
Seluruh gangster di kota itu telah berkumpul tepat pukul 12 malam untuk menyaksi kan pertandingan gangster milik Barra yang akan melawan gangster lain yang ikut bertanding.
Gangster Barra sudah pasti di wakil kan oleh si ketua gangster terkuat dan terseram di kota itu, Barra. Gangster nomor satu yang paling badung dan tak pandang bulu sama sekali.
HORSE BLACK, itu lah nama gangster yang paling di segani oleh penduduk kota itu, dan untuk ketua nya selalu di rahasia identitas nya agar tak membawa pihak keluarga atau bahkan kerabat terdekat.
Motor sport Barra bersampingan dengan motor sport yang menjadi bahan gosip di arena untuk malam ini, karena motor sport keluaran terbaru yang harga bisa mencapai puluhan miliyar.
Seorang wanita seksi membunyi kan peluit tanda bersiap untuk bertanding, para peserta pertandingan mulai menaiki motor sport masing masing dengan jaket bertulisan gangster masing masing.
Sekitar tujuh peserta yang ikut dan semua dari klane yang berbeda beda dan pasti nya sangat di segani, tapi lebih di segani gangster Barra yang memang hantu mafia.
Wanita yang berpakaian seksi dengan rok sangat sangat pendek itu maju dengan angkuh dan anggun ke tengah tengah arena sambil membawa bendera.
Brum brumm
Bunyi mesin dari setiap motor sport menanda kan mereka sudah siap untuk melaju dengan kecepatan tinggi, para anggota gangster mereka yang lain ikut bersorak menyemangati para peserta yang mana anggota mereka.
Wanita itu menaruh satu tangan di pinggang dan satu tangan yang lain mengangkat bendera tinggi memperlihatkan ketiak yang putih bersih dan mulus.
"Siap?" tanya wanita itu berteriak sensual.
__ADS_1
Brum brumm
Tanda siap sudah dibunyi kan lewat gas motor sport sebagai jawaban masing masing, kada helm fullface mereka pun satu persatu mulai tertutup dengan rapat.
"Satu.."
"Dua.."
"Tiga.. Go!!"
Wanita seksi itu menaik turun kan bendera ke atas dan ke bawah yang berarti mulai, dan tujuh mesin yang berbunyi nyaring di hadapan nya itu pun melaju dengan kecepatan masing masing.
Barra melaju dengan kecepatan sedang bahkan terbilang santai, banyak menyalip nya tapi berakhir jatuh karena salah sendiri tidak melihat jalan yang berbelok.
"Berkurang satu" gumam Barra geleng geleng kepala saat melewati lawan balapan nya yang terjatuh bahkan tak sadar kan diri.
Di depan Barra ada dua motor sport yang saling bentrokan seperti ada kebencian lain, yang membuat Barra harus lebih waspada karena posisi tepat di belakang dua pengendara itu.
Mencoba berpikir bagaimana agar bisa melewati dua pengendara itu tanpa harus ngebut, karena trik yang dia gunakan bukan sekarang tapi nanti setelah hampir mencapai garis akhir.
Dan kali ini ide Barra yang akan dia lakukan hanya biasa bagi nya, atraksi yang sering di perlihat kan bersama anggota HORSE BLACK yang memang memiliki toleransi minus nol dan sangar lebih dari seratus persen.
__ADS_1
Seketika Barra menarik setang motor nya ke atas dan adegan berbahaya pun terjadi, tapi untung lah Barra orang propesional yang sudah ahli dalam melakukan adegan itu.
(Pernah lihat sinetron 'Anak Jalanan'? Nah seperti itu lah sekarang adegan berbahaya itu)
Dua pengendara itu menoleh ke samping dan rem mendadak bersama lalu saling pandang, tanpa menyadari Barra yang sudah menyalip dan jauh di depan mereka.
"Hebat juga ketus nya gangster HB ya? Bisa kayak gitu, coba ketua gangster gue mana bisa gitu" cetus pengendara di sebelah kiri yang memuji keahlian Barra.
"Iya, ketua gangster gue juga.. Eh? Kok kita malah ngobrol sih? Yok lah ngebut! Keduluan ma ketua gangster HB tuh!" balas pengendara di sebelah nya lagi menancap gas lagi dan ngebut mengejar Barra yang sudah jauh di depan.
"Lah si bege! Gue di tinggal, emang ya nasip gue selalu di tinggal mulu" keluh pengendara yang di tinggal pergi oleh partner gangster nya.
___
Jihan mondar mandir di dalam kamar dengan tampang khawatir, sudah jam 12.45 malam tapi Barra belum juga pulang, pikiran negatif Jihan bersarang di otak Jihan.
"Kok Barra belum balik balik juga ya? Apa Barra kecelakaan lagi, haduhh!! Nauzubillah min zallik deh moga pikiran gue salah, ya allah lindungi lah Barra, hamba masih belum ingin jadi janda perawan" oceh Jihan pelan.
"Tau ah! Bukan urusan gue" seru Jihan mengangkat tangan pertanda don't care dan lebih baik berbaring di ranjang yang sudah berbeda dari kasur nya dulu sewaktu masih sendiri.
Jihan kembali tertidur walau tak nyenyak, karena pikiran nya masih khawatir dengan keadaan Barra sekarang.
__ADS_1