Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 58


__ADS_3

"Ya sudah, sampai disini materi yang bapak kasih dan langsung di praktek kan, dan ingat jangan membuat kacau kelas selama bapak tinggal, Jihan dan Adiba akan menjadi pengawas sekaligus juri dalam praktek kali ini" jelas Pak Yanto panjang lebar.


"Iya pak" balas satu kelas serempak.


Pak Yanto segera pamit dengan tas selempang yang menyimpan beberapa buku dan laptop, jam pelajaran Pak Yanto hanya 3 jam, dan sudah 1 jam terlewatkan untuk menjelaskan materi, dan sisanya untuk praktek yang akan dilaksanakan.


Jihan dan Adiba bangkit dari kursi masing masing dan memerintah kan untuk seluruh siswa membuat kelompok dan membuat sebuah meja yang disatukan agar tau yang mana kelompok.


Jihan berjalan di sekitar dinding yang banyak bingkai seperti foto siswa, nama siswa yang ada di kelas, tugas piket perhari, dan kertas gambar yang begitu rapi berjajar.


Ternyata kelas ini rapi juga. Batin Jihan mangut mangut.


"Kelompok nya udah dibagi sama Pak Yanto kah?" tanya Adiba kepada murid kelas 12 ipa 1 yang sedang mempersiapkan alat tempur, untuk masak. aduhh traveling ya otak mu bund🤙.


"Udah," jawab satu kelas serempak.


"Diacak kah anggota nya?" kini giliran Jihan yang bertanya dan mendapat anggukan sekelas tanpa suara.


Jihan mangut mangut mengerti. Walau diacak pun Barra tetap sama kawan kawan nya. Batin Jihan memperhatikan anggota kelompok di tengah, kelompok sang suami.


"Kalian gue kasih waktu masak 60 menit, dengan dua menu" ucap Jihan spontan mendapat tatapan cengo dari satu kelas.


"Menu pertama itu makanan, dan menu yang kedua itu minuman nya, lu semua mau bikin kita mati gegara keselek?" Adiba menjelaskan karena seperti nya kelas 12 ipa 1 tak pernah melakukan praktek, apalagi praktek memasak.


Satu kelas langsung membulat mulut nya lalu mengangguk paham.


"Pertama kali nya praktek masak ada kelompok Barra dkk" cetus Ardi tanpa dosa mengatakan hal itu di depan orang yang dia bicarakan.


"Emang kenapa kalo gue ikut?" tanya Barra dengan suara yang berat dan tatapan tajam pada Ardi.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Ardi atau siapapun yang mewakili, kelas cukup hening hanya bunyi wajan dan benda benda yang terbuat dari besi itu saja yang menyebabkan suara.


Siapa yang berani menjawab? Barra! cowok kejam dengan hati dingin dan tak bisa diluluhkan oleh siapapun, kecuali gadis berhijab yang sedang duduk di bangku guru.


Jadi gini rasanya duduk dibangku guru?. Batin Jihan cekikikan.


Tawa kecil nan lucu itu dapat dilihat oleh Barra, HANYA BARRA! kenapa? jawaban nya simple, satu kelas sibuk menyiapkan bahan bahan seperti bumbu masakan atau peralatan untuk memasak, sedangkan Barra hanya ditugaskan menggoreng.


"Kenapa sih gue punya bini imut gitu" gumam Barra tak di dengar oleh siapapun kecuali para sahabat nya yang memiliki pendengaran tajam.


"Lu gak mau punya bini kek Jihan? yodah! buat gue aja" bisik Adnan menggoda Barra, dia ingin melihat betapa serius nya Barra menganggap Jihan sebagai istri, dan perkataan nya itu hanya bercanda tapi bagi Barra mungkin...

__ADS_1


Barra menatap tajam dan dingin kepada Adnan, emosi. Itulah kata yang pas untuk Barra saat ini, dia tak ingin apa yang milik dia berikan pada orang lain walau itu sahabat nya sendiri.


Kedua tangan mengepal di bawah tanpa terlihat siapapun, dia ingin sekali menghajar wajah Adnan yang terlihat santai sedang memotong bawang merah dan putih.


Bugh


Satu kelas dibuat kaget karena pukulan Barra tepat mengenai pipi kiri Adnan, Adnan yang tak siap mendapat pukulan dari Barra langsung tersungkur ke bawah sambil memegangi pipi nya yang baru dipukul.


"Weii.. lu kenapa Bar?" tanya Denis menghalang tubuh Barra yang hendak maju lagi, niat nya ingin menghajar lagi Adnan.


Satu kelas hanya bungkam diam tak bersuara, bahkan Jihan sampai mundur ke dinding akibat terkejut, sedangkan Adiba terlihat menyaksikan nya dengan langkah demi selangkah maju mendekati dimana Barra dkk berdiri.


Barra tak menanggapi pertanyaan Denis dia sudah terlalu emosi dengan candaan Adnan, untung pukulan Barra tak terlalu keras tapi berhasil membuat pipi kiri Adnan nyeri.


"Bar! lu kenapa sih? tiba tiba mukul orang tanpa alasan" cerocos Adiba yang bersedikap dada menatap wajah Barra yang merah padam.


"Shut up!" bentak Barra sebelum keluar dari kelas.


Adiba yang yang dibentak cukup takut tapi dia tetap berusaha tenang, lalu melirik Jihan yang berjongkok di dinding sambil memegangi jantung nya yang berdetak cepat.


Barra kenapa? apa yang buat Barra marah sampe sampe sahabat nya sendirj di pukul?. Batin Jihan terheran heran menatap kepergian Barra.


Fixs! lu cinta sama Jihan. Batin Adnan bersorak.


"Tadi kenapa lu bisa sampe dipukul sih?" tanya Azkan panasaran begitu juga teman sekelas nya yang juga manusia kepo tapi tak terlalu kepo seperti para readers_- ampun bund🙊.


"Gue cuma bercanda doang tadi, hehe" cengir kuda Adnan berikan di akhir kalimat nya, walau sedikit nyeri tapi dia berusaha kuncir kuda eh cengir kuda, maap bund😬.


"Becanda soal?" tanya Denis tambah penasaran, diantara yang lain manusia yang paling kepo ya, Denis Praditha.


Adnan membisikkan soal apa yang dia candakan pada Barra kepada Denis dan Azkan secara bergantian, detik berikut nya ketiga serempak menoleh ke arah pintu yang kembali terbuka dan ternyata Jihan keluar.


Diluar kelas.


Jihan setengah berlari kecil mencari keberadaan Barra, ini masih jam pelajaran tapi Barra sudah keluyuran.


Langkah Jihan tanpa sadar membawa ke toilet siswa yang berada di ujung, napas nya setengah tersenggal senggal dan dia pun berhenti dan sedikit menekuk lutut nya lalu mengatur napas agar teratur.


"Lo dimana sih Bar?" gumam Jihan setelah napas nya teratur dan kembali menenggak kan tubuh nya.


Tanpa aba aba, tangan kiri Jihan ditarik masuk ke dalam toilet siswa, hendak berteriak tapi mulut nya langsung di bekap oleh orang itu dari belakang.

__ADS_1


Mengunci salah satu toilet, dan hanya tersisa berdua di dalam toilet yang ukuran nya tak terlalu besar tak juga tak terlalu kecil, dengan satu closet yang pasti nya harum.


Jihan berontak, dia hampir menangis.


"Hey! ini gue" suara yang Jihan cari ternyata adalah orang yang menarik nya ke dalam toilet siswa tanpa mengatakan sesuatu.


Akhirnya Jihan tak berontak, Barra pun melepas bekapan tangan nya di mulut Jihan, lalu memutar tubuh Jihan agar berhadapan dengan nya.


Grep


Jihan langsung memeluk erat tubuh suami nya yang masih dalam keadaan marah tapi berusaha dia tahan. Barra pun membalas pelukan erat, hangat, dan nyaman dari istri cantik nya. makasih Bar, dah bilang gue cantik😋.


Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut kedua nya, hanya napas yang bersahutan.


"Kenapa lo emosi tadi?" tanya Jihan, akhir nya dia membuka suara dengan nada bergetar. Dia paling takut dengan bunyi pukulan yang pertama kali di dengar nya saat pertemuan pertama kedua nya yang menyebabkan Arya patah tulang.


"Hm" hanya deheman yang keluar dari mulut Barra.


Jihan melonggarkan pelukan nya agar bisa menatap wajah Barra yang lebih tinggi dibanding diri nya. apalah daya jadi bocil🙄.


"Gue gak tau kenapa lo tadi emosi sampe pukul Adnan. but, gue mohon tahan emosi lo biar gak kayak tadi, ini masih jam pelajaran, gue gak mau kelas lain keganggu akibat keributan di dalam kelas lo tadi" sewot Jihan dengan bibir sesekali melengkung ke bawah, pertanda hendak menangis.


"Hanya.. ahh sudah lah! sekarang gue pengen lo peluk lagi, gue butuh energi setelah tadi mukul Adnan dan tembok" ucap Barra mengalihkan pembicaraan nya.


Jihan memukul dada bidang Barra yang tertutup seragam dengan pelan, lalu mencerna kalimat akhir 'tembok' WHATT?!..


"Barra tembok gak salah kenapa lo pukul sih?" protes Jihan celangak celunguk ke kanan dan ke kiri mencari dinding yang baru saja mencari pelampiasan emosi Barra.


Barra terkekeh. Lalu telunjuk nya menunjuk ke arah belakang nya sendiri, Jihan pun melirik dan terlihat tembok yang sedikit retak, ingat SEDIKIT RETAK.


Plak


Geplakan pelan diterima Barra dari Jihan, bagi Barra itu bukan geplakan melainkan pijitan yang lembut.


"Peluk lagi boleh gak? biar gue bisa nahan emosi gue" ini bukan pertanyaan melainkan permintaan, dan Jihan menjawab dengan senyum manis dan anggukan.


Mereka berpelukan erat dengan senyum manis masing masing, Jihan dapat mendengar detak jantung Barra yang cepat dan kencang.


"Woii.. siapa yang didalam toilet?"


Deg

__ADS_1


__ADS_2