
"Seriusan lo Bar? Gak bohong kan?" tanya Adnan dengan nada khawatir.
"Anjay Barra bohong, dokter yang bohong" cetus Denis niat nya mencairkan suasana, dengan candaan.
"Heh diem lu Nis! Lagi panik gini malah lu tambah keruh ni keadaan" tegur Azkan dengan tatapan tajam pada Denis di belakang yang hanya cengir kuda menampilkan dua jari.
"Just kid bro" gumam Denis membuat Adnan yang di samping menggeleng kepala.
___
Barra berlari diikuti ketiga teman nya yang sama khawatir nya dengan nya, sepanjang koridor rumah sakit pikiran Barra sudah berkelana yang malah membuat nya makin kalang kabut.
Hingga di sebuah UGD terlihat seorang wanita paruh baya duduk ditemani wanita paruh baya lain, dan Barra sangat mengenali kedua orang itu.
Barra kembali berlari dan langsung disambut pelukan kesedihan dari Nenek Naira.
"Maaf Barra, Nenek tidak bisa menjaga anak dan istri mu dengan baik saat dirumah, Nenek minta maaf" ucap Nenek Naira dalam pelukan Barra.
"Nenek tidak salah, jangan pernah merasa bersalah, Nenek sudah menjaga Jihan dengan baik kok, Barra yang lalai" sahut Barra tak ingin Nenek Naira merasa bersalah atas kejadian ini.
Barra dan Nenek Naira masih berpelukan saling menguatkan masing-masing. Azkan dengan tenang bertanya pada Bi Darmi orang yang menemani Nenek Naira.
"Bi, bisa cerita in kronologi nya?" tanya Azkan dengan pelan. Adnan dan Denis ikut mendengarkan cerita Bi Darmi tentang kejadian itu.
"Jadi gini den Azkan..." Bi Darmi mulai bercerita tanpa ditambah atau dikurang, diangguki Nenek Naira yang juga menjadi saksi jatuh duduk nya Jihan.
__ADS_1
"Jadi pelakunya pembantu baru itu?" suara berat Barra dengan raut emosi, tanpa ada yang melihat kedua tangan Barra terkepal dibawah.
"Bisa dibilang begitu den Barra, bagaimanapun dia yang berada di situ, bahkan saat itu sedang mengepel lantai" balas Bi Darmi diangguki Barra paham.
"Mengepel lantai saja masih sering lupa di peras air nya, bagaimana bisa jadi pembantu menetap" cibir Nenek Naira membuat Barra menatap Nenek nya curiga.
Nenek Naira yang mendapat tatapan curiga itu pun menghela napas. "Iya Nenek mengawasi nya dari awal dia bekerja dirumah, Nenek sudah menaruh curiga pada nya, tapi Nenek tidak tau akan terjadi hal seperti karna tidak bersih nya Laras bekerja" jelas Nenek Naira mengakui kegiatan nya selama setengah bulan ini.
"Biar Azkan yang urus" cetus Azkan dengan dingin, diiyakan oleh Barra.
Ceklek
Dokter keluar dengan raut sulit diartikan. Barra yang lebih dulu menghampiri dokter itu dan bertanya tentang keadaan Jihan di dalam.
"Alhamdulilah istri anda baik-baik saja, dan bayi dalam kandungan nya juga, untung nya cepat dibawa ke rumah sakit jika tidak pendarahan akan semakin banyak keluar" jelas dokter perempuan dengan senyuman yang seperti sudah kepala tiga.
"Apa saya boleh menjenguk istri saya dok?" tanya Barra tak sabar.
"Istri anda akan kami pindahkan ke ruang ICU karna harus dirawat sejenak di rumah sakit agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" jawab dokter itu.
"Ruang VIP" sahut Barra membuat dokter itu menatap nya sejenak kemudian mengangguk dan bersiap masuk kembali ke ruang UGD.
"Buset es batu ngomong sama es batu jadi gunung es" cetus Denis yang membuat Adnan tertawa ngakak.
___
__ADS_1
Jihan menatap Barra yang sibuk mengupas kan apel. "Yangg aku masih bisa ngupas apel sendiri padahal, gak harus dikupasin juga" ucap Jihan dengan mata sayu.
"Gak apa-apa sayang, ini gak sulit kok cuma ngupas apel.. Dan siap nih" jawab Barra memberikan sepotong apel dengan garpu.
Jihan membuka mulut menerima apel pemberian Barra. "Maaf ya karna keteledoran aku, kita hampir kehilangan dede bayi" cetus Jihan menatap lekat wajah Barra yang selalu terlihat tampan.
"Bukan kamu yang salah sayang, yang salah itu Laras, dia yang buat kamu jatuh" balas Barra sebenarnya tak ingin membahas tentang hal itu.
"Tapi aku juga salah disini, aku gak merhatiin lantai, padahal udah liat disitu Laras ngepel tapi main asal terobos, jadi deh jatuh" ucap Jihan membuat Barra menghela napas dan mengalah.
"Untung nya dede bayi kuat" balas Barra sembari mengelus perut setengah buncit itu.
"Kan bibit kamu, pasti kuat dong" sahut Jihan tersenyum simpul diikuti Barra yang terkekeh mendengar kata bibit.
"Kecebong nya Papa kuat banget, bahkan sekuat baju baja" ucap Barra mengundang tawa kecil Jihan.
"Harus kecebong kah?" tanya Jihan dengan tawa nya.
"Dede bayi itu berasal dari kecebong nya Papa, ****** punya Papa jadi serah Papa dong mau panggil dede kecebong" jawab Barra dengan santai.
"Udah siap banget ya jadi Papa" ucap Jihan dengan senyuman bahagia.
"Bahagia dong siapa yang gak bahagia coba, apalagi keturunan aku lahir dari rahim kamu, bahagia nya berkali-kali lipat" balas Barra dengan menatap lekat wajah Jihan dengan penuh kasih sayang.
"Makasih udah mau hadir di kehidupan ku, kamu adalah laki-laki yang penuh kesabaran saat menjaga ku, kamu satu untuk ku hingga aku mati" lirih Jihan tapi masih bisa di dengar Barra.
__ADS_1
Barra mengusap pipi Jihan dengan penuh kasih sayang. "Makasih juga karna telah mengisi warna dihidup ku yang suram ini, dan terimakasih telah menghadirkan sosok bayi dalam kandungan mu" balas Barra dengan tulus.
Keknya satu bab lagi deh bakalan tamat, hehe:)