
Selama pelajaran di sekolah, Jihan tak fokus pada materi yang di ajarkan oleh guru di depan, dia memang tidak ke mading setelah mendengar lambe turah tadi menjelaskan cukup membuat nya emosi.
Siapa yang tidak marah, suami sendiri berboncengan dengan perempuan lain disaat keduanya sedang dalam masalah, apa itu bisa dinamakan setia?
"Aaaaaggghh!" teriak Jihan membuat seisi kelas 12 ips 3 menatap nya serempak dengan tatapan heran sekaligus terkejut.
Jihan tersadar setelah di senggol oleh Cia, dan memperhatikan sekeliling dan memang benar satu kelas terutama guru juga menatap nya heran.
"Maaf, tadi ada kecoa" kilah Jihan satu kelas pun mengalihkan pandangan lagi ke depan.
Jihan menghembuskan napas lelah, lelah dengan kehidupan nya yang rumit, padahal tak serumit kehidupan orang lain yang ada di luar sana.
Oh Jihan! cobalah berfikir dewasa! come on. Batin Jihan mencoba bertahan dengan kondisi nya seperti ini, dia harus memperbaiki masalah ini dengan suami nya, jangan sampai ada benang kusut lagi di kehidupan nya.
Waktu pulang telah tiba, Jihan bergegas menyimpan peralatan sekolah nya ke dalam tas sekolah yang biasa. Lalu menarik tangan Cia agar cepat pulang.
"Sabar Ji, lo kayak mau ketinggalan kereta aja deh" ucap Cia dengan santai, padahal hati nya begitu senang karena Jihan sepertinya sudah tak ingin berlama lama marahan dengan Barra.
Rencana gue sama Denis berhasil. Batin Cia berkibar.
"Cepet ih! gue tinggal nih" ancam Jihan membuat Cia menaikkan alis sebelah.
"Lo kalo mau ninggalin gue emang lo bisa nyetir tu mobil hm?" tanya Cia membuat Jihan terdiam beberapa detik lalu cengir kuda sambil cengengesan.
"Makanya cepetan ih! gue gak punya banyak waktu" balas Jihan uring uringan nya di depan Cia. Tatapan Jihan seakan sesuatu terjadi pada seseorang yang sangat ingin di temui nya.
Lo baik baik aja kan Bar selama gak ada gue di apart? bisa jadi kapal pecah tu apart kalo gue tinggal berbulan bulan, tapi keknya lo terlalu sehat deh sampe boncengan sama cewek lain, ishh. Batin Jihan geram diakhir.
"Ayok atuh, kok malah bengong lo, kesambet setan penghuni kelas baru tau rasa lo" cetus Cia menakut nakuti Jihan yang melamun.
"Eh paan dah! ayok"
___
Usai Maghrib.
__ADS_1
Jihan dan Cia duduk di sofa kamar Cia yang panjang, dengan sebuah buku dan pulpen di tangan masing masing. Keduanya sedang mengerjakan tugas yang harus diselesaikan dan dikumpul di jaringan pribadi atau japri wa online.
Setelah selesai mengerjakan tugas, keduanya mengobrol dengan santai hingga satu pembahasan membuat Jihan menunduk sedih.
"Lo kenapa gak mau balik ke apart?" tanya Cia dengan hati hati.
Jihan menghela napas pelan. "Lo ngusir gue gitu Ci? jahat lo sama temen sendiri juga, lo udah gak nyaman ya karena kehadiran gue gitu?" tanya Jihan balik merasa kalau Cia tak mengharapkan kedatangan nya.
"Eh bukan gitu ya tuhan, gue gak ngusir lo kok, gue cuma nanya aja lo gak mau gitu ke apart? barang sebentar jenguk Barra" jawab Cia menepis pikiran buruk dari Jihan.
"Jenguk? emang ngapain harus di jenguk? palingan dia lagi mesra mesraan sama cewek yang di berita itu" cebik Jihan mengalihkan pandangan ke samping.
Cia menghela napas. Buka satu rahasia gak papa kan ya? gak papa lah. Batin Cia ragu.
"Ji" panggil Cia dengan pelan.
"Hm apa?" sahut Jihan menoleh menatap wajah Cia yang nampak ragu ingin mengatakan sesuatu yang sangat ditutupi.
"Sebenarnya.. Barra.. Barra.." ucap Cia dengan gugup membuat Jihan semakin penasaran apalagi nama suami nya disebut terus oleh Cia.
"Tapi lo jangan marah ke gue, marah aja ke Barra nya langsung" ucap Cia sebelum mengatakan keadaan Barra pada Jihan. Jihan memutar bola malas tapi tetap mengangguk.
"Sebenarnya Barra.. Barra mabok Ji" lanjut Cia dengan cepat tapi masih bisa di dengar cerna oleh Jihan. Jihan nampak terdiam sebelum akhirnya tertawa renyah.
"Lo bohong kan? lo sama Barra udah bikin rencana kan kalo Barra mabok? biar gue mau balik lagi ke apart ya kan?" tebak Jihan dengan tawa renyah nya mengira ucapan Cia hanya bualan.
Cia menggeleng lemah. "Gue serius Ji! gue gak lagi becanda! ini real Jihan Safithri" sahut Cia dengan tampang serius menatap Jihan yang terdiam seketika.
Jihan menatap netra mata Cia yang nampak serius, tawa nya pun sudah hilang seketika, Jihan berpikir dengan otak bahwa itu hanya bualan semata tapi hati nya berkata ini benar benar nyata.
Drrt drrt
Ringtone ponsel iphone milik Cia bergetar, segera Cia bangkit dan mengambil ponsel nya yang berada di nakas dan melihat siapa yang menelpon nya di senja malam begini.
📞 Denis is calling...
__ADS_1
Cia: "Hallo"
Denis: "Ci, lo lagi bareng Jihan kan?"
Cia: "Iya, kenapa emang?"
Denis: "Suruh dia gitu pulang ke apart, badan Barra mendadak panas! dia ngigo nama Jihan mulu"
Cia: "Lo ngomong sendiri aja deh"
Denis: "Loudspeaker"
Cia segera meng-loudspeaker telpon itu agar Jihan dapat mendengar, sementara Jihan sedang meminum coklat panas yang dibawa Cia tadi.
Denis: "Udah kah Ci?"
Cia: "Hm"
Denis: "Eee buset, cuek amat dah.. eem.. Jihan, ini gue Denis tau lah pasti yakan n inget lah pasti ma gue, hehe gue cuma mau bilang aja ma lo, plis pulang ke apartemen, gue udah tahan jaga Barra, dia sakit trus ngigo nama lo terus, dan juga.. d-dia kemarin malam mabok Ji, dah itu aja.. plis pulang Ji, Barra butuh lo bulan butuh gue"
Ucap Denis dengan panjang lebar dan didengarkan oleh Jihan dan Cia tanpa suara sedikit pun, Jihan nampak sedang mencerna tiap kata yang dikeluarkan oleh Denis.
Denis: "Dah.. Barra ke balkon, weh Bar jan bundir ya tuhan! Ji pliss"
Tut
Denis mematikan sepihak membuat Jihan segera berdiri dari ranjang yang dia dan Cia tiduri berdua, dan berlari keluar kamar sebelum itu menyambet kerudung instan di sofa.
"Ji! lo mau kemana?" teriak Cia menatap punggung Jihan yang keluar dari kamar.
"Pulang" jawab Jihan masih terdengar ke dalam kamar Cia.
Cia menghembus napas lega, karena akhirnya Jihan pulang ke apartemen, biarlah pakaian dan peralatan sekolah Jihan besok baru diambil, yang penting Barra selamat.
***
__ADS_1
ɱααρƙҽυɳ ყα ɠαҽʂ, ƙҽɱαɾιɳ αυƚԋσɾ ɠαƙ υρ, ʂσαʅɳყα ʂιႦυƙ ɱα ԃσι ɱυʅυ, xιxι