Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 111


__ADS_3

"Rangga mending lo lepasin dia!" gadis itu tak menghiraukan pertanyaan dari Cia yang seperti nya mengingat diri nya saat bersama dengan kawan kawan nya.


"Kenapa harus gue lepas? apa berhak lo ngatur ngatur hidup gue hah?!" bentak Rangga melepas pelukan itu tanpa sadar.


Seakan mendapat jalan pintas, Cia segera berlari ke arah Denis dan memeluk nya, dibalas Denis dengan erat. Denis bisa mendengar jantung Cia yang terpompa cepat.


"Kamu gak papa ay?" tanya Denis khawatir. Cia mengangguk dan menggeleng, dia tidak tau kondisi nya sekarang bagaimana, apalagi ingatan tentang Rangga yang mere*as salah satu dada nya itu kembali berputar.


Denis pun mengeratkan pelukan nya pada Cia memberi ketenangan, Jihan pun ikut mengelus rambut Cia yang terurai bebas.


"Karna-" ucap Zila kembali dipotong oleh Rangga.


"Bukannya ini yang lo mau Zil? lo mau sama Denis dan gue sama Cia, gitukan? tapi kenapa sekarang lo berubah pikiran hah?!" cela Rangga membuat Zila menghela napas lelah.


"Iya rencana nya tadi emang gitu, tapi itu tad-" ucap Zila kembali dipotong, ingin rasanya Zila memotong lidah Rangga yang selalu memotong ucapan nya.


"Nah kenapa malah lo suruh lepas? nah kan ****! sini lo Ci!" potong Rangga baru sadar Cia sudah tak ada di pelukan nya melainkan pelukan Denis.


Cia memalingkan wajah nya dan memejamkan mata nya di dada bidang Denis yang tertutup seragam sekolah yang masih bersih.


"Heh! kasian itu daritadi lo potong mulu, biarin lah Zila ngomong sampe selesai jangan lo potong potong, mau lo gue potong umur lo?" sahut Adnan mengancam.


Rangga menghela napas lalu mengangguk pasrah tanpa suara. Dan membiarkan Zila berbicara sampai habis.


"Thanks Adnan" ucap Zila tulus. Adnan mengangguk singkat.


"Ngapain makasih anjir, kek ditolongin bae" cibir Ersa lirih nampak tak suka dengan Zila. Adnan yang berada di samping nya hanya tersenyum kecil mendengar lirihan Ersa.

__ADS_1


"Lah malah diam? woy! cepetan entar keburu habis waktu nya nih" seru Adiba kesal karena dia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Zila.


"Kek mau dijemput ajal lo Dib?" kekeh Jihan menambah durasi author ngetik!! aa makin cafe saia.·´¯`(>▂<)´¯`·.


"Dah dah skip!" seru Barra serius.


Mereka pun fokus pada Zila dan Rangga yang masih hening. Sungguh menambah lama dan membuat readers bosan(~‾▿‾)~


"Kenapa lo berubah pikiran?" tanya Rangga dengan nada suara tak membentak, emosi nya sudah stabil.


"Gu-gue.. gue.. gue ham-hamil" jawab Zila menunduk dan terbata bata.


Jedarr


Rangga menatap Zila dengan tatapan tak percaya. Dunia seakan runtuh bagi Rangga. Ini yang paling Rangga takutkan, berhubungan dengan gadis polos yang keperawanan nya diambil oleh dirinya.


Zila nampak bergetar ketakutan dengan mata tetap menatap rumput berwarna kuning. "Gu-gue gak mau minum pil itu, kata Ibu pil itu gak baik buat kandungan gue" jawab Zila membuat Rangga mengacak rambut nya frustasi.


Barra tersenyum miring dan terkekeh kecil. "Man, lo mending urus Zila deh.. daripada nambahin benih di mana mana, lo sendiri yang bakal kesusahan" cetus Barra sebelum menarik tangan Jihan pergi dari taman kumuh itu.


Karna ada pengumuman yang menggema di lapangan, dan memerintahkan untuk berkumpul segera di lapangan.


Kini, tersisa Zila dan Rangga di taman kumuh itu. Rangga masih tak menyangka akan terjadi hal seperti ini, dia sudah sering berhubungan bad*n dengan wanita mana pun tapi setelah itu dia akan menyuruh untuk meminum pil penunda kehamilan itu.


Dan baru kali, ada yang tak menuruti ucapan Rangga, bahkan mereka sudah melakukan nya beberapa kali dan itu pasti akan Rangga suruh minum setelah bermain.


"Bukannya lo minum pil itu? kenapa bisa ada bayi dalam perut lo hah?!" tanya Rangga merasa putus asa.

__ADS_1


"Gue emang minum pil itu di depan lo, tapi setelah lo pergi, pil itu gue muntahin" jawab Zila jujur, dia selalu mengingat perkataan ibu nya yang menyuruh nya tak boleh meminum pil itu setelah memiliki suami atau setelah bermain.


"Argh! trus lo udah periksa dan yakin apa kalo lo itu beneran hamil hah?!" tanya Rangga menarik rambut nya frustasi.


Zila mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantong jaket nya dan memberikan nya ke Rangga tanpa menatap wajah Rangga.


Rangga menerima benda panjang tapi kecil itu, mata nya menatap dua garis merah yang cukup tebal, artinya sudah lama Zila berbadan dua.


"I-ini? hah.. lo ikut gue ke rumah sakit, kita cek ke dokter langsung, karna ini bisa aja palsu" ajak Rangga menarik tangan Zila.


Keduanya pun pergi dari taman kumuh itu, bukan ke lapangan yang sudah banyak murid-murid SMA Merdeka dan Dharma Bakti yang berkumpul, melainkan ke gerbang sekolah.


Tanpa menghiraukan panggilan dari guru, Rangga terus menarik Zila dengan lembut, dan Zila hanya diam mengekori Rangga.


Jihan Barra dkk hanya menatap sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan, dimana para guru SMA Merdeka dan Dharma Bakti berdiri.


Murid SMA Dharma Bakti berada di samping kiri sedangkan SMA Merdeka di samping kanan, dan di tengah ada sebuah meja panjang yang tersusun piala-piala.


"Gue takut gak lulus" cetus Ersa membuat Jihan Adiba dan Cia saling merangkul dan memberi semangat.


"Apalagi gue Er" sahut ketiga nya bersamaan, lalu mereka tawa bersama merasa lucu.


Dengan posisi berhadapan, membuat seantero riuh, bahkan bersuara pun kalau tak memakai mic dan sedikit berteriak tak akan bisa di dengar oleh seluruh murid.


Ada beberapa murid yang tidak dapat bangku, dan memilih bersandar di pohon atau hanya berdiri, seperti Jihan dkk yang memilih bersandar di pohon.


__ADS_1


__ADS_2