Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 93


__ADS_3

Empat Bulan Kemudian.


Setelah pertengkaran itu selesai, Jihan dan Barra pun semakin dekat dan bahkan tak jarang keduanya memamerkan kemesraan di depan para sahabat mereka.


Untuk Cia dan Denis kedua nya dalam masa pacaran, sedangkan Ersa dan Adnan masih layak orang asing lebih tepat nya Ersa karena hanya Adnan yang mengganggu Ersa saat bersama, dan untuk Adiba Azkan kedua nya dalam masa pendekatan yang Azkan butuh restu dari Umi Zahra dan Abi Dayat.


Hanya tersisa dua bulan lagi para murid kelas 12 akan melaksanakan ujian nasional yang akan menentukan apakah mereka akan lulus atau tidak lulus.


Kini, Jihan Barra dkk sedang berada di cafetaria dekat apartemen yang ditempati oleh Jihan dan Barra.


Cafe dengan nuansa pedesaan yang sangat kental, dan tempat duduk yang beralaskan karpet bulu yang tiap hari selalu di bersihkan dan tak ada noda sama sekali.


"Uhh capek sekali epribadeh" cetus Adiba meregangkan kedua lengan nya ke samping dan mengenai kepala Jihan dan Cia yang memang berada di kanan dan kiri nya.


"Tangan lo minggirin bojon!" ketus Jihan dan Cia menggeplak kepala Adiba secara bersamaan membuat Adiba mendapat dou kill dari kanan dan kiri nya.


Ersa yang di sebelah Cia hanya menatap ketiga dengan santai, berbeda dengan keempat cowok di depan mereka yang mengulum senyum, sepertinya hendak tertawa.


"Keluarin aja tawa lo pada" ucap Ersa melirik datar pada keempat cowok di depan mereka, Ersa sudah dapat mengetahui bagaimana respon orang lain saat melihat ketiga sahabat nya yang saling bertengkar.


Keempat cowok itu bukan nya tertawa malah berdehem menetralkan raut menjadi seperti biasa, membuat Ersa menaikkan sebelah alis nya heran.


"Kok gak ketawa? kalo lo pada ketawa gue nimbrung deh" ucap Ersa dengan kalimat panjang membuat Adnan lantas tertawa hambar karena tak ada lagi yang lucu.


Ketiga cowok lainnya hanya tertawa kecil layak nya kekehan hambar yang pasti nya mendapat tatapan tajam dari para cewek kecuali Ersa.

__ADS_1


Ersa tersenyum tipis melihat tawa Adnan yang begitu lucu tapi hambar, mungkin Ersa menyimpan perasaan nya sendiri tanpa mengumbar kepada siapapun.


___


Malamnya.


Ersa keluar dari rumah dengan pakaian rumahan, niat nya ke supermarket untuk membeli cemilan serta stok bulanan yang telah habis.


Berjalan kaki ke supermarket karena jarak supermarket dan rumah nya tak terlalu jauh, Ersa juga sudah izin pada kedua orang tua nya dan diizinkan.


Sesampai di supermarket, Ersa menatap bangunan itu dengan tatapan kesal, karena keberuntungan tidak memihak pada nya malam itu.


"Kenapa bisa tutup?" gerutu Ersa melanjutkan langkah nya lurus melewati supermarket yang tutup.


Di persimpangan jalan di komplek Ersa, terdapat beberapa cowok dengan motor masing masing dan begitu ramai dengan tawa di salah satu warung yang masih buka.


"Masa gue harus beli disitu sih? kan malu banyak cowok disana asyu!" gumam Ersa diakhiri umpatan kesal pada diri nya sendiri.


"Oke gak papa Er, lo pasti bisa, cuma beli roti hambar doang kok bukan mau ngopi plus plus" lanjut Ersa menyemangati diri nya agar tetap membeli apa yang dia cari di warung yang memang ada menjual barang pribadi perempuan yang tak lain adalah softek.


Ersa sudah berada di dekat warung itu, beberapa orang yang sedang nongkrong disana pun juga ada yang menatap nya.


Mana datar dingin lo Ersa?!. Batin Ersa merasa heran kenapa jantung nya berdegub kencang.


"Woy! Far cewek cakep noh, embat sana" celetuk cowok yang menatap Ersa sedari tadi mengkode teman yang berada duduk di depan nya.

__ADS_1


"Adik manis mau beli apa?" tanya cowok yang duduk dengan secangkir kopi di hadapan nya, menatap Ersa yang berdiri tak jauh dari tempat duduk nya itu.


Tapi Ersa tak menghiraukan pertanyaan dari cowok itu, dia mencoba dingin dan cuek seperti biasa. Walau ada raut gugup juga.


"Mbak, beli ini" ucap Ersa pada penjual wanita yang nampak nya berumuran 40 tahun keatas, dengan telunjuk yang menunjuk salah satu bungkusan softek.


Penjual wanita itu mengangguk dan mengambil apa yang ditunjuk oleh Ersa, setelah itu memberitahukan nominal harga barang itu.


"Adik manis lagi kedatangan tamu bulanan ya" ucap orang yang tadi bertanya bahkan kali ini cowok itu mendekati Ersa yang masih berdiri dengan kaku.


Ersa semakin takut saat ada yang mengelus paha nya yang tertutup celana rumahan longgar. Memejamkan mata bukan karena terangs*ng melainkan karena ketakutan.


Moga ada yang nolongin gue. Batin Ersa menjerit, hati nya menyebut nama Adnan secara berulang-ulang. Entah kenapa hati nya memanggil nama Adnan.


Srek


Prakk


Bugh


Ersa yang awalnya memejamkan mata nya kini membuka mata dan berbalik badan, mata nya membola saat melihat cowok yang berani menyentuh nya itu tergeletak di bawah.


Lalu mengalihkan pandangan nya ke orang yang berdiri tak jauh dari orang yang tergeletak di bawah.


Adnan?!. Batin Ersa.

__ADS_1


__ADS_2