kado tersedih bukan terbahagia.
__ADS_1
"S-sorry.. gue gak maksud bikin lo inget kejadian itu, sorry banget Bar gue minta maaf" ucap Jihan mengambil tissue kering dan mengelap pipi Barra yang terkena air mata.
"Gak papa, gue juga seharusnya ngomongin ini dari awal sama lo, lagipula ini bukan rahasia, kejadian diketahui oleh banyak orang bahkan paparazi juga ikut hadir di pemakaman dulu" jelas Barra dengan menunduk tak mau memperlihatkan air mata, walau sudah terlambat.
Jihan segera mendekap Barra ke dalam pelukan hangat dan erat nya, seakan takut kehilangan. Hingga Barra mengucapkan suatu kata yang membuat air mata nya meluncur bebas dari pelupuk mata bulat nya.
"Gue gak mau kehilangan untuk yang kedua kali nya, Ji. Gue gak mau" ucap Barra bermakna agar Jihan tidak meninggalkan nya selama nya sampai allah lah yang memisahkan kedua nya di dunia dan mempersatukan kembali di surga nanti.
"Gue gak bisa janji Bar, tapi gue akan usahain buat gak pernah ninggalin lo, suka maupun duka kita tetep bersama" ucap Jihan dengan mengeratkan dekapan nya lagi.
Barra mengangguk dengan senyum manis di dalam dekapan Jihan, walau Jihan tidak tau tapi dia bisa merasakan bahwa Barra sedang tersenyum.
Beberapa menit kemudian Barra sudah mulai tenang, Jihan dengan pelan melonggarkan dekapan itu niat nya melihat wajah Barra apa Barra tidur atau tidak. Dan ternyata tidak.
Barra dengan mata merah nya menatap dada Jihan yang tadi menjadi sandaran nya, terasa nyaman dan hangat, apalagi mendengar detak jantung Jihan yang kencang dan cepat itu membuat nya lebih nyaman berada di situ.
"Kenapa kok natap gitu banget sih?" tanya Jihan merasa aneh dengan tatapan Barra yang mengarah pada dada nya saja, tanpa kemana mana lagi.
"Gue boleh gak.." ucap Barra dengan ragu menatap mata Jihan dalam. Jihan menaikkan alis sebelah heran dengan tatapan Barra.
"Boleh apa?" tanya Jihan..
"Pegang dua lonceng perpus"
__ADS_1