
Cia dan Denis telah sampai di lapangan luas tanpa pengendara lalu lewat, karena mereka berada di bandara_- untung lah hari itu para pesawat sedang tidak beroperasi jadi lapangan begitu sepi.
Sebelum ke bandara tadi, Cia dan Denis sempat ke salon untuk memperbaiki pakaian dan segala macam seperti rambut, Cia memotong sedikit rambut hingga leher sedangkan Denis hampir sama dengan gaya rambut Barra.
Karena tujuan mereka adalah seperti menjadi Barra dan Cia sebagai selingkuhan nya. Yang pasti ini sudah direncanakan secara matang dan hampir membusuk, asek.
"Fotografer nya mana cok? lama amat dah" keluh Cia merasa gerah berada di atas motor dengan cuaca terik sore.
"Sabar napa, nih pake kipas ni aja biar lo gak kepanasan" balas Denis memberi kipas elektronik yang berukuran kecil dan bulat kepada Cia di belakang.
Cia pun memakai kipas itu sesekali juga mengarah angin nya pada Denis yang terlihat berkeringat. Hingga akhirnya fotografer yang Denis telpon datang dengan kamera yang tergantung di leher nya.
Cia hampir tergelak melihat fotografer yang Denis telpon ternyata seorang fotografer culun yang memakai kacamata bulat dan gigi atas maju ke depan.
"Hem. Uhuk uhuk.. Uhuk uhuk uhuk.. sorry sorry, tadi gegara minum es" kilah Cia berbohong di akhir karena dia tak mau menyakiti hati fotografer itu.
Fotografer itu mengangguk dengan tersenyum tak mempermasalahkan apa yang di ucapkan Cia, dia langsung percaya dengan apa yang diicapkan Cia.
Denis menghampiri fotografer itu setelah Cia turun dari motor, karena Cia memakai rok pendek jadilah Denis harus menutupi kaki mulus Cia dengan jaket yang dia pinjam pada Barra.
"Disini, saya cuma mau anda mengambil beberapa foto saya dengan pacar saya saat berkendara, tak perlu terlalu jelas, dari belakang saja, yang penting jelas" jelas Denis dengan sopan.
"Baik tuan, akan saya lakukan dengan baik" balas fotografer itu membuat Cia mengulum mulut nya ke dalam.
__ADS_1
Kering gak tuh gigi kelamaan di luar hihihi. Batin Cia cekikikan kecil.
Denis mengambil kembali jaket yang berada di pinggang Cia dengan tangan nya, dan memakai jaket itu bersiap naik ke motor diikuti Cia.
"Denis, sekalian aja yok foto lapangan nya nanti kalo udah beres rencana kita, biar jadi kenangan indah kalo gue pernah ke sini sama, lo" ucap Cia kepada Denis, kata terakhir nya sengaja dia lirihan agar Denis tak mendengar.
Tapi siapa sangka, Denis masih bisa mendengar jelas lirihan itu, dia pun tersenyum tipis. "Bukan kenangan tapi awal dari masa depan" cetus Denis membuat pipi Cia merona.
Tanpa mereka sadari ternyata fotografer sudah mengambil foto, tapi itu bukan dalam rencana jadi foto itu akan dia berikan pada Denis sebagai hiasan saja.
Banyak foto yang fotografer itu ambil, bahkan yang dalam rencana sudah selesai pun Denis meminta difoto lagi tapi bukan untuk di publish melainkan dijadikan pajangan di kamar dan wallpaper ponsel.
Foto yang membuat fotografer itu ikut tersenyum saat Denis dan Cia turun dari motor dan melangkah bersama ke arah lapangan luas, bunyi jepretan tak pernah sunyi di situ.
___
Dirumah Cia.
Jihan menatap langit sore yang diisi dengan awan dan burung burung yang berterbangan bebas di alam bebas tanpa ada penghalang.
Jihan merindukan pelukan hangat dan keusilan Barra, mengingat kenangan itu membuat nya tak kuat menahan air mata.
"Cia mana sih? lama amat ke perpus, ini ke perpus atau kencan dulu sih sama Denis?" gumam Jihan memperhatikan gerbang rumah Cia yang tinggi dan berwarna hitam itu masih tertutup.
__ADS_1
Hingga beberapa saat akhirnya terdengar bunyi motor yang begitu Jihan kenal, segera Jihan bangkit dari duduk nya di balkon untuk melihat benarkah orang dia rindukan datang.
Deg
Jihan mengembuskan napas pelan, suara motor nya saja sudah Jihan kenal apalagi bunyi decitan kecil saat Barra memiringkan tubuh nya saat tidur.
"Bukan dia" lirih Jihan tak bisa menahan air mata lagi untuk tidak menetes.
Dia ingin pulang, tapi Jihan belum ada mendengar kata maaf dari Barra, bahkan lewat pesan pun tak ada, bila saja Barra mengucapkan maaf pada Jihan lewat pesan ponsel tak apa, Jihan akan memaafkan yang penting Barra minta maaf.
Cia memasuki rumah nya setelah Denis pergi dengan motor Barra, karena mereka memang langsung pulang tak ingin kembali ke apartemen, maksudnya Cia karena dia tak ingin mata nya ternodai lagi.
Jihan meringkuk di balkon menutupi tangis nya, agar tidak di dengar oleh Cia, karena Cia sudah masuk ke dalam kamar dan sedang berganti baju.
"Ji, lo dimana?" suara Cia sedikit berteriak karena tak menemukan Jihan di dalam kamar.
"Balkon Ci" teriak Jihan dengan suara serak.
Cia langsung menghampiri Jihan dengan tatapan khawatir setelah mendengar suara Jihan yang seperti habis menangis.
Menangkup kedua pipi Jihan agar Jihan mendongak, dengan mata sembab Jihan menatap Cia yang menatap balik nya dengan tatapan khawatir.
"Lo kenapa? lo bisa cerita sama gue Ji" ucap Cia sebelum membawa Jihan ke dalam dekapan erat nya.
__ADS_1
"Gue kangen dia" lirih Jihan membuat Cia mengusap pelan rambut Jihan yang terurai bebas tanpa kerudung.