Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 122


__ADS_3

Burung berkicau dengan merdu di udara yang cerah, secerah hati Jihan yang akan berkunjung ke rumah utama suami nya, rumah yang penuh akan kenangan manis bersama Mama Papa Barra.


"Seneng banget sih hm?" cetus Barra memeluk tubuh Jihan dari belakang, yang berdiri di depan vermin memperhatikan outfit nya sendiri.


"Yaiyalah by, kan mau ketemu sama Nenek Kakek, udah lama nih kita gak berkunjung ke rumah Nenek Kakek" balas Jihan antusias.


Jihan sering berkunjung kerumah utama sekedar menemani Nenek Naira yang kadang kala merasa jenuh berada dirumah yang besar tapi minim penghuni.


"Gimana kalau kita pindah kerumah utama aja?" tawar Barra membuat Jihan menoleh dengan binaran bahagia.


"Beneran nih? kita pindah kerumah utama?" tanya Jihan dengan manja, sifat nya bila bersama Barra akan manja begitu pun sebaliknya.


"Emang kamu udah bosen tinggal apartemen melulu?" tanya Barra niat nya menggoda, mereka masih tinggal di apartemen, bukan karna apa tapi apartemen itu termasuk hasil jerit payah Barra sendiri tanpa campur tangan siapapun.


"Gak juga sih, tapi aku pengen suasana baru aja" jawab Jihan dengan mimik wajah menggemaskan membuat Barra ingin menerkam nya dan mengurung dibawah tubuh nya.


"Hm.. ya udah, untuk istri ku tersayang dan tercinta ini, aku akan melepas apartemen ini dan menetap di rumah utama" ucap Barra setelah beberapa menit memikirkan.


"Gak usah dilepas by, kita tinggal di rumah utama, dan gak usah jual ini apartemen, kan sayang banyak kenangan disini" balas Jihan tak ingin Barra menjual apartemen yang menjadi saksi selama pernikahan mereka berlangsung.


Pernikahan mereka sudah menginjak usia satu tahun setengah, hanya sisa beberapa bulan lagi akan menunggu dua tahun, untuk kuliah mereka sudah semester dua.


___


"Assalamualaikum" Jihan dan Barra telah sampai di rumah utama yang memiliki banyak kenangan dari almarhum kedua orang tua Barra.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, wahh Jihan cucu ku, apa kabar nak?" balas Nenek Naira menghampiri Jihan dan Barra yang berada di ambang pintu.


"Alhamdulillaah baik Nek, Nenek sendiri gimana kabar nya? masih sehat kan?" tanya Jihan menuntun Nenek Naira untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Lah cucu nya yang mana yang tanyain yang mana? mengsedih sekali" lirih Barra mendramatis dengan mimik wajah bersedih.


"Itu berarti bagus karna Nenek kamu menerima Jihan sebagai cucu nya, tenang kamu masih punya Kakek" celetuk Kakek Irfani mengagetkan Barra dengan muncul dari belakang secara tiba-tiba.


"Kakek mau jadi jin kah muncul tiba-tiba, mana dari belakang lagi, kan kaget ini untung gak punya riwayat jantung" gerutu Barra mengelus dada, sedangkan Kakek nya hanya tertawa kecil dan merangkul pundak cucu satu-satunya dan pasti kesayangan.


"Ayo masuk ngapain berdiri disini" ajak Kakek Irfani membawa Barra dengan rangkulan santai layak nya kawan.


Barra dan Kakek nya menghampiri Jihan dan Nenek yang asik bersenda gurau mereka terlihat akrab dan itu membuat dua lelaki yang masih berdiri itu bahagia.


Karena ini masih sekitar jam delapan pagi, Nenek Naira mengajak Jihan dan Barra untuk makan dan disetujui oleh kedua nya.


Sampai di meja makan, hidangan sudah tersaji rapi di meja makan dengan banyak menu dan pasti lezat.


"Enak nih" cetus Barra segera duduk di samping


Kakek Irfani yang berada di tengah dan di samping nya ada Jihan.


"Iy- hoekk" balas Jihan terhenti karna tiba-tiba rasa mual nya menyerang, segera dia bangkit berlari menuju wastafel dapur.


Barra, Kakek dan Nenek pun ikut panik. Nenek Naira mendekati Jihan dan menggosok tengkuk Jihan yang tertutup kerudung.

__ADS_1


Jihan terus mual, tapi tak ada yang keluar, hanya saliva nya yang dia buang ke wastafel, membasuh mulut nya dan berdiri dengan tegak.


"Kamu kenapa nak? sakit?" tanya Nenek Naira terlihat khawatir.


"Eng-enggak apa-apa kok Nek palingan cuma masuk angin karna telat makan" jawab Jihan berkilah, dia tadi sempat makan roti beberapa potong saat di mobil karna di mobil Barra terdapat roti yang memang disediakan untuk makan.


Nenek Naira berpikir sejenak, lalu menatap wajah Jihan yang sedikit pucat dengan keringat yang entah dari kapan keluar nya.


Jihan kembali mual, membuat Barra juga ke dapur khawatir dengan keadaan istri nya.


"Mau ke kamar kah yank? biar aku antar" tanya Barra mendekati Jihan dan Nenek Naira. Jihan menggeleng lemah dengan napas sedikit tersenggal.


"Engga usah, Nenek sama kamu makan aja deh, keknya Jihan langsung ke kamar sendiri aja dulu ya" tolak Jihan tak ingin sarapan mereka terganggu karna suara mual nya.


Nenek Naira hanya diam beberapa menit lalu kembali menatap Jihan dan Barra bergantian. "Nak, kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanya Nenek Naira membuat Jihan dan Barra saling pandang.


"Eeem lupa Nek, kenapa memang nya?" tanya Jihan sedikit merasa pusing.


"Bulan ini kamu ada datang bulan gak nak?" tanya Nenek Naira seakan mendesak Jihan untuk mengingat tanggal halangan nya.


Jihan berpikir. "Bulan ini belum ada sih Nek, bulan kemaren juga gak datang, ya kan by?" tanya Jihan pada Barra. Barra mengangguk saja.


Nenek Naira langsung sumringah. "Razi, belikan testpack!" titah Nenek Naira pada Barra, kebiasaan Nenek Naira memanggil Barra dengan sebutan Razi dari kecil hingga sekarang.


"Testpack?!"

__ADS_1


Hai hai cemuaaa.. Suami Pilihan Bunda kembali dengan Season 2 hehe gak jadi nunggu Married To Badboy episode 50, soalnya kelamaan.. otak halu gue masih lengket di Jihan Barra xixi.. tpi beda ny jadwal SPB sedikit berubah yaitu, cuma up dua kali seminggu, entah hari nya kapan, yang pasti insyaallah up dua kali seminggu.


__ADS_2