Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 134


__ADS_3

Jihan, Barra, dan orang-orang terdekat terdiam di sebuah nisan yang baru saja menutupi jasad Kakek Irfani.


Tak ada air mata, hanya senyap yang di dapat tapi dengan raut murung. Nenek Naira tak bisa ikut mengantar sang suami ke peristirahatan terakhir karna pingsan.


Jihan mengusap pundak tegap Barra yang naik turun, dia juga ikut merasakan kesedihan itu.


Para kerabat yang ikut dalam proses pemakaman itu pun mulai pergi silih berganti, meninggalkan Barra Jihan dan kawan-kawan nya di depan batu nisan.


"Bar, gue sama keluarga gue turut berduka cita atas kepergian Kakek lo ya, semoga beliau tenang di alam sana" celetuk Denis mendapatkan anggukan pelan dari Barra yang sejak tadi tidak bersuara.


"Gue juga, walau gue gak deket sama Kakek lo, tapi bisa ngerasain kalo beliau orang baik" timpal Cia hanya dibalas anggukan Barra.


"Makasih doa nya" Jihan mewakilkan Barra untuk menjawab, diangguki santai oleh Denis dan Cia.


"Sayang, pulang yuk kasian Nenek dirumah" ajak Jihan setelah beberapa merasa perut nya keram akibat berjongkok terlalu lama.


"Iya Bar, Jihan kan juga lagi hamil kasian kecapean kayak nya" sahut Adiba membuat Barra menoleh ke arah Jihan yang berasa di samping nya.


"Maaf ya sayang, aku sampe lupa kamu lagi hamil.. Yok yok kita pulang" ucap Barra langsung menuntun Jihan untuk berdiri.


Jihan menurut, sedikit meregangkan otot punggung nya dan paha yang agak keram akibat terlalu berjongkok.


Mereka pun kembali kerumah utama dengan dua mobil dan satu motor yang digunakan oleh Denis.


___

__ADS_1


Sudah seminggu Kakek meninggal, keadaan Nenek Naira juga seperti tidak ada semangat hidup, walau begitu dia tetap mencoba terlihat biasa saja agar tidak mengkhawatirkan cucu-cucu nya.


Ditambah Jihan sedang mengandung yang pasti tidak boleh terlalu banyak pikiran.


Disiang hari yang tak terlalu panas, tak juga mendung itu ada seorang perempuan mampir dengan membawa tas di pundak nya.


Membuat Jihan yang kala itu menunggu orderan makanan nya mengernyit alis, dia siapa? kok gue gak pernah lihat ya.


"Permisi Nona, numpang tanya.. Kenal Mbak Dyna?" tanya perempuan itu dengan sopan kepada Jihan.


"Iya kenal, ada apa ya nyari Bi Dyna?" tanya Jihan balik, Bi Dyna salah satu pembantu yang sudah lama bekerja dirumah utama.


"Ohh syukur deh, saya ponakan nya Mbak Dyna" jawab Laras, perempuan yang mencari Bi Dyna.


"Ohh ponakan, sebentar saya panggil Bi Dyna nya bentar" ucap Jihan bangun dari tempat duduk nya berniat masuk.


"Astaghfirullah Bi ngagetin aja" cicit Jihan mengelus dada nya karna kaget.


"Maaf Non, tadi kebablasan lari" balas Bi Dyna cengir kuda kepada istri majikan nya.


"Iya Bi, gak apa-apa kok"


Jihan kembali duduk di kursi tadi sambil memainkan ponsel nya, menonton film kartun yang entah sejak kapan dia menjadi suka dengan kartun dari Malaysia itu.


Bi Dyna pun pamit sopan kepada Jihan untuk membawa ponakan nya, Laras ke dalam. Diiyakan oleh Jihan yang tetap fokus pada layar ponsel nya.

__ADS_1


Bi Dyna membawa Laras ke dapur, dan menyuruh Laras membantu nya di dapur.


"Mbak, perempuan di depan tadi siapa?" tanya Laras sambil memotong-motong wortel dan labu.


"Nona muda disini, Dek" jawab Bi Dyna dengan tangan yang tak berhenti bekerja.


"Cuma dia yang tinggal disini, Mbak?" tanya Laras tanpa sadar di dengar oleh Bi Darmi yang baru masuk ke dapur.


"Ehh bicara yang sopan, Non Jihan disini majikan jangan panggil dia dia gak sopan itu" tegur Bi Darmi.


"Maaf Dar, Laras kan gak tau nama Non Jihan, yakan Ras?" sahut Bi Dyna membela Laras, diangguki Laras tentu nya.


"Kan kamu bisa bilangin sejak awal masuk, Non Jihan orang sensitif sekarang jangan sampe ada yang salah" balas Bi Darmi.


"Iya maaf Dar, lupa aku kasih tau ponakan ku ini" jawab Bi Dyna mengalah dan memang dia juga yang lupa memberitahu Laras.


"Ponakan mau kerja disini?" tanya Bi Darmi sembari membuat teh hangat untuk Nenek Naira.


"Iya Dar, kasian aku sama dia gak pernah di terima kerja di restoran atau tempat makan lain" jawab Bi Dyna.


"Tanya dulu sama Nyonya besar, Den Barra, dan Non Jihan, setuju gak nambah pembantu lagi gitu" ucap Bi darmi sebelum pergi dari dapur membawa nampan berisi teh hangat.


Palingan gak diterima karna kerja nya gak rapi, lamban, dan kurang sopan.


Bi Darmi merasa Laras tidak cocok bekerja disini, tapi bila majikan mereka setuju ya dia bisa apa, walau Bi Darmi pembantu terlama dan paling senior tapi bila urusan seperti ini Bi Darmi tidak akan ikut campur.

__ADS_1


mau sering author up? kasih like, komen, vote, hadiah lahh masa harus author kasih tau dulu sii baru mau><


__ADS_2