Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 23


__ADS_3

Suara merdu dari dua manusia beku yang berada di panggung menyita perhatian banyak tamu, bagaimana tidak? Kedua nya bernyanyi bersama dengan berhadapan dan berpegangan tangan layak nya sepasang kekasih.


Jihan dan Barra yang berada di pelaminan ikut tersenyum tapi bukan senyum mengejek seperti awal kali ini senyum kedua nya adalah senyum manis yang dalam artian memuji suara emas kedua nya.


Cia sesekali melirik ke arah pelaminan begitu juga Denis, tapi di beberapa bait saat mereka bernyanyi ada sesekali mereka saling curi pandang, entah kenapa kedua nya seperti sudah saling mengenal.


Selesai bernyanyi kedua nya mengucapkan terimakasih karena telah diperhatikan, turun dengan bersamaan dan tangan yang masih bertautan menjadi bahan gosip untuk Ersa yang sedang memperhatikan dari meja VIP.


"Enak banget ya punya gandengan dan bikin gue dilanda kejombloan yang haqiqi" gerutu Ersa tanpa menyadari ada yang duduk di samping nya yang fokus pada ponsel genggam.


"Bukan cuma lo doang yang jomblo disini, gue juga jomblo" cetus pemuda itu mendengar gerutuan Ersa yang seperti gumaman tapi untung nya telinga pemuda itu tajam.


Ersa tersentak kaget dan spontan menoleh ke sumber suara, lalu menatap pemuda itu dengan alis sebelah naik dengan tinggi.


"Lo siapa? Sok sksd!" acuh Ersa kembali memutar kepala nya menghadap depan seperti tadi.


"Gue sahabat mempelai cowok nya, lo pasti sahabat istri Barra kan?" jelas Adnan dengan tampang santai.


"Barra? Siapa Barra?" tanya Ersa tak kenal dan tak familiar dengan nama itu.


Adnan menepuk jidat nya sendiri dengan pelan merasa bod*h karena sudah dipastikan sahabat Jihan tak mengetahui nama Barra bahkan bertemu seperti nya baru hari ini.


"Itu orang nya." telunjuk Adnan mengarah pada Barra yang sedang menyalami para tamu dengan wajah penuh senyum walau tipis tapi menyiratkan kebahagiaan karena terlihat dari mata binaran.


Ersa mangut-mangut paham setelah tahu siapa nama suami Jihan, karena memang sedari tadi malam saat Jihan memberitahu kalau dia akan menikah dia hanya berkata kalau cowok itu tampan dan memiliki sahabat yang sama seperti kalian, hanya seperti itu layak nya ambigu yang membuat penasaran.

__ADS_1


"Lo.. Jomblo karena apa? Kalo gue liat liat nih ya, lo tuh cantik kok, imut juga muka lo, tapi kenapa ga ada yang mau sama lo?" tanya Adnan menyiratkan kata ejekan di gendang telinga Ersa.


"Ga tau." jawab Ersa singkat, tapi membuat Adnan mangut mangut mengerti kenapa gadis di samping nya ini jomblo yaitu karena sifat nya yang cuek dan irit bicara bahkan sedingin es kiko, kiko enak tau.


"Temen temen lo pada kemana?" tanya Adnan basa basi, entah ada dengan nya yang terlihat tertarik untuk mengajak Ersa untuk berbicara padahal kenal nama pun belum tapi sudah mencoba bahas sana bahas sini.


"Makan, maybe." jawab Ersa tanpa menatap sang pembicara yang bagi nya mengganggu nya dengan pembahasan yang paling Ersa jarang lakukan, bahkan dengan ketiga sahabat nya pun juga jarang, dia akan berbicara seadanya.


'Berapa sih harga tu suara ampe singkat amat ngomong' batin Adnan geram.


"Kita belum kenalan. Hi, nama gue Adnan, nama lo?" dan inilah Adnan sekarang, dia mengulurkan tangan kanan berniat bersalaman layak nya orang yang baru pertama bertemu.


"Ersa" sungguh singkat dan cepat Ersa memperkenalkan nama nya tanpa ada niatan membalas uluran tangan Adnan.


Adnan pun segera menarik kembali tangan dan merutuki kebodohan nya bagaimana dia bisa lupa, gadis di depan nya ini cuek dan pasti nya pandai agama.


"Sorry, gue lupa" seru Adnan salah tingkah.


Ersa melirik ke wajah Adnan yang terlihat bersemu, tanpa sadar dia terkekeh pelan sembari geleng geleng kecil. Adnan terpaku saat melihat tingkah Ersa yang baru saja terjadi, sangat mudah membuat seorang gadis seperti Ersa tertawa ternyata.


Sementara di meja makan makanan manis.


Adiba berdiri bak model yang sedang berpose dengan posisi berdiri miring dan sebelah tangan menjadi tumpuan di meja, sementara tangan sebelah nya lagi yang tak bekerja hanya mengambil dan memberikan kepada mulut yang terima dengan suka rela.


Mata Adiba tak sengaja menangkap sebuah pudding yang hanya tersisa satu, pudding vanila yang dilumeri coklat beku dan di beri hiasan buah cerry di atas yang membuat Adiba menelan ludah.

__ADS_1


Tangan kanan nya yang terampil hendak mengambil piring pudding itu dengan gerakan lamban, saat tepat berada di piring pudding, tiba tiba tangan nya tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain yang hendak mengambil pudding itu juga.


Adiba dan pemuda itu saling pandang sengit, tak ada yang mau mengalah dalam memperebutkan pudding incaran kedua nya yang belum mereka rasa tapi sudah ludas dihabiskan para tamu dan hanya tersisa satu itu pun kedua nya sedang sangat sengit sengit nya dalam merebutkan pudding.


Gue ga bakal nyerah buat dapetin pudding incaran gue ini. Batin kedua nya penuh tekad.


"Apa lo? Ini pudding gue!" cetus Adiba memulai pembicaraan dengan mata memicing kan sengit kepada pemuda itu.


"Heh! Yang duluan pegang ni pudding itu gue! Jadi pudding ini punya gue!" sungut Azkan menatap balik sengit gadis berhijab di hadapan nya ini.


Karena posisi Adiba yang membelakangi pelaminan serta panggung, membuat Jihan dan Barra penasaran, bahkan mereka sampai menajamkan mata masing masing agar tau siapa yang sedang berdebat di meja dessert.


"Kata siapa? Gue udah dari tadi berdiri di sini, jadi pudding ini punya gue lah!" tak mau kalah dalam hal pudding.


Keduanya yang sama sama menyukai pudding membuat kedua nya tak mau mengalah bahkan tanpa mereka sadari pudding yang mereka rebutkan sudah berada di tangan seorang anak perempuan kecil.


Perdebatan terus terjadi hingga si bocil memanggil kedua nya dengan tampang tanpa dosa.


"Kak! Kakak ganteng dan kakak cantik ngapain berantem di sini? Della jadi sulit ambil garpu buat makan pudding nya nih" panggil si bocil dengan tanpa dosa. Adiba yang masih belum sadar apa yang ada di tangan si bocil langsung mengambilkan garpu pudding yang memang dipisah dari piring nya.


"Makasih kakak cantik" ucap si bocil langsung menerima garpu itu dan menusuk ke pudding lalu dipotong potong kecil kecil menggunakan garpu pudding itu dan melahap nya dengan santai.


Adiba mengangguk sekali sedangkan Azkan sudah menatap tajam si bocil, dia langsung terkoneksi karena si bocil menyebut pudding, sebelum itu dia menatap ke atangan nya yang memang sudah tidak ada lagi piring beserta pudding nya, hanya tersisa tangan kedua nya yang masih bersentuhan.


Ni cewek udah konek belum kalo tu pudding incaran udah di serobot ma bocil sailan itu. Batin Azkan menjerit.

__ADS_1


__ADS_2