
Setelah makan malam, Barra diantar kan pulang oleh Ayah Bunda menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Ayah Elan, Bunda di samping kemudi, sedangkan Jihan bersama Barra di kursi tengah dengan saling memberi jarak dan rasa canggung yang tiba-tiba melanda.
Kali ini Bunda Lifah diam tak bersuara saat berada dalam mobil, pikiran larut kesana kemari, Ayah Elan fokus dengan jalanan sesekali menghidupkan klakson karena pengendara lain yang selalu mengambil jalan Ayah Elan yang mengendarai dengan kecepatan diatas rata-rata.
Bunda Lifah menatap ke samping melihat jalanan saat malam sambil memikirkan sesuatu yang sangat ingin Bunda Lifah utarakan pada sang suami.
Pada saat di lalu lintas, warna lampu berubah jadi merah dan terpaksa Ayah Elan berhenti secara mendadak tapi tak membuat kaget penumpang yang ada di dalam salah satu nya Bunda yang melamun.
'Apa aku jodohkan saja Jihan dengan Barra? Walau Barra irit bicara tapi seperti nya dia memiliki rasa sama Jihan, hanya saja dia pendam sendiri tanpa berniat mengungkapkan secara terang-terangan, takut ditolak, tatapan lembut tapi tajam saat mata Barra menatap Jihan, apalagi tadi saat makan mereka seperti saling curi pandang satu sama lain.' batin Bunda Lifah mengetahui interaksi antara Jihan dan Barra saat makan di restoran tadi.
'Tapi apa mereka mau ya dijodohkan? Diusia muda, tapi aku ingin melamar Barra menjadi menantu ku secepat nya, kalau Jihan menolak perjodohan ini bagaimana? Dan Barra juga? Haduh! Aku butuh dukungan dari Ayah tentang ini agar kedua nya tidak bisa menolak' batin Bunda Lifah lagi keukeh dengan keputusan nya.
Ayah Elan yang melirik sekilas istri nya yang berada di sebelah nya dengan tatapan heran, sangat jarang Bunda melamun bahkan diam pasti ada yang sedang dipikirkan oleh Bunda, pikir Ayah Elan peka.
__ADS_1
___
Ayah Elan, Bunda Lifah, dan Jihan sudah sampai rumah setelah mengantar Barra ke apartemen, lebih tepat nya di depan komplek apartemen elit karena permintaan Barra dan Ayah Elan tak bisa membantah.
"Jihan langsung ke kamar" pamit Jihan berlalu setelah mendapat anggukan sekali dari Bunda Lifah dan senyuman hangat dari Ayah Elan.
Sepeninggalnya Jihan, Ayah Elan merangkul pundak Bunda Lifah agar istri nya fokus pada jalan, hingga sampai di kamar tangan Ayah Elan masih bertengger di pundak Bunda Lifah.
Kriett
"Bunda kenapa? Kok dari kita pulang dari restoran Jepang langsung melamun sih? Apa yang Bunda pikirin hm?" tanya Ayah Elan beruntun saat sudah mendudukkan Bunda Lifah di ranjang yang selalu menjadi saksi bisu untuk melakukan cuap cuap.
"Em.. Yah, Ayah suka ga sama Barra?" tanya Bunda Lifah, bukan nya menjawab Bunda Lifahmalah balik tanya yang membuat Ayah Elan mengernyit alis bingung.
__ADS_1
"Ayah ga suka," jawab Ayah Elan singkat tanpa beban.
"Lho kenapa? Barra kan anak nya baik, sopan, ya walau irit sih ngomong nya, tapi masih di jawab kok kalo ada pertanyaan buat dia," protes Bunda Lifah bersedikap dada tak terima.
"Emang Bunda mau punya suami gay?" tanya Ayah Elan polos dan sedikit mengangkat dagu bertanya.
Bunda Lifah menepuk jidat nya merasa salah bicara dan membuat Ayah Elan salah mengartikan pertanyaan itu.
"Bukan itu ih Ayah. Maksud Bunda tu Ayah suka ga sama sifat Barra bukan berarti suka dalam arti itu ya, siapa juga yang mau punya suami gay?" jelas Bunda Lifah kesal.
"Ohh. Gitu toh, kirain suka yang kayak anak remaja gitu. Emm, kalo Ayah sendiri sih, suka sama kelakuan Barra, keliatan Barra itu anak nya baik, sopan, dan dingin datar sama irit, tapi dia punya etika bagus sih bagus Ayah suka, emang kenapa Bun?" jawab dan tanya Ayah Elan merasa heran kenapa sang istri membicarakan Barra.
"Nah kan! Ayah aja suka, berarti Ayah harus bantu Bunda" seru Bunda Lifah antusias mendapat point yang paling tinggi, dan pasti nya Jihan maupun Barra tak bisa menolak lagi.
__ADS_1
"Bantu apa?" tanya Ayah Elan mengernyit alis bingung.
"Bantu Bunda buat jodohin Jihan dan Barra, biar mereka ga bisa nolak lagi" jawab Bunda Lifah semangat.