Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 66


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sudah berhari hari terlewati setelah dimana pertemuan Jihan dan Sessa di cafe mall yang membuat Jihan dan Barra cukup jarang mengobrol, Barra yang disibukkan dengan pekerjaan kantor yang ternyata sudah menumpuk dan Jihan yang memang banyak tugas sekolah.


Dimalam hari nya.


Jihan sedang mengerjakan tugas di meja belajar sedangkan Barra entah berada dimana, mungkin di kamar mandi karena telinga Jihan dapat mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.


Ada apa dia mandi jam segini? apa tidak akan sakit?. Batin Jihan melirik jam dinding yang menunjukkan angka sembilan tepat.


Walau Jihan dan Barra jarang berkomunikasi tapi masih ada rasa khawatir pada satu sama lain, mungkin mereka sudah saling cinta, tapi tak ada yang tau.


Ceklek


Kriett


Barra keluar dengan handuk yang hanya menutupi Vovo hingga lutut nya, dan juga handuk kecil untuk mengerikan rambut nya yang basah.


Jihan yang awal fokus pada buku di meja belajar, kini teralihkan ke pintu kamar mandi, Barra masih berdiri di ambang pintu kamar mandi tanpa ada niatan melangkah ke almari.


"Rak buku?" gumam Jihan tanpa sadar saat melihat perut kotak milik suami nya, bukan kah Jihan pernah melihat saat Barra dengan sengaja membuka baju dihadapan nya? tapi kenapa Jihan tak terpesona sedangkan sekarang? wah!.

__ADS_1


"Ngapain natap gue kayak gitu?" tanya Barra membuat Jihan sadar dari lamunan nya tentang perut kotak yang disebut rak buku itu.


"Siapa yang natap lo? dih kepedean" elak Jihan memalingkan wajah nya ke depan dan mencoba fokus pada buku di meja belajar, sedangkan Barra nampak tersenyum kecil melihat Jihan yang salah tingkah.


Ji! gue rindu dipeluk. Jerit Barra dalam hati, selama seminggu inilah dia tak mendapatkan pelukan hangat dari Jihan, walau biasanya dia yang memeluk Jihan tapi kali ini tak bisa karena Jihan menaruh guling sebagai batasan.


Dan aneh nya guling itu tak bergerak kemana mana, hanya diam di tempat tanpa jatuh atau tersingkir dari ranjang tengah, apa Jihan sudah menaruh jimat di dalam guling itu? pikir Barra nyeleneh.


Barra sengaja keluar tanpa mengenakan baju ganti, karena dia ingin mengetahui apa Jihan akan memperhatikannya atau tidak sama sekali, dan ternyata Jihan memperhatikannya.


Melangkah menuju almari yang bersebrangan dengan meja belajar milik Jihan, mengambil apa yang dia mau, dan saat membuka pintu almari bagian bawah, tempat pakaian dalam.


Tangan Barra cukup nakal dan memegang sebuah penutup gunung kembar yang sudah dia rindukan, dia dan Jihan sering berciuman dan yang paling ekstrim yaa Barra bermain di area dada, selebihnya mereka belum melakukan nya.


"Ehem.. ngapain tuh?" tanya Jihan di belakang Barra yang berjongkok, sebenarnya Jihan melewati Barra hendak ke toilet, tapi saat melihat apa yang dilakukan Barra membuat nya terhenti.


"Hah?! eng enggak ngapa ngapain" elak Barra seperti Jihan, mengambil boxer berwarna hitam polos dan menutup pintu almari bawah tanpa aba aba.


"Auws!" ringis Barra saat menutup pintu almari tanpa aba aba ternyata jari jempol kanan nya masih bertengger manis pintu almari bawah membuat jempol nya terjepit.


Jihan yang baru keluar dari toilet melihat apa yang Barra lakukan, tanpa ada niatan menolong, bukan tak ada niat menolong melainkan otak Jihan masih belum bekerja dengan baik.

__ADS_1


"Napa lo?" tanya Jihan mendekati Barra yang terduduk di lantai sambil meniup niup ibu jari yang merah dan bengkak, apa tadi Barra menutup pintu almari nya terlalu kencang ya hingga membuat jempol nya merah.


"Ngitung baut almari! lo enggak liat apa jempol gue kejepit" jawab Barra mendongak menatap Jihan di atas samping kiri nya, Jihan mangut mangut otak nya belum terkoneksi dengan baik.


Barra mendengus kesal setelah melihat apa tanggapan dari Jihan yang biasa saja tanpa ada rasa khawatir.


Ini bini gue atau bini tetangga sih? cuek amat dah, tolongin ngapah, ditiup kek atau dikecup gitu kek di sinetron sinetron biasa biar lebih romantis. Batin Barra cemberut.


Jihan melangkah melewati Barra, keluar dari kamar sebentar entah apa yang dia lakukan tapi itu membuat Barra terbaring pasrah sambil memegangi jempol nya yang berkedut nyeri.


Brak


Jihan kembali dengan menggebrak pintu membuat Barra terjungkal kaget dari lantai, dan terlihat ditangan Jihan ada sebuah kotak P3K.


"Makanya kalau nutup pintu almari tuh hati hati, perhatiin dulu sekitar, gitu" ucap Jihan sambil mendudukkan tubuhnya di lantai yang dingin.


"Kek mau nyebrang jalan ae harus perhatiin sekitar" cibir Barra memutar bola mata malas, Jihan tak menganggapi cibiran yang keluar dari mulut Barra.


Selesai mengobati jempol Barra yang memar dengan salep dan dibungkus kain putih sedikit, Jihan kembali berdiri niat nya menaruh kotak P3K di luar kamar, tapi tangan nya langsung dicekal oleh Barra hingga membuatnya kembali terduduk.


"Ap-" ucap Jihan terhenti karena sebuah benda kenyal mendarat di bibir nya.

__ADS_1


Cup


"Makasih dah ngobatin jempol gue yang enggak terlalu sakit ini"


__ADS_2