
Seminggu sudah ujian nasional berlangsung, selama itu juga Jihan tak berkumpul bersama ketiga sahabat nya, paling berkumpul hanya saat disekolah, tak seperti Barra yang tiap hari ke Bscamp sekedar main.
Walau Barra sering keluar apartemen, Jihan tak pernah curiga karena Barra akan pamit bila hendak keluar, dan pasti nya jujur.
Kini, Jihan sedang duduk di balkon apartemen seorang diri, dia baru saja selesai sholat isya berjamaah dengan Barra.
Bila bertanya dimana Barra? ya sedang berada di dapur membuat coklat panas untuk nya dan sang istri, rutinitas diwaktu malam ya minum coklat panas.
Barra menaiki tangga dengan nampan yang berisi dua cangkir coklat panas dan wafer yang tersedia di kulkas.
Terlihat Jihan sedang melamun dengan tatapan lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan oleh Jihan, Barra tidak tau.
Karena balkon tak satu tempat dengan kamar, jadi balkon sangat jarang didatangi, Barra duduk di samping Jihan yang seperti nya tak menyadari kehadiran Barra.
Barra menjentikkan jari nya di depan wajah Jihan dan membuat Jihan sedikit tersentak kaget lalu menoleh ke samping dimana Barra duduk.
"Kenapa melamun hm?" tanya Barra lembut.
Jihan menggeleng lirih dengan senyuman, lalu kembali menatap gedung gedung tinggi yang berhias lampu malam yang begitu bagus.
"Gue cuma takut aja, kalo aku gak lulus" jawab Jihan dengan jujur. Barra menghembuskan napas pelan.
"Yank, lo tu semingguan full gak ada kumpul bareng sama Cia, Adiba, dan Ersa itu buat belajar kan? masa kamu masih takut sih kalo lo gak lulus, gue aja yang cuma belajar beberapa menit b aja tuh" balas Barra membuat mata Jihan melirik sekilas.
"Ya itu karna lo terlampau santai" kesal Jihan menyentil jidat Barra membuat si empu meringis kecil sambil mengusap jidat nya yang sebenarnya geli.
"Yang penting kan dah belajar" sahut Barra enteng. Jihan geleng geleng kepala melihat tingkah sang suami yang begitu santai tanpa rasa takut seperti diri nya.
___
__ADS_1
Sebulan telah terlewati, kini pengumuman yang paling di tunggu tunggu oleh murid kelas 12, para murid harap-harap cemas karena takut tidak lulus dan harus menetap satu tahun lagi.
Pengumuman itu diadakan di aula SMA Merdeka, karena pemilik sekolah menengah atas yang hanya berjarak ratusan meter itu sama, jadi pemilik sekolah memutuskan untuk mengumumkan nya di satu tempat bersama para guru dari SMA Merdeka dan Dharma Bakti.
Jihan dkk, melangkah masuk ke area lapangan SMA Merdeka, untuk Jihan dan Adiba mereka sudah pernah ke sini, bahkan Cia pun sudah pernah karena Rangga mantan nya juga satu sekolah dengan Denis.
Tapi, untuk Ersa, dia baru pertama kali datang ke SMA Merdeka. Denah nya hampir sama tapi ada sedikit perbedaan pasti nya.
"Ji, lakik lo dimana?" tanya Adiba celangak celunguk ke kanan dan ke kiri.
Jihan mengedik bahu tak tau. "Paling lagi ngumpul ma kawan kawan nya" jawab Jihan menebak.
"Lah emang tadi lo berangkat bareng siapa? gak mungkin kan lo berangkat ma cowok lain" tanya Adiba masih belum connect.
Tuk
"Heh sembarangan kalo ngomong! gue tadi berangkat ma dia kok.. tapi kan tadi kita dari sekolah oon! kan pasti nya pisah jalan lah, gimana sih lo?" kesal Jihan setelah menggetok kepala Adiba keras membuat Adiba meringis.
Jihan tak menanggapi ringisan Adiba, begitu juga Cia dan Ersa yang sedari tadi hanya diam menyimak sesekali saling pandang.
"Kek bodyguard mereka kita anjir" bisik Cia pada Ersa yang berada di samping nya.
Bagaimana tidak? posisi Cia dan Ersa berada di belakang Jihan dan Adiba yang asik berdebat, layak nya penjaga yang berbadan kekar.
"Dih lo aja, gue mah ogah" tolak Ersa ikut berbisik dengan datar, tapi mendapat cubitan kecil di lengan nya, dan pasti nya itu ulah Cia.
Ersa menatap tajam pada Cia, walau cubitan nya kecil tapi menyakitkan, dan Ersa tak mungkin berteriak karena pasti dia akan menjadi sorotan para murid.
Cia membalas tatapan Ersa dengan tatapan tak bersalah. Ersa menukik alis nya hingga hampir bertemu, tapi seketika alis nya tak jadi menukik karna suara seseorang yang begitu familiar.
__ADS_1
"Yow! ngapain pada kesini?" tanya seorang cowok berbadan tegap dari arah depan berjalan ke arah keempat gadis itu.
Ersa sedikit memiringkan wajah nya, dan terlihat Adnan. Sedang melangkah diikuti ketiga cowok di belakang layak nya bodyguard.
"Ci, bodyguard Adnan lebih banyak" cicit Ersa dengan polos, tapi membuat Cia tergelak.
"Heh! Asem jawa, itu bukan bodyguard tapi Barra, Azkan, sama pacar gue" ucap Cia masih tawa, tapi Ersa dengan cengo nya kembali menatap ke depan.
"Berubah profesi kah mereka?" tanya Ersa dengan polos nya, malah menambah tawa Cia, untung nya tawa Cia tawa yang membuat semua kagum bukan jijik.
"Otak lo kok tiba tiba kek Adiba sih, lemot" cibir Cia menggetok beberapa kali kepala Ersa dari samping.
"Heh napa jadi bawa bawa gue semprul?!" sahut Adiba tak terima nama nya di bawa bawa dalam cibiran Cia. Cia memeletkan lidah nya pada Adiba.
Banyak yang memperhatikan kedelapan manusia yang sedang berkumpul di pinggir lapangan, tepat di bawah pohon hijau dan lebat itu.
Tapi tak dihiraukan oleh para manusia itu, karna mereka asik mengobrol bersama, ditambah Jihan yang sudah lama tak berkumpul.
Barra dan Denis duduk bersandar di pohon dengan beralaskan rumput liar yang hijau, sedangkan Azkan duduk di lapangan nya, asal tak terkena sinar matahari itu pikir Azkan, dan Adnan.. Cowok satu itu telengkup dengan bantalan jaket Ersa.
Cia asik mencabuti rumput, Jihan memperhatikan sekitar, Ersa yang memainkan ponsel, dan Adiba yang hanya nyemil sedari tadi.
Hingga..
"Hai Ci" seseorang datang menyapa, tapi yang dia sapa hanya Cia yang menunduk mencabuti rumput, karena bosan.
Cia merasa dirinya dipanggil pun menoleh, dan..
Deg
__ADS_1
"Rangga?"