
Jihan dan Barra telah sampai di gedung tinggi menjulang yang nampak sepi hanya ada suara hewan kecil berbunyi nyaring siapa lagi kalau bukan, jangkrik.
Sudah tentu Barra memarkirkan motor sport nya di tempat semula yaitu Basement apartemen yang luas dan hanya ada beberapa satpam yang berjaga.
Pasutri baru itu sudah berada di kamar dengan P3K di tangan Barra, niat Barra hendak mengobati memar di lengan Jihan, akibat pemuda brengs*k yang mabuk tadi.
Jihan sibuk melepas kerudung nya yang instan lalu menyisir rambut pendek sebahu nya dengan sisir yang terdapat di meja rias.
"Ji sini, biar gue kasih minyak buat lengan lo" ucap Barra duduk menyamping di sofa dengan satu tangan menopang kepala nya yang memiring tanpa melihat keberadaan Jihan.
"Bentar" balas Jihan dalam walk in closet atau bisa di sebut ruang tempat pakaian. Barra menjawab dengan deheman singkat sambil menatap ponsel nya yang berada di genggaman nya, sedang kan P3K berada di atas sofa belakang nya.
__ADS_1
Ceklek
Kriett
Jihan keluar dari ruang ganti pakaian dengan celana pendek selutut dan tangtop yang memperlihat kan lekuk kan atas tubuh Jihan.
"Mana minyak nya?" tanya Jihan berdiri di hadapan Barra yang masih sibuk mengurus surat file yang di kirim lewat aplikasi yang sangat populer.
"Sini biar gu-" ucap Barra mendongkak menatap Jihan dan terhenti setelah melihat pakaian yang di pakai oleh Jihan, dada yang tak terlalu besar tapi seperti nya cukup se telapak tangan Barra itu sangat terlihat.
"Lo sengaja ya Ji? pake baju kek begini?" tanya Barra dengan suara parau, dia mati matian menahan gairah nya saat melihat Jihan keluar dengan handuk saja karena kebiasaan Jihan yang lupa membawa baju ganti mengharus kan nya mandi lebih lama, dan kali ini terjadi lagi tapi bukan untuk mandi melain kan untuk di pijat lengan nya.
__ADS_1
"Dih paan? gue kan pake gini biar mudah pijat nya kali" jawab Jihan dengan santai nya duduk di sebelah Barra yang terhalang kotak yang berisi obat atau alat alat pengobatan pertama, P3K.
Barra mengambil ponsel nya dengan tatapan tetap pada Jihan yang sibuk mencari botol minyak di kotak P3K. Sedikit menunduk membuat dada nya sedikit terlihat oleh Barra.
Omg! Vovo bangun dari koma langsung mau nyari rumah buat seumur hidup, ya allah cobaan yang berat! lebih baik gue di pukulin sama preman dah daripada bikin Vovo gelisah, gue ga mau bikin mba lux abis. Batin Barra menjerit.
Sedangkan Jihan dengan tanpa canggung mengusap lengan nya yang berwarna biru akibat cengkraman kuat dari pemuda mabuk itu, hihh! mengingat kejadian itu saja membuat Jihan takut.
Sesekali meringis menahan sakit, dan sesekali juga melirik ke arah Barra yang terlihat melamun sambil memandangi satu titik fokus yang membuat Vovo gelisah di dalam ruangan itu.
"Bar! jangan melamun! entar gue tempelin lakban ke mata lo baru tau rasa entar" cetus Jihan melambai lambai kan tangan di depan wajah Barra.
__ADS_1
Barra tersentak dari lamunan nya dan mendengus sebal oleh ucapan sang istri. "Coba tempel bibir kek daripada lakban, kan nyelekit!" sahut Barra dengan mengerucut kan bibir nya.
Jihan cengengesan menampilkan deretan gigi putih berseri, lengan nya pun sudah tak terlalu sakit dan memar yang awal nya biru sudah hilang, hanya ada nyeri bekas nya saja.