Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 133


__ADS_3

Tengah Malam


Barra dan Jihan dalam perjalanan kembali ke rumah utama Arrazi, karna satpam rumah menelpon mengatakan Kakek Irfani sesak napas.


Tentu nya Bunda Lifah, Ayah Elan dan Dinda ikut menemani, hanya Ellena dan Diva yang tinggal dirumah karna mereka sudah terlelap.


"By calm down!" seru Jihan merasa Barra terlalu cepat melajukan mobil nya.


Barra yang sudah diliputi cemas mulai mengendalikan emosi nya, dia sadar dia membawa banyak nyawa bahkan ada satu nyawa yang belum pernah menyentuh dunia.


Jihan juga ikut cemas dengan keadaan Kakek Irfani, tapi dia berusaha untuk tetap tenang agar bayi dalam kandungan nya baik-baik saja.


Laju mobil sudah tak secepat tadi membuat Jihan bernapas lega sambil mengelus perut nya, napas nya tersenggal karna selama di kecepatan tinggi Jihan seperti tak bernapas.


"Maaf sayang, aku lupa kalo bawa banyak nyawa" ucap Barra mencoba fokus dengan jalanan.


"Oyy jangan lupa, ini dibelakang ada tiga orang juga loh" cetus Dinda membuat Bunda Lifah menatap tajam anak ketiga nya. Dinda cengir kuda dengan mata sayu nya.


"Maaf Kak, panik tadi" balas Barra melirik sekilas dari kaca mobil.


"Gak apa-apa kok Bar, orang panik emang gitu" sahut Ayah Elan ikut nimbrung.


"Kak Din, tumben gak kalem? biasa nya kalem nya ya allah banget, kok sekarang kayak lagi bawa Kak Diva ya" cetus Jihan menoleh ke belakang memastikan yang dibawa ialah tubuh Dinda bukan Diva.


"Dah lah, serba salah jadi Dinda, kalem salah, cerewet salah" gerutu Dinda cemberut dan bersedikap dada.


"Uuuuuuu.. Dinda jangan marah marah, takut nanti lekas tua, kanda setia-" suara Jihan bersenandung dan terhenti karna Bunda Lifah menyahuti.


"Jihan.. Bisa-bisanya lagi kayak malah nyanyi" sahut Bunda Lifah memotong senandung Jihan.


"Ya kan biar terlalu panik Bun" balas Jihan mendapat anggukan setuju dari Ayah Elan dan juga Dinda yang sependapat.

__ADS_1


Bunda Lifah pun diam dan membiarkan tanpa tanggapan, mata Bunda setengah tertutup makanya Bunda kesal.


Barra hanya tersenyum tipis sekilas melirik Jihan yang berada di samping nya, yang selalu ada di dekat nya menguatkan dirinya.


Kalo bukan karna dia mungkin sekarang akan terjadi salip menyalip di jalan hahaha.


___


"Gimana keadaan Kakek Nek?" tanya Barra berada di hadapan Nenek Naira yang berada di depan pintu kamar yang tertutup.


"Masih di periksa dokter" jawab Nenek Naira dengan pelan, Barra segera mendekap tubuh Nenek Naira yang sedikit keriput.


Beberapa menit menunggu di depan pintu kamar, akhirnya dokter keluar dengan raut yang tak bisa dijelaskan.


"Bar, Kakek mau bicara sama kamu" ucap dokter Alwi, dokter keluarga Arrazi.


"Cuma sama aku om? nenek?" tanya Barra memang sudah akrab dengan dokter Alwi.


Dokter Alwi, Jihan dan yang lain hanya menunggu di depan pintu memperhatikan satu keluarga yang sedang berkumpul.


Entah apa yang dibicarakan oleh Kakek Irfani kepada Barra dan Nenek Naira, Jihan tak bisa menguping.


___


"Barra, cucu ku sayang bisa.. kamu ambil alih semua aset milik Kakek.. semua yang kita miliki adalah.. milik mu sekarang"


"Tapi Barra punya perusahaan dan keuangan Barra sendiri Kek, itu kan usaha Kakek bukan usaha Barra"


"Dengarkan dulu dasar cucu nakal!.."


Barra cengir kuda tipis dan diam menyimak apa yang akan dibicarakan oleh Kakek Irfani selanjutnya.

__ADS_1


"Kakek minta tolong kamu jaga baik-baik Nenek dan istri mu.." Kakek Irfani melirik Jihan yang berada di depan kamar tipis.


"Waktu Kakek sudah tidak banyak lagi.. Mama Papa kamu sudah menunggu Kakek.. Kakek bangga punya cucu seperti kamu Barra.."


"Kakek ngomong apa sih.. Jangan ngomong yang enggak-enggak Kek" tutur Nenek Naira mulai menitikkan air mata lagi.


"Tetap tersenyum, jangan sering menangis.. Menangis boleh tapi jangan berlebihan ya berlian ku.."


Nenek Naira menggeleng dengan air mata yang terus keluar, Barra mencoba menguatkan Nenek nya dengan diam mencerna.


"Jihan.." panggil Kakek Irfani.


"Iya Kek?" sahut Jihan langsung mendekati tempat tidur Kakek Irfani dan berjongkok dengan tatapan cemas pada Kakek Irfani.


"Kamu masih ingat pesan Kakek kan nak?" tanya Kakek Irfani dengan tersenyum manis sambil mengelus lembut kerudung Jihan.


Jihan mengangguk tanpa suara, dia sekuat tenaga menahan tangis agar tidak keluar.


"Anak baik, jaga kandungan mu ya nak.. Jangan terlalu banyak pikiran tentunya.. Mama Papa suami mu tersenyum tau.. karna anak mereka bisa memiliki istri secantik dirimu.."


Jihan hanya tersenyum dengan menunduk sekilas agar tidak ada melihat air mata yang jatuh.


Hingga akhirnya napas Kakek Irfani mulai tersenggal lagi, dan semakin sering beliau melafalkan basmalah.


Sampai..


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" cetus dokter Alwi membuat Barra, Jihan, dan Nenek Naira mendongak menatap tak percaya Kakek Irfani.


Ketiga nya hanya diam membeku dan tak bisa mengatakan apapun, kepala keluarga dirumah ini telah tiada.


Kurang sad ya, yaiyalah author aja lagi gak bisa mikir tapi maksa buat menghalu jadi gini🙂

__ADS_1


__ADS_2